The Ghost Prince

The Ghost Prince
Rencana Besar


__ADS_3

Reine dan Pangeran Dalson terus saja berjalan sampai langit gelap. Karena tidak juga tiba di istana, akhirnya Reine menyerah. Wanita kelelahan hingga terduduk di atas tanah.


"Pangeran, apa anda tidak salah jalan? Kenapa kita tidak sampai-sampai?" protes Reine. Dia haus Mun tidak ada air yang bisa diminum.


"Aku tidak mungkin salah jalan. Aku memang tahu kalau menuju ke istana. Tapi bukannya tadi aku tidak ada bilang berapa jauh jaraknya? Kau terlalu gegabah hingga pergi lebih dulu. Seharusnya tadi kita istirahat saja." Pangeran Dalson juga duduk. Pria itu bersandar di pohon.


"Aku tidak boleh marah. Kau harus membuatnya jatuh cinta padaku. Bukan membuatnya semakin benci padaku," batin Reine di dalam hati. "Pangeran, anda benar. Sebaiknya sekarang kita istirahat saja."


Reine tiba-tiba berjalan mendekati Pangeran Dalson. Wanita itu mengukir senyum penuh arti sebelum duduk.


"Ada apa? Aku tidak memiliki apapun yang kau inginkan," ujar Pangeran Dalson tanpa memandang.

__ADS_1


"Pangeran Dalson yang terhormat, apa anda lelah? Mau saya pijat?" tawar Reine. Dia tahu kalau rencana ini sangat murahan. Tetapi dia harus berjuang agar Pangeran Dalson segera jatuh cinta padanya.


"Tidak!" tolak Pangeran Dalson. Semakin Reine menurunkan harga dirinya justru membuat Pangeran Dalson semakin tidak suka. Padahal sikap cuek Reine seperti yang sebelumnya sudah cukup membuat Pangeran Dalson luluh padanya.


"Baguslah. Saya juga capek!" ketus Reine sebelum duduk dan menopang kepalanya dengan tangan. "Perutku lapar sekali. Apa seperti ini rasanya hamil? Aku tidak bisa menahan lapar," gumam Reine di dalam hati.


"Bagaimana tinggal di asrama? Apa enak?" Pertanyaan Pangeran Dalson membuat Reine mengernyitkan dahinya. Dia sama sekali tidak menyangka kalau Pangeran Dalson mau membahas soal asrama.


"Bahagia?" Pangeran Dalson mengambil ranting yang ada di tanah dan membuat goresan di atas tanah. "Aku sendiri tidak tahu seperti apa bahagia. Apa tersenyum dikatakan bahagia? Apa tertawa dikatakan bahagia?"


Reine menggeleng tidak setuju. "Ketika kita bisa menjadi diri sendiri, disitulah kebahagiaan yang sesungguhnya. Kita bisa merasakan kebahagiaan yang tidak semua orang bisa merasakannya."

__ADS_1


"Oh ya? Lalu, apa menurutmu aku tidak bahagia?"


Reine mengangkat kedua bahunya. "Saya tidak bisa menilainya. Hanya anda sendiri yang tahu." Reine juga mengambil ranting kayu lalu membuat bentuk goresan di atas tanah. Kedua matanya berkaca-kaca karena pada kenyataannya dia kini menjadi sangat merindukan asrama.


"Reine, kau menangis?" Pangeran Dalson memegang dagu Reine lalu menatap wajah wanita itu. Melihat ada buliran air mata yang menetes membuat Pangeran Dalson berinisiatif untuk mengusapnya. "Apa yang membuatmu menangis?"


"Anda," jawab Reine cepat.


"Aku?" Pangeran Dalson terlihat bingung. Namun dalam sekejap dia bisa menjawab pertanyaannya sendiri. "Ya, aku akui aku ini pria yang kejam. Kau pasti merasa tersiksa setelah menikah denganku. Soal malam pertama kita, sebenarnya aku ingin minta maaf. Waktu itu aku memang sudah sangat keterlaluan."


Reine mengatur napasnya agar kembali tenang. "Lalu, apa yang akan anda lakukan jika nanti saya hamil? Apa anda akan membunuh saya setelah anak ini lahir?"

__ADS_1


__ADS_2