The Ghost Prince

The Ghost Prince
Cerita Rahasia


__ADS_3

Reine dibuat kaget ketika Mora tiba-tiba saja muncul di kamar tidurnya. Padahal tadinya wanita itu ingin istirahat namun melihat Mora sudah ada di dalam kamar itu, Reine mengurungkan niatnya dan mengajak Mora untuk duduk di dekatnya.


"Kau memang wanita yang hebat Mora. Bisa-bisanya kau masuk ke dalam kamar ini tanpa diketahui oleh penjaga yang ada di depan kamar," puji Reine sambil tersenyum.


"Nona, sebenarnya sejak kemarin saya bisa menemui Anda. Namun karena saya belum mendapat izin, saya tidak berani. Karena itu merupakan perbuatan yang sangat beresiko. Saya tidak bisa tenang sebelum bertemu dengan anda dan mendengar cerita anda. Sekarang hanya ada kita di kamar ini, cepat katakan apa yang sebenarnya terjadi, Nona. Kenapa wajah anda sedih seperti ini. Apa Anda baru saja menangis?"


"Mora, aku akan menceritakan semuanya karena aku percaya padamu."


"Anda bisa mempercayakan semua cerita Anda kepada saya, Nona," sahut Mora dengan ekspresi wajah yang serius. "Oh iya sebelum anda cerita Saya ingin menyampaikan sesuatu. Tadi pagi Ibu asrama Anda datang ke istana. Namun dia tidak diberi izin untuk bertemu dengan Anda oleh pangeran. Lalu dia pulang dan meninggalkan ini kepada saya. Dia meminta saya untuk memberikannya kepada anda." Mora memberikan sebuah kotak kepada Reine. Kotak itu adalah hadiah yang sudah disiapkan oleh ibu asrama dan semua teman-teman Reine yang ada di asrama. Reine tersenyum bahagia menerima hadiah tersebut.


"Aku sangat merindukan mereka. Sepertinya akan sangat sulit untuk bertemu dengan mereka lagi," ucap Reine sedih sambil memandang hadiah itu dengan mata berkaca-kaca. "Ternyata Pangeran tidak sebaik yang kita pikirkan. Kau terlalu berlebihan memuji Pangeran waktu itu Mora. Ia pria yang sangat kejam. Setiap malam dia menyiksaku dengan sangat keji. Dia menganggapku seperti hewan peliharaan. Dia bersenang-senang di atas air mata yang aku teteskan."


Mora menggeleng kepalanya dengan wajah tidak percaya. "Tidak mungkin, Nona. Tidak mungkin Pangeran seperti itu," sangkal Mora.

__ADS_1


"Siapa yang menikah dengan pangeran Mora? Aku yang menikah dengannya. Aku yang tahu sifat aslinya," ucap Reine yang masih berusaha untuk mempertahankan ucapannya.


"Apa Anda sengaja mengatakan cerita bohong karena anda sangat membenci pangeran. Dari awal Anda memang sudah tidak suka dengan pangeran."


"Apa secara tidak langsung kau ada di pihak Pangeran, Mora? Kau tidak ada di pihakku sekarang."


Mora memegang tangan Reinw lalu mengusapnya dengan lembut. "Maafkan saya Nona. Bukan maksud saya untuk berada di pihak Pangeran. Saya selalu ada di pihak Anda. Tapi untuk mempercayai cerita Anda yang satu ini, cukup sulit bagi saya. Mengingat selama ini Pangeran dikenal sebagai pria yang sangat bijaksana dan berhati mulia."


"Tapi aku tidak bohong, Mora. Pangeran benar-benar pria yang sangat kejam. Percayalah padaku. Aku punya bukti. Aku akan membuktikannya kepadamu." Reine membuka bajunya untuk memperlihatkan bekas cambukan yang telah diberikan oleh pangeran Dalson. "Lihatlah. Bukankah kau bisa melihatnya dengan jelas. Luka ini aku dapatkan dari pangeran Dalson. Dia menyiksaku setiap malam. Aku sangat menderita, Mora. Tolong pikirkan cara agar aku bisa lepas dari pangeran Dalson."


Mora memeluk Reine lalu menangis. Rasanya wanita itu sangat menyesal sudah mendukung Reine untuk menikah dengan Pangeran. Tadinya dia pikir Reine akan hidup dengan bahagia. Tidak di sangka wanita itu menderita dan sangat tersiksa.


"Jangan menangis Mora. Aku tidak tega jika melihatmu menangis seperti ini," bujuk Reine sambil mengusap punggung Mora.

__ADS_1


Saat mereka sedang asyik bicara, tiba-tiba terdengar suara langkah kaki mendekat di depan pintu sana. Reine dan Mora sama-sama panik. Karena Mora tidak memiliki kesempatan untuk kabur, Reine memintanya untuk bersembunyi di balik lemari. Posisinya memang sangat pas. Jika wanita itu tidak bicara, tidak akan ada yang tahu kalau dia ada di sana.


Reine segera beranjak dari kursi ketika pintu terbuka lebar. Para pelayan segera menutup pintu itu kembali rapat sedangkan Pangeran Dalson berjalan dengan gusar menghampiri Reine.


"Apa kau sudah sembuh permaisuri. Kelihatannya wajahmu sudah jauh lebih segar sekarang," ledek Pangeran Dalson sambil memperhatikan wajah Reine yang masih terlihat pucat.


"Saya ingin istirahat, Pangeran," sahut Reine takut-takut.


"Istirahat kau bilang?" Tiba-tiba saja Pangeran mendekat dan menjambak rambut Reine. Hal itu membuat Mora kaget namun ia segera menutup mulutnya agar tidak menimbulkan suara. "Aku tidak akan mengizinkanmu istirahat. Sekarang waktunya kita bermain-main, Sayang." Tiba-tiba saja Pangeran Dalson menghempaskan tubuh Reine hingga kepala wanita itu terbentur kayu. Karena kaget dan khawatir, Mora kali ini menyenggol guci yang ada di sampingnya.


Pangeran Dalson memandang ke arah lemari. Wajah pria itu terlihat menahan emosi. Ia tahu kalau ada seseorang yang sedang mengintipnya di balik lemari sana. "Keluar!" teriak Pangeran Dalson.


"Tidak ada siapapun di sana. Siapa yang Anda suruh keluar?" ucap Reine yang masih berusaha untuk melindungi Mora.

__ADS_1


Pangeran Dalson memandang Reine dengan tatapan yang begitu tajam. "Aku akan periksa sendiri dan memastikan sendiri ada atau tidak orang di sana!" tegas Pangeran Dalson sebelum berjalan menuju ke arah lemari.


__ADS_2