The Ghost Prince

The Ghost Prince
Pernikahan


__ADS_3

Hari yang dinanti-nanti oleh seluruh penghuni kerajaan telah tiba. Istana dihias dengan begitu indah untuk merayakan pernikahan Pangeran Dalson dan Reine. Seluruh bangsawan diundang untuk datang. Bahkan rakyat juga dipersilakan masuk ke wilayah istana untuk memeriahkan pernikahan Pangeran Dalson. Sebagian orang yang belum pernah bertemu dengan Reine, terlihat sangat antusias untuk melihat wajah pengantin wanita. Belum juga bertemu mereka sudah merasa sangat yakin kalau istri pangeran adalah wanita yang cantik.


Di dalam kamar, Reine sudah di dandani dengan begitu cantik. Gaun mewah sudah melekat di tubuhnya. Wanita itu memandang pantulan dirinya sendiri melalui cermin. Dia tersenyum kecil ketika melihat wajahnya yang berubah. Reine sendiri tidak menyangka kalau dia bisa secantik ini. Sebagai seorang wanita, dia merasa sangat bangga dengan dirinya sendiri. Ingin sekali Reine memperlihatkan wajah cantiknya di depan semua orang.


"Nona, anda cantik sekali," puji Mora untuk kesekian kalinya.


"Mora, apa semua sudah siap? Apa yang harus aku lakukan ketika bertemu dengan pangeran nanti?"


Mora mengukir senyum dengan wajah meledek. Dia mendekati telinga Reine lalu berbisik di sana. "Katakan padanya, Suamiku aku sangat senang menikah denganmu."

__ADS_1


"Mora ...." Reine mencubit lengan Mora. Mereka berdua sama-sama tertawa setelahnya.


"Nona, tapi kali saya benar-benar kagum melihat kecantikan anda. Anda sangat cantik. Anda seperti berasal dari keluarga bangsawan," ujar Mora sekali lagi.


"Ternyata harta membedakan penampilan seseorang ya. Jika tidak memiliki harta akan terlihat jelek. Seperti aku yang selama ini hanya di pandang sebelah mata oleh semua orang. Sekarang aku di kagumi dan di puji oleh siapa saja."


"Nona, ini yang membuat saya mendukung anda untuk menikah dengan Pangeran. Sekarang anda tahu sendiri kan kalau semua ini demi kebaikan dan masa depan anda juga."


"Anda sudah tidak sabar bertemu pangeran dan menikah dengan pangeran ya Nona?" ledek Mora sekali lagi.

__ADS_1


"Anggap saja seperti itu," sahut Reine. Wanita itu memejamkan mata dan berdoa sejenak. Dia mengatur napasnya agar kembali tenang. "Wajah mereka mirip. Aku tidak boleh sampai salah panggil. Mulai sekarang pria yang akan selalu ada di hadapanku bernama Dalson. Pangeran Dalson. Bukan lagi Darren. Darren hanya masa lalu yang seharusnya aku kubur rapat-rapat. Kami tidak berjodoh dan tidak akan pernah berjodoh," gumam Reine di dalam hati. Dia melangkahkan kaki kanannya lebih dulu sebelum kaki kiri. Pelayan wanita yang berdiri di dekat pintu keluar memberikan buket bunga kepada Reine. Setelahnya pada pelayan yang tadi membantu Reine bersiap, semua menunduk untuk menghormati Reine. Berbeda dengan Mora yang saat itu berjalan mendampingi Reine. Wanita itu akan memberi tahu Reine selama acara nanti agar Reine tidak mengerti dengan apa yang seharusnya dia lakukan.


"Nona, berjalan lebih pelan lagi," bisik Mora. Reine mengurangi kecepatan langkah kakinya. Wanita itu tetap mempertahankan dagunya agar tetap di atas. Gaun mewah yang menyeret di lantai terlihat sangat megah dan mewah. Ini adalah pernikahan impian setiap wanita yang ada di negara tersebut.


"Di sana, Nona. Lihatlah. Pangeran sudah menunggu anda," bisik Mora lagi.


Reine memandang ke depan. "Darren. Mereka benar-benar mirip. Bahkan dari cara menatap saja mereka sama," gumam Reine di dalam hati.


Pangeran terlihat tidak tertarik melihat Reine meskipun wanita itu terlihat sangat cantik. Bahkan semua orang yang ada di sana tidak henti-hentinya memuji kecantikan Reine. Banyak sekali wanita yang iri melihat kecantikannya. Reine seperti aset berharga yang harus di jaga dengan sebaik mungkin.

__ADS_1


"Nona, akad akan segera di mulai. Semua tamu undangan telah datang." Seorang pria menghampiri Reine. Pria itu mempersiapkan segalanya agar acara pernikahan pagi ini berjalan lancar. "Apa anda sudah siap, Nona?"


Reine mengatur napasnya sekali lagi. Dari balik selendang, wanita itu memandang wajah tampan pangeran. "Ya, aku siap."


__ADS_2