
"Nona," teriak Mora ketika melihat pengawal membawa Reine yang masih dalam keadaan tidak sadarkan diri.
"Pelankan suaramu," protes pengawal tersebut. Dia meletakkan Reine di atas rumput.
"Apa yang terjadi? Kenapa Nona Reine seperti ini? Dan ...." Mora bergidik mencium aroma tubuh Reine yang tidak sedap.
"Cepat bawa Permaisuri pergi dari sini. Yang Mulia Ratu sudah memperketat penjagaan. Jangan sampai tertangkap. Karena, jika sampai tertangkap. Belum tentu Permaisuri bisa kabur lagi."
Tanpa mau menunggu lagi, pengawal itu segera pergi. Mora memandang Angel yang sudah menunggunya di kejauhan. Setelah mendapat perintah, baru Angel berani keluar dan mendekati Reine.
"Reine." Angel segera memeluk Reine. Rasanya dia sangat merindukan sahabatnya itu.
__ADS_1
"Ayo kita bawa Nona Reine pergi dari sini," ajak Mora. Angel mengangguk. Mereka sama-sama membawa Reine pergi melewati jalan rahasia.
Pangeran Dalson tersentak kaget ketika pintu terbuka lebar. Ternyata dia sempat tertidur karena kelelahan. Pria itu memandang tabib tua yang muncul dengan pakaian pengawal.
"Pangeran, Nona Reine sudah aman. Sekarang waktunya anda pergi meninggalkan tempat ini," ucap tabib tua. Pria itu membuka penyamarannya agar Pangeran Dalson tahu siapa dia sebenarnya.
"Tabib? Anda masih hidup?" Pangeran Dalson kaget bukan main mengetahui tabib tua masih hidup. Selama ini dia mengira kalau tabib tua telah tewas di bunuh seseorang.
"Untuk sekarang ya saya masih hidup. Tidak tahu sebentar lagi bagaimana nasip saya." Tabib tua segera membuka borgol di tangan Pangeran Dalson. Pria itu juga melepas rantai di kaki.
"Hanya itu yang bisa saya lakukan untuk membalas kebaikan anda selama ini, Pangeran." Tabib tua menunduk hormat. Dia menyerahkan sebuah pedang kepada Pangeran Dalson. "Anda bisa menggunakan jalan rahasia untuk pergi meninggalkan tempat ini. Saran saya, sebaiknya anda bawa Nona Reine pergi sejauh mungkin. Lupakan soal kekuasaan. Semua ini tidak ada artinya Pangeran. Cepat atau lambat Ratu juga pasti akan berada di titik terendahnya."
__ADS_1
Tabib tua berusaha menasehati agar Pangeran Dalson tidak mengambil keputusan yang merugikan semua orang. Termasuk dirinya sendiri.
Pangeran Dalson mengangguk setuju. "Ya, kau benar. Untuk saat ini sebaiknya aku pergi untuk melindungi Reine. Aku juga tidak tahu apa masih ada atau tidak orang yang bisa aku percaya." Pria itu mengangkat kepalanya dan memandang Tabib tua. "Bagaimana dengan anda? Anda tidak ikut pergi dengan saya?"
"Ada sebuah misi yang harus segera saya selesaikan Pangeran," jawab Tabib tua sambil tersenyum.
Pangeran Dalson menepuk pundak tabib tua. "Terima kasih. Jika suatu saat nanti kita kembali dipertemukan, aku akan mengangkatmu menjadi orang kepercayaanku. Orang yang selalu ada di sisiku saat aku ingin mengambil keputusan."
"Terima kasih Pangeran. Saya sangat senang mendengarnya. Sekarang sebaiknya anda pergi dari sini." Tabib tua membuka lebar pintu penjara. Pangeran Dalson pun segera meninggalkan ruangan yang menjadi tempatnya di sekap. Pria itu memandang sekali lagi tawanan yang kini melihatnya dengan tatapan penuh harap.
"Ada apa Pangeran? Waktu anda hanya sedikit." Tabib tua terlihat khawatir.
__ADS_1
"Kenapa tidak membebaskan mereka semua? Beri mereka senjata maka mereka akan membantu pekerjaanmu," ucap Pangeran Dalson memberi solusi.
Tabib tua memandang ke arah tawanan yang masih terkurung. Pria itu tersenyum licik. "Sepertinya sekarang saya tahu bagaimana caranya mengalihkan perhatian Yang Mulia Ratu."