
Reine tersentak kaget ketika seorang pelayan berlari menemuinya. Pelayan itu terlihat sangat berantakan. Pakaiannya kotor dan wajahnya dipenuhi luka.
"Permaisuri, tolong saya," ucap pelayan itu dengan wajah memohon.
"Apa yang terjadi?" Reine segera membantu pelayan itu untuk berdiri. Dia juga menutup rapat pintu agar tidak ada yang melihat. "Tenangkan dirimu."
Pelayan itu menerima air minum yang baru saja diberikan oleh Reine. Setelah itu dia memandang Reine dan menangis. "Seseorang ingin membunuh saya."
"Membunuhmu? Tapi kenapa?" Reine tahu kalau tidak mungkin seseorang mengincar nyawa seorang pelayan jika tanpa sebab.
"Karena ...."
Pelayan itu melangkah mundur karena ketakutan. Dia bersembunyi di kamar mandi. Reine tidak bisa mengusirnya. Wanita itu memandang ke arah pintu lalu melihat pintu terbuka lebar.
"Lancang sekali! Kalian tidak bisa masuk ke kamarku tanpa izin!" protes Reine melihat pengawal yang mengenakan pedang kini masuk ke kamar pribadinya.
__ADS_1
"Maafkan kami, Permaisuri. Tapi ini perintah Pangeran!" jawab salah satu pengawal.
"Benarkah? Lalu apa yang mau kalian lakukan?"
"Seorang pelayan kabur dari penjara bawah tanah. Kami harus menemukannya dan memberinya pelajaran," jawab pengawal tersebut.
"Lalu, kenapa kalian mencarinya ke sini?" Reine melipat kedua tangannya. "Kalian menuduhku menyembunyikannya?"
Pengawal itu langsung menunduk hormat. "Bukan seperti itu, Permaisuri. Tetapi ada yang melihat kalau pelayan wanita itu lari ke wilayah anda."
"Wilayah saya ini luas. Lalu, kenapa harus kamar yang kalian periksa? Kalian harus tahu ini adalah kamar pribadi. Semua yang masuk harus meminta izin. Bahkan Yang Mulia Ratu masuk juga izin. Sedangkan kalian yang hanya sekedar pengawal telah lancang masuk ke kamar pribadiku. Bagaimana kalau tadi aku sedang ganti pakaian?"
"Pergi dari sini!" usir Reine. Dia tidak mau kejadian yang pernah dialami Mora terulang lagi. Sebisa mungkin dia akan melindungi pelayan yang kini bersembunyi di kamar mandinya.
"Baik, Permaisuri. Kami permisi." Pengawal itu menunduk lagi sebelum pergi. Reine menghela napas panjang sebelum masuk ke kamar mandi.
__ADS_1
"Keluarlah," pinta Reine. Pelayan itu segera keluar dari tempat persembunyiannya. Dia berlutut di depan Reine dengan derai air mata yang menyedihkan.
"Tolong saya Permaisuri."
"Berdirilah." Reine lagi-lagi memintanya berdiri. "Sekarang cepat katakan. Apa yang sebenarnya terjadi?"
"Saya melihat kemesraan Pangeran Dalson dengan Yang Mulia Ratu. Lalu Yang Mulia Ratu memerintahkan pengawal untuk membunuh kami semua. Tapi sebelum dibunuh, kami dikumpulkan di penjara bawah tanah. Kami sengaja di fitnah kalau telah mencuri barang milik Yang Mulia Ratu."
Reine kembali diam. Dia sudah mengetahui skandal ibu dan anak itu. Awalnya dia sendiri juga kaget. Namun Reine tidak menyangka kalau sebagai seorang wanita Yang Mulia Ratu memiliki sifat yang sangat kejam.
"Kau tenang saja. Aku pasti akan menolongmu." Reine memberi harapan yang besar hingga membuat pelayan itu terlihat bahagia.
"Terima kasih, Permaisuri."
"Nanti saya akan mengirimkan barang ke asrama. Kau bisa menggunakan pakaian yang dipakai pihak asrama. Aku akan mengatur semuanya. Saat semua orang sibuk, kau pasti bisa kabur dari istana ini. Di asrama kau akan tinggal dengan tenang."
__ADS_1
"Permaisuri, terima kasih. Saya janji akan membalas kebaikan anda." Pelayan itu lagi-lagi berlutut. Reine hanya tersenyum dengan mata berkaca-kaca.
"Dulu aku tidak bisa menyelamatkan Mora. Sekarang kau tidak mau menyesal lagi. Aku harus segera menegakkan keadilan!"