
Reine membuka matanya secara perlahan. Kepalanya masih terasa sangat berat. Wanita itu berusaha untuk bangkit namun ia merasa kesulitan. Kepalanya benar-benar sakit.
"Tolong aku," lirih Reine dengan suara yang sangat pelan.
"Permaisuri, anda sudah bangun?" Tiba-tiba muncul seorang pelayan wanita dan membantu Reine untuk duduk.
Reine sendiri terlihat bingung. Dia memandang kembali tempatnya berada saat ini. Wanita itu kaget ketika bangun sudah ada di dalam kamar pribadinya. Padahal sebelumnya dia masih ada di rumah tabib.
"Apa yang terjadi?" tanya Reine kebingungan.
"Permaisuri, pengawal menemukan anda tergeletak di dekat kolam ikan. Apa anda baik-baik saja? Tabib masih dalam perjalanan menuju ke sini," ucap pelayan itu apa adanya.
"Tabib? Maksudmu tabib yang sudah tua itu? Tabib yang lama?" tanya Reine untuk kembali memastikan.
"Tidak, Permaisuri." Pelayan itu menunduk seperti ingin memberi tahu sesuatu.
"Ada apa?"
__ADS_1
"Tabib yang baru saja anda ceritakan sudah meninggal, Permaisuri."
"Apa? Itu tidak mungkin."
"Saat anda di temukan di pinggir kolam, seseorang memberi kabar kalau tabib telah tewas karena bunuh diri. Semua orang kaget mendengarnya," jelas pelayan itu apa adanya.
"Tapi tadi dia masih sehat dan baik-baik saja seperti tidak memiliki masalah apapun dalam hidupnya. Bagaimana mungkin sekarang dia dikabarkan sudah tewas karena bunuh diri? Sepertinya ada yang aneh," batin Reine.
Suara ketukan pintu membuat Reine segera mempersilahkannya masuk. Seorang tabib muncul bersama dengan seorang pengawal di sampingnya. Tabib muda itu menunduk hormat di depan Reine sebelum berdiri tegak.
"Selamat malam, Permaisuri. Saya diberi perintah oleh Pangeran untuk memeriksa keadaan anda," ucap tabib tersebut.
"Permaisuri, apa yang anda rasakan saat ini?" Tabib itu sudah mencari posisi duduk dan siap memeriksa keadaan Reine. "Apa boleh saya pegang tangan anda?"
"Tidak!" ketus Reine. Sekuat tenaga wanita itu berdiri dan memperlihatkan sikap kalau dia baik-baik saja. "Aku hanya kelelahan. Jadi, kau tidak perlu khawatir. Sekarang juga cepat pergi. Aku tidak suka di sentuh pria lain. Hanya Pangeran yang boleh menyentuhku!" ketus Reine sebelum jalan ke kamar mandi.
Tabib itu memandang pengawal wanita yang berdiri tidak jauh dari posisinya berada. Karena Reine menolak untuk diperiksa, tabib itu tidak memiliki kuasa untuk memaksa Reine. Hingga akhirnya dia memutuskan untuk segera pergi.
__ADS_1
"Syukurlah." Reine akhirnya bisa bernapas lega. Wanita itu duduk di lantai lalu memandang ke depan. Kakinya di tekuk. Dia kembali memikirkan kabar kematian tabib tua yang sempat dia temui tadi. "Aku harus ke rumah itu lagi untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi."
...***...
"Meskipun aku kecewa karena kalian gagal membunuh Reine. Tapi aku senang karena kalian berhasil membunuh tabib sialan itu. Selama ini aku sering mengirimkan racun ke makanan dan minuman Reine. Tetapi tabib tua itu selalu menolongnya. Hingga akhirnya dia masih sehat sampai sekarang," ucap Yang Mulia Ratu.
"Yang Mulia, bukankah itu ide yang buruk? Jika anda sampai membuat keadaan Permaisuri memburuk, itu hanya akan membuat Permaisuri sulit untuk hamil," ucap seorang wanita yang menjadi orang kepercayaan Yang Mulia Ratu.
"Aku tidak peduli. Lama kelamaan aku lihat sikap Dalson mulai berubah. Sepertinya dia mulai tertarik pada wanita itu. Aku tidak mau Dalson sampai jatuh cinta padanya. Aku akan pikirkan cara lain untuk mendapatkan ahli waris kerajaan."
Yang Mulia Ratu memandang dua pengawal yang ada di depannya. "Sekarang kalian boleh pergi. Besok aku memiliki tugas untuk kalian."
"Baik, Yang Mulia!" Dua pengawal itu segera pergi meninggalkan ruang pribadi Yang Mulia Ratu. Tanpa di sadari Yang Mulia Ratu kalau salah satu dari pengawal itu adalah tabib yang sedang menyamar.
Dia berhasil menyusup masuk ke wilayah Yang Mulia Ratu berkat bantuan pengawal yang ingin membunuhnya. Ternyata salah satu dari Pengawal itu tidak tega membunuh Reine. Hanya saja semua perintah Yang Mulia Ratu tidak di tolak. Atau nyawa pengawal itu sendiri yang akan menjadi taruhannya.
"Jangan pernah buka penutup hidung dan mulut ini. Aku hanya bisa membantu anda sampai batas ini. Kedepannya, jika sampai ketahuan aku tidak akan bisa menolongmu lagi. Meskipun nanti aku harus membunuhmu, jangan salahkan aku," ucap pengawal itu memperingati.
__ADS_1
"Kau tenang saja. Aku sudah merasa sangat berterima kasih karena sudah dibantu sejauh ini." Tabib tua itu menepuk pundak pengawal tersebut. "Ternyata inilah jawabannya. Kenapa Permaisuri tidak mau melahirkan keturunan kerajaan," gumam Tabib di dalam hati.