
Reine melihat tong sampah yang tidak jauh dari ruangan tempat Pangeran Dalson di sekap. Wanita itu tidak bisa berpikir jernih lagi. Tanpa peduli dengan bau yang ada, dia segera masuk ke dalam tong sampah. Reine hampir berteriak melihat ada mayat di dalam tong sampah tersebut. Wanita itu memejamkan mata dan menutup mulutnya. Dia tidak mau sampai ketahuan. Dia tidak mau sampai usahanya untuk kabur sia-sia.
Buliran air mata mulai menetes. Dia merasa sedih dengan nasipnya saat ini. "Ya Tuhan, lindungi aku. Tolong lindungi aku," pinta Reine dengan penuh harap.
Yang Mulia Ratu berdiri di depan ruangan tempat Pangeran Dalson di sekap. Wanita itu menatapnya dengan tatapan penuh arti.
"Buka pintunya!" perintah Yang Mulia Ratu.
Pengawal segera membukakan pintu. Setelah itu Yang Mulia Ratu masuk ke dalam. Sedangkan pengawal dan pelayan yang ikut bersama dengannya hanya menunggu di luar ruangan.
Pangeran Dalson masih tetap memejamkan mata dengan tenang. Seolah-olah dia sama sekali tidak takut dengan hukuman mati yang nantinya akan dia hadapi.
"Aku bisa membawamu ke tempat yang aman. Setelah itu kau bisa kembali lagi ke istana dengan identitas yang baru. Ini kesempatan terakhir! Pikirkan baik-baik!" ujar Yang Mulia Ratu.
Meskipun jelas-jelas dia yang sudah menjebak Pangeran Dalson, tapi nyatanya wanita paruh baya itu tidak rela jika Pangeran Dalson sampai di hukum mati. Rasa cinta di dalam hatinya menggoyahkan prinsip yang seharusnya dia genggam dengan erat.
__ADS_1
Pangeran Dalson masih belum memberikan Jawa apapun. Dia tahu kalau tawaran yang diberikan Yang Mulia Ratu sangat menguntungkan. Namun tetap saja Pangeran Dalson tidak peduli.
"KATAKAN SESUATU! CEPAT JAWAB! AKU TAHU KAU BISA MENDENGAR SUARAKU!" teriak Yang Mulia Ratu penuh dengan emosi.
PLAKKKK
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Pangeran Dalson. Yang Mulia Ratu benar-benar geram melihatnya. Entah kenapa dia tidak bisa membenci Pangeran Dalson.
"Cepat keluarkan satu kata untukku! Kau rela mati bersama wanita itu? Apa sebesar itu cintamu padanya?" tanya Yang Mulia Ratu dengan mata berkaca-kaca.
Reine meneteskan air mata mendengar apa yang dikatakan oleh Yang Mulia Ratu. Wanita itu sendiri tidak menyangka kalau Pangeran Dalson akan lebih memilih mati bersama dengannya daripada kabur dan berlindung dari jerat hukum.
Yang Mulia Ratu berlutut dihadapan Pangeran Dalson. Memasukkan Pangeran Dalson ke dalam penjara nyatanya hanya membuatnya menderita.
Pangeran Dalson membuka matanya secara perlahan. Ada seulas senyum di bibirnya ketika dia melihat wajah Yang Mulia Ratu.
__ADS_1
"Sebaiknya jangan beri saja kesempatan untuk pergi meninggalkan tempat ini. Karena jika saya berhasil mendapatkan kesempatan itu, anda orang pertama yang ingin saya bunuh!" ancam Pangeran Dalson.
Yang Mulia Ratu kaget bukan main mendengarnya. Dia berdiri tegak dengan wajah menahan emosi. "Bahkan saat kau tidak bisa apa-apa, kau masih sanggup mengancamku!"
"Anda akan menjadi orang paling menderita di dunia ini! Anda akan kehilangan pria yang sangat anda cintai! Berbeda dengan saya. Saya dan istri saya akan hidup di surga. Kami hidup bahagia di sana. Sedangkan anda? Anda akan menderita sampai akhir hayat. Kekuasaan ini tidak akan ada artinya lagi."
PLAAKKKK
Lagi-lagi sebuah tamparan mendarat keras di pipi Pangeran Dalson. "Aku pastikan kau menyesal! Oh iya, bukankah istrimu hamil?"
Senyum yang semula terukir di bibir Pangeran Dalson kini sirna begitu saja. Dia tahu Yang Mulia Ratu pasti ingin mencelakai istrinya.
"Apa yang mau kau lakukan?"
"Aku akan membuat anak itu lahir ke dunia ini!" sahut Yang Mulia Ratu sebelum tertawa dengan nyaring.
__ADS_1
Pangeran Dalson hanya diam mendengarnya. Sedangkan Reine yang masih berada di dalam tong sampah hanya diam ketakutan mendengar tawa Yang Mulia Ratu.
"Dia benar-benar iblis!"