
"Tolong jangan menghindar lagi. Katakan saja meskipun sakit untuk didengar. Aku hanya ingin sebuah kepastian. Jadi ke depannya aku tahu anak ini adalah anakku atau anak kita!"
Pangeran Dalson masih diam seperti sangat berat untuk menjawab. Hal itu membuat Reine semakin kecewa. "Aku tahu ini buruk. Anda pasti tidak pernah mengharapkan kehadiran anak ini. Jangan memaksakan diri lagi. Diam anda sudah menjawab semuanya." Entah kenapa tiba-tiba kedua mata Reine berkaca-kaca. Wanita itu menangis karena Pangeran Dalson tidak menjawab.
"Ini aneh. Aku tahu dan ingat betul kalau aku adalah pria pertama yang memilikinya. Aku telah melakukan hubungan itu dalam keadaan sadar. Tapi kenapa aku kembali ingat dengan pria bernama Darren itu? Meskipun dia menggunakan tubuhku. Dan sudah pasti juga anak itu berasal dari benihku. Tapi rasanya aku masih tidak terima jika membayangkan mereka bercinta. Apa memang seperti ini yang namanya cemburu? Tapi apa mungkin aku cemburu?" batin Pangeran Dalson masih dengan ekspresi datar.
Suara ketukan pintu membuat Reine cepat-cepat menghapus air matanya. Wanita itu memalingkan wajahnya ke arah lain agar Nenek Mery tidak melihat kesedihan di wajahnya. Sedangkan Pangeran Dalson segera beranjak dari sana dan memberikan ruang kepada Nenek Merry untuk melayani Reine.
"Aku keluar sebentar," pamit Pangeran Dalson sebelum pergi. Reine tidak mau lagi melirik ke arah Pangeran Dalson karena terlalu kecewa.
"Permaisuri, ini bubur yang saya masak sendiri. Makanlah selagi hangat. Saya menambah beberapa ramuan di dalamnya untuk nutrisi anda dan bayi anda. Mungkin tampilannya tidak sama dengan masakan koki yang ada di istana. Namun saya berani jamin kalau Anda pasti akan sangat menyukainya," ucap Nenek Mery sambil tersenyum.
"Letakkan saja di sana. Nanti akan saya makan," ucap Reine tanpa mau memandang Nenek Mery.
__ADS_1
"Permaisuri, apa Anda dan Pangeran bertengkar? Sebagai suami istri jika salah satu diantara pasangan itu tidak ada yang mau mengalah maka hubungan pernikahan itu tidak akan panjang." Nenek Mery berusaha untuk menasehati.
"Dari awal pernikahan kami ini memang sudah salah. Kami tidak saling mencintai dan tidak ingin saling memiliki. Kami sama-sama terjebak di dalamnya. Sepertinya hanya dengan berpisah untuk mengakhiri segalanya," ucap Reine.
"Anda salah Permaisuri. Justru jika anda bertahan dan berhasil melewati semua masalah ini. Anda akan memperoleh kebahagiaan yang tidak pernah anda bayangkan. Dilihat dari cara Pangeran Dalson memandang Anda, dia sudah memiliki rasa terhadap anda.
Saya yakin sudah ada cinta di hati Pangeran Dalson untuk anda. Tetapi dia masih sulit untuk mengakuinya. Lalu anda sendiri tidak akan mungkin sampai mengandung anak Pangeran Dalson jika anda tidak memiliki ketertarikan terhadap Pangeran Dalson," ucap Nenek Mery tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi. Nenek tua itu hanya tidak mau Reine dan Pangeran Dalson berpisah.
"Permaisuri. Ayo cepat makan selagi hangat. Saya suapi ya," tawar Nenek Mery. Wanita itu segera menyendokan bubur yang sudah hangat lalu menyuapi Reine dengan begitu sabar. Dia memperlakukan Reine layaknya anak kandung. Sejak pertama kali melihat Reine, Nenek Mery sudah sangat menyayangi Reine.
...***...
Di sisi lain, Yang Mulia Ratu marah besar terhadap anak buah yang ia kirim karena mereka telah gagal menangkap Reine dan membawa Pangeran Dalson pulang ke istana. Ditambah lagi kini Yang Mulia Ratu baru saja mendapat kabar kalau dua orang pengawal setia Pangeran Dalson telah tewas terbunuh. Wanita itu sangat mengkhawatirkan Pangeran Dalson. Dia takut terjadi sesuatu terhadap pria yang ia cintai itu.
__ADS_1
"Kalian semua benar-benar bodoh. Tidak ada satupun diantara kalian yang bisa diandalkan. Hanya membunuh seorang wanita saja kalian berulang kali gagal. Dan Pangeran Dalson, Kenapa dia bisa sampai berada di tengah-tengah hutan belantara itu. Aku sudah bilang pada kalian untuk segera membunuh kudanya.
Tetapi kalian benar-benar ceroboh. Jika saja kuda itu mati sebelum Pangeran Dalson tiba. Mungkin ia tidak akan pergi ke hutan bersama dengan wanita sialan itu. Jika sudah seperti ini siapa yang mau bertanggung jawab?"
"Maafkan kami Yang Mulia Ratu. Kami benar-benar kehilangan jejak. Semua sudah kami lakukan sesuai dengan rencana. Saya yakin kalau Pangeran Dalson baik-baik saja. Kini dia bersembunyi bersama dengan Permaisuri," jawab salah satu pengawal.
"Jangan katakan wanita sialan itu dengan sebutan Permaisuri. Jangankan mendengarnya, membayangkannya saja sudah membuatku muak. Lakukan cara apapun agar Pangeran Dalson segera pulang ke istana. Aku ingin dia ada di sisiku lagi seperti biasa. Aku tidak peduli apa yang ingin kalian lakukan terhadap wanita itu. Yang aku butuhkan hanya Pangeran Dalson!"
"Baik, Yang Mulia. Kami akan mencari Pangeran Dalson dan membawanya ke istana."
Para pengawal segera pergi untuk melakukan tugasnya. Salah satu dari pengawal itu adalah Tabib tua. Dia merasa bahagia karena bisa mengetahui kejahatan Yang Mulia Ratu dengan jelas seperti ini. Bukti demi bukti terus ia kumpulkan. Sampai saatnya tiba nanti dia akan berdiri di hadapan semua orang dan membeberkan kejahatan yang selama ini dilakukan oleh Yang Mulia Ratu.
"Tapi kalau dipikir-pikir lagi sekarang Nona Reine ada di mana ya. Apa dia baik-baik saja. Bagaimana keadaan bayi yang ada di dalam kandungannya. Apakah benar dia sedang bersama dengan Pangeran Dalson. Lebih baik aku segera mengikuti mereka ke hutan. Semoga saja aku yang lebih dulu menemui Nona Reine dan Pangeran Dalson," gumam tabib tua di dalam hati.
__ADS_1