The Ghost Prince

The Ghost Prince
Kenyataan


__ADS_3

Reine tersentak kaget ketika seseorang memeluknya dari belakang saat ia sedang tidur lelap. Wanita itu langsung terduduk untuk memperhatikan wajah sang pemilik tangan. Tubuhnya membatu ketika dia melihat sosok Pangeran Dalson yang kini ada di hadapannya.


"Apa yang mau kau lakukan?" ketus Reine dengan kasar.


"Reine, ini aku Darren."


"Darren?" Reine yang memang sudah sangat merindukan Darren segera memeluk pria itu dengan erat. "Kenapa kau tidak pernah muncul? Aku sangat merindukanmu." Seketika Reine kembali ingat dengan percintaan panas antara Pangeran Dalson dengan Yang Mulia Ratu. Tiba-tiba saja ia merasa jijik dan segera melepas pelukan itu lalu memalingkan wajahnya. Bagaimanapun juga tubuh yang dipakai oleh Darren adalah tubuh Pangeran Dalson.


"Ada apa?" tanya Darren bingung. Biasanya wanita itu akan memeluknya dalam waktu yang lama sebelum akhirnya mereka bercumbu.


"Tadi aku melihat Pangeran Dalson dan Yang Mulia Ratu bercinta. Aku masih tidak menyangka kalau mereka melakukan hal sehina itu. Bukankah perbuatan seperti itu adalah perbuatan dosa. Bagaimanapun juga ibu dan anak tidak boleh menjalin hubungan percintaan."


"Tetapi mereka bukan ibu dan anak," sahut Darren serius. "Semua cerita yang kau dengar adalah kebohongan."

__ADS_1


"Apa maksudmu?" wajah Reine terlihat bingung.


"Pangeran Dalson bukan Putra kandung Raja yang terdahulu. Dia hanya anak kecil yang ditemukan di hutan. Setelah Raja meninggal Ratu baru mempublikasikan keberadaannya dan mengakuinya sebagai anak kandung."


"Apa?" Reine benar-benar kaget. "Lalu apakah kau tahu kalau Pangeran Dalson menikah denganku hanya agar mendapatkan keturunan?"


"Bukan hanya itu saja tetapi mereka berniat untuk membunuhmu setelah kau berhasil melahirkan seorang Putra. Karena kabarnya Yang Mulia Ratu tidak bisa mengandung karena mengidap penyakit tertentu."


"Darren, kenapa kau bisa tahu semua ini dan baru menceritakannya sekarang juga?" Reine benar-benar marah. Darren terdiam sebelum akhirnya tertidur dan tergeletak di tempat tidur. Reine yang bingung segera menepuk pipi Darren.


Darren kembali membuka matanya dan memandang Reine. Reine kembali bernapas lega lalu mengusap pipi pria itu dengan lembut.


"Darren, lupakan semuanya. Sekarang aku hanya ingin memelukmu. Apa boleh?" Reine mengukir senyum manis. Meskipun kini hatinya merasa tidak baik-baik saja. Tetapi dia berusaha untuk tetap tenang. Waktu singkatnya bersama dengan Darren harus dia manfaatkan sebaik mungkin.

__ADS_1


"Darren? Siapa Darren? Kenapa Reine memanggilku dengan nama Darren? Ada yang aneh. Apa ini ada hubungannya dengan kejadian aneh yang pernah aku alami. Sepertinya ada sesuatu yang disembunyikan wanita ini. Sebaiknya sekarang aku jangan langsung menunjukkan identitas asliku. Aku harus tetap berpura-pura menjadi Darren seperti yang dia pikirkan," batin Pangeran Dalson.


"Darren, kenapa kau diam saja!" Reine menatap kedua mata Pangeran Dalson. Wanita itu langsung menjauh. Dia tahu kalau tatapan itu bukan lagi milik Darren. Melainkan milik Pangeran Dalson.


"Gawat! Kenapa Darren harus menghilang di saat yang seperti ini? Sekarang apa yang harus aku lakukan?" batin Reine ketakutan.


Pangeran Dalson duduk di samping Reine. Dia masih belum tahu apa yang ingin dia katakan.


"Pangeran Dalson, maafkan saya."


"Siapa Darren? Apa dia kekasihmu? Apa wajahnya mirip denganku sampai-sampai kau memanggilku dengan sebutan Darren?"


Reine berpura-pura menangis. "Pangeran, saya tidak seberani itu. Sejak Mora tewas, saya merasa kalau saya bukan diri saya lagi. Saya sering melakukan hal-hal yang tidak saya sadari. Maafkan saya Pangeran."

__ADS_1


Pangeran Dalson Tiba-tiba memegang tangan Reine dengan kasar lalu mendorong wanita itu sampai berbaring. "Kalau begitu lupakan. Sekarang ada hal penting yang harus kita lakukan!"


"Pangeran, apa yang ingin anda lakukan?"


__ADS_2