The Ghost Prince

The Ghost Prince
Kehilangan.


__ADS_3

Reine tidak lagi berselera untuk makan dan minum setelah dia mendapatkan kabar kalau Mora telah tewas. Ya, dengan kejamnya Pangeran Dalson telah menghukum Mora dengan cara memberinya racun.


Hari ini adalah hari ke 7 setelah kepergian Mora. Darren juga tidak bisa menemui Reine karena Pangeran Dalson terus saja terjaga. Pria itu jarang tidur nyenyak. Dia lebih sering menghabiskan waktunya di rumah baca.


"Mora, maafkan aku." Reine lagi-lagi meneteskan air mata ketika kebersamaannya dengan Mora kembali terlintas di dalam benaknya. "Ini salahku. Kau datang untuk menghiburku tetapi aku membuatmu celaka. Tidak bisa! Ini tidak bisa. Aku harus melakukan sesuatu."


Reine menghapus air mata yang menetes lalu beranjak dari kursi kayu tersebut. Dia mengatur napasnya sebelum pergi meninggalkan kamar. Dua pelayan yang berjaga di depan pintu terlihat kaget awalnya. Pasalnya sudah 7 hari Reine tidak keluar kamar dan sekarang secara tiba-tiba Reine keluar.


"Nona, ada yang bisa kami bantu?"


"Aku ingin bertemu dengan Yang Mulia Ratu." Reine langsung saja berjalan. Seolah-olah dia tidak butuh di jaga oleh dua pengawal itu.


"Nona, tapi anda tidak bisa ke sana," ujar salah satu pengawal.

__ADS_1


Reine menahan langkah kakinya. "Kenapa?"


"Pangeran lagi berada di ruangan pribadi Yang Mulia Ratu. Anda akan lama menunggu mereka mengobrol." Ekspresi pengawal itu sungguh mencurigakan hingga membuat Reine semakin semangat untuk melanjutkan langkah kakinya.


"Nona!" ujar pengawal itu. Dia memandang rekannya sendiri. "Bagaimana ini?"


Reine mengangkat gaun yang ia kenakan agar bisa berjalan lebih cepat lagi. Lorong itu memang sunyi. Tidak sembarang orang bisa melewatinya karena lorong itu akan langsung terhubung ke ruangan pribadi Yang Mulia Ratu.


"Sebenarnya apa yang dilakukan oleh Pangeran Dalson di ruangan ibunya? Dia seperti anak kecil yang tidak bisa jauh-jauh dari ibunya!" umpat Reine masih dengan wajah kesal. Wanita itu menahan langkah kakinya ketika sudah hampir tiba di depan ruangan tersebut.


"Pangeran Dalson?" Reine melangkah mundur. Sekuat mungkin dia meredam suaranya agar tidak terdengar. "Mereka?"


Rasanya Reine tidak sanggup berdiri. Wanita itu terjatuh di sana. Dia bahkan tidak tahu harus bagaimana sekarang.

__ADS_1


"Mereka ibu dan anak. Kenapa mereka melakukan perbuatan seperti itu?"


Untuk beberapa saat Reine berusaha menenangkan pikirannya sendiri. Hingga pada akhirnya wanita itu memiliki rencana yang jauh lebih genius.


"Aku yakin ini hubungan terlarang. Aku harus bisa membongkarnya!"


Reine berdiri. Ketika ingin pergi justru Reine mendengar obrolan antara Pangeran Dalson dan Yang Mulia Ratu.


"Aku dengar kau baru saja membunuh pelayan setia milik Reine. Dalson, kau terlalu ceroboh. Bagaimana kalau dia tidak mau melahirkan anak untukmu? Kita butuh keturunan untuk meneruskan kerajaan kita."


"Aku bahkan belum menyentuhnya," sahut Pangeran Dalson.


"Kenapa? Kau hanya perlu memasukkan benihmu ke dalam rahimnya. Jangan pernah pikirkan tentang cinta. Kau bisa membayangkan diriku jika sedang bersamanya."

__ADS_1


Reine mengepal kuat tangannya. Dia sudah sangat emosi kali ini. "Kalian benar-benar kejam!" umpat Reine yang hanya berani di dalam hati saja. "Aku akan membalas perbuatan kalian wanita kejam!"


__ADS_2