
Pangeran Dalson membuka matanya secara perlahan. Pria itu merasa sangat mengantuk dan kelelahan. Bagaimana tidak? Tadi malam Darren telah meminjam raganya untuk bercinta dengan Reine hingga berulang kali.
"Apa yang terjadi?" batin Pangeran Dalson. Dia memandang ke samping dan melihat Reine yang kini masih tertidur pulas. Wanita itu nyatanya juga kelelahan hingga tidak sadar kalau Darren telah pergi dan kini Pangeran Dalson yang ada di sampingnya.
"Kenapa aku bisa tiba-tiba ada di sini? Bukankah tadi malam ...." Pangeran Dalson menekan ingatannya untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Namun nyatanya dia tidak berhasil.
Pangeran Dalson duduk di atas tempat tidur. Dia melihat gaun yang tadi malam dikenakan oleh Reine tergeletak di lantai. Begitupun dengan pakaian yang ia kenakan. Kini mereka sama-sama sudah memakai pakaian tidur. Ini sungguh merupakan hal yang aneh bagi Pangeran Dalson. Dia ingat betul kalau tidak ada ganti pakaian tadi malam.
"Apa tadi malam aku mabuk sampai tidak ingat dengan semuanya?" batin Pangeran Dalson.
Reine miring ke samping dan memeluk tangan kekar Pangeran Dalson. Pria itu menjadi senang. Ia kini tidak mau pusing-pusing lagi memikirkan apa yang terjadi tadi malam. Dia memilih untuk mengusap rambut Reine dengan lembut. Memandang wajah wanita itu dengan senyuman.
"Kau sangat cantik Reine. Kenapa baru sekarang aku menyadarinya?" gumam Pangeran Dalson di dalam hati.
__ADS_1
Reine membuka kedua matanya perlahan. Wanita itu mengukir senyum manis di depan Pangeran Dalson. Lagi-lagi Reine tidak sadar kalau pria di depannya sudah terganti lagi.
"Kenapa tidak tidur? Langit masih sangat gelap," ucap Reine berbisik.
Pangeran Dalson masih asyik mengusap pipi Reine. Namun pria itu menjadi waspada ketika dia menyadari kalau ada sesuatu yang terjadi di depan kamarnya.
"Reine, pakai bajumu?" Pangeran Dalson segera turun. Dia mengambil pedangnya dan melangkah ke depan.
Reine yang sangat ketakutan segera memakai pakaiannya. Wanita itu berdiri di sana dan memperhatikan punggung Pangeran Dalson. "Kenapa aku baru sadar kalau dia bukan Darren? Bodohnya aku. Hampir saja aku keceplosan." Reine menutup mulutnya dengan tatapan tidak percaya. Wanita itu segera mendekati Pangeran Dalson. Dia berdiri di belakang suaminya.
Reine mengangguk. Pangeran Dalson segera membuka pintu kamarnya. Betapa kagetnya pria itu melihat penjaga di depan kamarnya telah terbaring di bawah dengan kondisi yang mengenaskan.
"Jangan lihat ke depan." Pangeran Dalson segera memeluk Reine dan menyembunyikan wajahnya. "Kau tidak seharusnya melihat pemandangan seperti ini Reine."
__ADS_1
"Apa sekarang kita dalam bahaya?" tanya Reine ketakutan.
"Ya. Tapi kau tenang saja. Aku akan melindungimu dan juga anak kita?" Pangeran Dalson memperhatikan keadaan sekitar. Dia tahu kalau tidak ada satupun pengawal pribadinya yang tersisa.
Reine memandang ke samping. Wanita itu melihat anak panah yang kini meluncur ke arah mereka. "Pangeran, awas!" teriak Reine panik.
Pangeran Dalson segera menangkap anak panah itu. Ekspresinya terlihat sangat tenang. Tidak lama kemudian segerombolan orang keluar. Mereka memegang senjata pedang. Meskipun mereka semua memakai topeng untuk menutupi identitas asli mereka. Akan tetapi Pangeran Dalson tahu kalau mereka semua adalah pengawal Yang Mulia Ratu.
"Pegang ini." Pangeran Dalson memberikan Reine sebuah pedang. Pria itu berjongkok untuk mengambil pedang pengawalnya sebelum melangkah ke depan.
"Pangeran, hati-hati," ucap Reine memberi semangat.
Pangeran Dalson mengukir senyum mendengarnya. Dia hanya mengangguk sebelum melakukan penyerangan.
__ADS_1
Reine memandang ke segala arah untuk mencari pertolongan. Sampai akhirnya dia melihat Yang Mulia Ratu juga menyaksikan pertarungan di sana.
"Dia wanita yang licik. Sekarang apa yang bisa aku lakukan untuk membantu Pangeran Dalson?"