
"Yang Mulia! Yang Mulia!" teriak seorang pengawal wanita sambil berlari-lari dengan kencang. Karena terlalu jauh berlari nafas wanita itu sampai tersengal. Dia bahkan tidak peduli dengan siapa kini berbicara.
"Ada apa? Kenapa kau lari-lari seperti itu?" sahut Yang Mulia Ratu sembari menyisir rambutnya yang panjang.
Memang usia Yang Mulia Ratu sudah bisa dibilang hampir tua. Akan tetapi wajah wanita itu terlihat awet muda. Semakin ke sini justru kecantikannya tiada duanya.
"Pangeran Dalson. Pangeran Dalson ke sini," jelas pelayan wanita itu sambil tersenyum.
Yang Mulia Ratu menahan gerakannya. Sisirnya berhenti sejenak sebelum kembali bergerak ke bawah. Dari sorot mata wanita itu terlihat kebahagiaan yang tidak tara. Meskipun bibirnya tidak tersenyum.
"Yang Mulia, anda harus segera menyambut Pangeran Dalson. Dia pasti datang karena merindukan anda," ucap pelayan wanita itu lagi.
"Tidak perlu," jawab Yang Mulia Ratu. Wanita itu meletakkan sisir yang tadi dia genggam di atas meja sembari memandang pantulan wajahnya di cermin. "Pangeran Dalson suka dengan penampilanku yang sekarang? Dia tidak suka melihat wanita yang terlalu lama berias."
"Yang Mulia, kalau begitu ganti baju anda dengan pakaian yang lebih seksi. Pangeran Dalson akan tergila-gila dengan anda. Ini kesempatan anda untuk mendapatkan kembali hari Pangeran Dalson." Pelayan wanita itu segera berjalan ke lemari dan mencari baju yang akan dikenakan oleh Yang Mulia Ratu. "Bagaimana kalau ini Yang Mulia? Warna merah sangat cocok di kulit anda yang putih."
Yang Mulia Ratu beranjak dari kursi. Dia memegang gaun itu lalu tersenyum simpul. "Aku punya tugas penting untukmu."
"Apa itu Yang Mulia?" Pelayan itu memandang Yang Mulia Ratu dengan serius.
"Pasti Reine mengetahui semua ini. Aku mau dia tahu kalau Pangeran Dalson mengunjungiku. Bila perlu, dia melihat kemesraan kami," perintah Yang Mulia Ratu.
__ADS_1
Pelayan wanita itu mengangguk sambil tersenyum licik. "Baik, Yang Mulia. Aku akan segera pergi."
Yang Mulia Ratu kembali memandang gaun itu dengan senyuman penuh arti. "Pangeran Dalson, malam ini kau tidak akan lepas dariku. Kau hanya milikku. Hanya aku yang boleh ada di dalam hatimu!"
Di sisi lain, Pangeran Dalson memperlambat langkah kakinya ketika sudah semakin dekat dengan pintu kamar Yang Mulia Ratu. Beberapa penjaga di sana telah menunduk hormat menyambut kedatangan Pangeran Dalson.
"Untuk apa aku datang ke sini? Bagaimana kalau Reine semakin salah paham padaku?" batin Pangeran Dalson.
Dia memutar tubuhnya karena ingin segera pergi meninggalkan kamar itu. Akan tetapi, sebuah teriakan dari dalam kamar membuat semua orang terperanjat kaget. Begitupun dengan Pangeran Dalson sendiri.
"AAARGGHHH! TOLONG!"
Pangeran Dalson memandang pengawal di sana dan memerintahkan semuanya untuk segera waspada. Sebagian mengikuti Pangeran Dalson ke dalam kamar Yang Mulia Ratu.
"Dia tidak ada di kamar. Apa mungkin dia ada di dalam ruangan ini?" batin Pangeran Dalson.
"PERGI! PERGI KALIAN SEMUA!" teriak Yang Mulia Ratu. Wanita itu tiba-tiba saja muncul.
Pangeran Dalson memandang Yang Mulia Ratu dengan rasa iba. Bagaimana tidak? Wanita itu terlihat sangat berantakan seperti tidak pernah mengurus dirinya sendiri. Dia terlihat seperti wanita yang frustasi.
"Pangeran, Yang Mulia Ratu sering sekali seperti ini. Tiba-tiba emosinya tidak stabil. Itu kenapa selama ini Yang Mulia Ratu jarang sekali keluar kamar," ujar salah satu pelayan yang memang sudah bekerja sama dengan Yang Mulia Ratu.
__ADS_1
Pangeran Dalson kembali ingat dengan tujuan utamanya ke situ. "Pergilah! Tinggalkan kami berdua!" perintah Pangeran Dalson.
Semua pelayan dan pengawal segera pergi. Kini hanya ada Pangeran Dalson dan Yang Mulia Ratu saja di sana.
Yang Mulia Ratu tersenyum sebelum berjalan mendekati Pangeran Dalson. "Sayang, kau tidak merindukanku?"
"Saya ke sini hanya ingin memperingati anda. Jangan pernah sekali-kali menyakiti hati Reine. Apa lagi sampai menghasutnya agar dia membenci saya," ketus Pangeran Dalson. Tidak ada lagi tatapan cinta di mata pria itu. Tidak ada lagi tatapan peduli dan sayang seperti biasanya.
"Anda?" Yang Mulia Ratu tersenyum pahit mendengarnya. "Sejak kapan kau memanggilku anda? Kita di fitnah oleh seseorang. Aku tahu kalau wanita itu telah mengatakan sesuatu yang membuatmu salah paham padaku. Tapi, apa selemah itu hubungan kita?" Ketika Yang Mulia Ratu ingin menyentuh Pangeran Dalson, pria itu justru melangkah mundur.
"Kita hanya sebatas ibu dan anak. Tidak lebih dari itu!" tegas Pangeran Dalson.
Yang Mulia Ratu semakin emosi mendengarnya. Wanita itu ingin menampar dan berteriak di depan Pangeran Dalson. Akan tetapi dia baru saja mendapat kode dari pelayannya kalau kini Reine dalam perjalanan ke situ.
"Ah, sayang. Kau sangat nikmat," desah Yang Mulia Ratu hingga membuat Pangeran Dalson kaget.
Yang Mulia Ratu segera membuka kain yang sejak tadi menutupi tubuhnya. Pakaian seksi yang sudah di sobek itu seperti sengaja dipersiapkan untuk dijadikan barang bukti. "Kau menyukainya sayang," ucap Yang Mulia Ratu lagi dengan tatapan menggoda.
Pangeran Dalson masih belum sadar dengan apa yang terjadi. Lalu di sata pintu mau terbuka, Yang Mulia Ratu segera menarik tangan Pangeran Dalson hingga akhirnya mereka berdua sama-sama terjatuh. Posisinya Pangeran Dalson ada di atas. Sungguh posisi yang sangat pas sekali. Sekolah tidak ada rekayasa di sana.
Pintu terbuka lebar. Reine berdiri di sana dengan bibir tersenyum pahit. Wanita itu mengepal kuat tangannya. "Maaf, karena sudah mengganggu kalian. Sekarang kalian bisa melanjutkannya!"
__ADS_1
Pangeran Dalson segera menyingkir dari tubuh Yang Mulia Ratu. "Reine, tunggu!" teriak Pangeran Dalson.