The Ghost Prince

The Ghost Prince
Sekamar


__ADS_3

Reine masih belum mandi meskipun kini sudah waktunya dia untuk membersihkan tubuh. Dia merasa tidak tenang. Reine takut jika nanti dia mandi, Pangeran Dalson akan masuk ke dalam kamar mandi. Meskipun pria itu adalah suaminya, tetap saja dia tidak nyaman.


"Kenapa jadi begini? Sekarang aku harus bagaimana?" Reine beranjak dari kursi lalu berjalan ke kamar mandi. Belum juga masuk ke dalam, wanita itu kembali memutar tubuhnya. "Kenapa juga aku takut? Pangeran Dalson pasti sibuk mengurus semuanya. Bukankah sudah cukup lama dia meninggalkan istana? Pasti dia tidak akan kembali secepat itu."


Kali ini Reine semakin yakin untuk masuk ke dalam kamar mandi. Di dalam, wanita itu mendengus kesal karena pintu kamar mandi tidak ada kuncinya. Berbeda dengan pintu kamar mandi dikamarnya. Belum lagi perlengkapan di dalam kamar mandi itu semuanya milik Pangeran Dalson. Reine takut Pangeran Dalson akan marah jika dia menggunakannya.


"Sepertinya kali ini aku akan mandi tanpa sabun," gumam Reine sebelum membuka bajunya satu persatu. Melihat air hangat di dalam bak membuatnya tergugah untuk berendam. Selama di hutan dia tidak bisa berendam di air hangat.


Wanita itu melirik ke pintu lagi sebelum masuk dan bersandar. Dia menenggelamkan tubuhnya sampai ke dada. Aroma dari kelopak bunga membuat Reine menjadi tenang. Belum lagi memang di kamar mandi itu sudah ada lilin aroma terapi yang wanginya begitu menenangkan.


"Seperti berada di surga dunia. Kamar mandi ini sangat nyaman."


Reine memejamkan matanya secara perlahan. Hingga tidak lama kemudian wanita itu tertidur. Dia bahkan tidak sadar lagi kalau kini ada seseorang yang berdiri di belakangnya. Wanita berpakaian pelayan itu memegang sebuah pisau yang sangat tajam. Sepertinya dia memiliki niat jahat terhadap Reine.


Wanita itu melangkah secara perlahan. Tidak mau menimbulkan suara sedikitpun. Pisau yang ada di tangannya dia angkat ke udara. Ujung pisau itu sudah siap untuk menusuk punggung Reine.


"Selamat tinggal Permaisuri!" batin wanita itu sebelum melayangkan senjatanya ke tubuh Reine.


Wanita itu terbelalak kaget ketika seseorang memegang tangannya. Dengan gerakan yang sangat cepat, Pangeran Dalson memelintir leher wanita tersebut dan membunuhnya. Tidak menimbulkan suara sedikitpun. Ketika wanita itu telah tewas, Pangeran Dalson melemparkannya ke lantai.


Reine membuka matanya dan memandang ke belakang ketika mendengar suara orang terjatuh. Wanita itu panik bukan main melihat ada mayat di ruangan tersebut.

__ADS_1


"Apa yang terjadi?" Secara spontan Reine berdiri. Namun ketika dia sadar kalau dia tidak mengenakan busana, wanita itu kembali masuk ke dalam air.


Pangeran Dalson menghela napas kasar melihat tingkah laku istrinya. Pria itu melemparkan handuk sebelum pergi meninggalkan kamar mandi.


Reine memeluk handuk tersebut. Melihat ada pisau yang tergeletak di lantai membuatnya semakin takut. "Apa wanita ini ingin membunuhku?" batin Reine. Secepat mungkin Reine beranjak dari bak tersebut. Dia segera pergi meninggalkan kamar mandi.


Di kamar, Pangeran Dalson berdiri di depan meja kerjanya. Melihat Reine keluar dari kamar mandi membuat pria itu kembali menyibukkan diri. Dia bersikap seolah-olah Reine tidak ada dikamarnya.


"Apa anda yang sudah membunuh wanita itu?" tanya Reine penasaran.


"Baju gantimu sudah ada di meja," ucap Pangeran Dalson tanpa mau menjawab pertanyaan Reine.


Reine memandang ke arah meja. Dia melihat baju ganti yang telah disusun dengan rapi. Wanita itu segera mengambilnya dan mengenakannya.


"Anda mengintip Pangeran?" tanya Reine dengan wajah kesal. Wanita itu melakukannya lebih cepat lagi. Karena dalam kondisi hamil wanita itu jadi kesulitan memasang resleting gaunnya.


"Butuh bantuan?" tanya Pangeran Dalson.


"Tidak!" ketus Reine dengan wajah jutek. Meskipun begitu, tetap saja dia tidak bisa melakukannya.


Pangeran Dalson mendekati Reine sambil tersenyum. Tanpa permisi, pria itu menarik tubuh Reine dan memasang resleting gaun Reine.

__ADS_1


"Kau tidak takut?"


Reine segera memutar tubuhnya. "Takut! Bahkan sangat-sangat takut!" jawab Reine.


"Bahkan mereka berani menyerangmu ketika kau ada di kamarku. Apa jadinya jika kau tidur dikamarmu sendiri?" kata Pangeran Dalson dengan begitu serius.


"Justru jika aku ada di kamarku, tidak akan ada yang berniat untuk mencelakaiku!" sahut Reine. "Dia pasti orang kiriman Yang Mulia Ratu," sambil Reine lagi. Dia merasa tidak memiliki musuh. Hanya Yang Mulia Ratu satu-satunya musuh Reine di istana itu.


"Bisa jadi," jawab Pangeran Dalson dengan santai hingga membuat Reine geram.


"Bisa jadi? Pangeran, cepat ambil tindakan. Kenapa anda setenang ini? Anda sudah tahu siapa dalang semua ini. Tapi tetap saja belum mengalami tindakan!" ketus Reine.


"Kita juga tidak gegabah. Kita tidak memiliki bukti apapun. Dia wanita yang sangat licik. Menghindar dari masalah seperti ini sangat mudah baginya," jawab Pangeran Dalson memberi alasan.


"Sepertinya anda memang sangat dekat dengan Yang Mulia Ratu. Sampai-sampai anda tahu bagaimana sifatnya. Saya masih tidak habis pikir, kenapa bisa-bisanya anda menjalin hubungan dengan wanita yang seharusnya anda panggil Ibu!"


Kali ini ekspresi wajah Pangeran Dalson berubah. Dia tidak suka melihat Reine bicara seperti itu. "Jaga bicaramu. Jika kau tidak tahu yang sebenarnya terjadi, sebaiknya jangan pernah membuat opini yang tidak berguna!" ketus Pangeran Dalson.


"Pangeran Dalson yang terhormat, saya melihat sendiri dengan mata kepala saya bagaimana anda bercinta dengan Yang Mulia Ratu. Anda terlihat sangat menikmatinya. Lalu, anda masih mau menyangkal lagi?"


"REINE!" Pangeran Dalson sudah melayangkan tangannya karena ingin menampar wajah Reine. Akan tetapi dia tidak segera melakukannya. Pria itu kembali menurunkan tangannya dan berusaha untuk kembali tenang. "Aku akan meminta pengawal untuk membereskan wanita itu!" ucap Pangeran Dalson sebelum pergi meninggalkan kamar.

__ADS_1


Reine mengatur napasnya. "Astaga, apa yang baru saja aku katakan? Kenapa aku bicara seperti itu?"


__ADS_2