
Reine memperhatikan seluruh pengawal yang berjaga-jaga di gerbang istana. Memang sangat sulit untuk keluar dari istana itu. Apa lagi sekarang penjagaan diperketat karena Pangeran Dalson tidak mau ada penjahat masuk ke dalam istana.
"Nona."
Reine memutar tubuhnya ke belakang. Dia melihat tabib tua yang kini masih memakai seragam pengawal. "Tabib tua? Apa yang anda lakukan di sini?"
Tabib tua berjalan mendekati Reine. "Anda mau ke mana? Anda mau kabur? Anda yakin mau pergi meninggalkan istana?"
Reine berusaha tetap tegar. Tidak mau meneteskan air mata lagi. "Aku tidak bisa ada di istana ini lagi. Cepat atau lambat mereka pasti akan membunuhku," jelas Reine.
"Siapa? Yang Mulia Ratu? Atau Pangeran Dalson?" Tabib tua memperhatikan keadaan sekitar. Dia tidak mau sampai ada yang menguping pembicaraan mereka berdua.
"Pangeran Dalson dan Yang Mulia Ratu. Ternyata mereka bekerja sama untuk membunuhku. Mereka hanya menginginkan anak ini saja," jawab Reine dengan suara serak. Rasa sakit itu selalu saja muncul setiap kali dia membayangkan penghianatan Pangeran Dalson.
"Nona, saya memang tidak tahu bagaimana Pangeran Dalson. Apa dia tulus menyayangi anda atau hanya sekedar memanfaatkan anda. Tapi, anda harus tahu satu hal. Keluar dari istana itu sama saja mengantarkan nyawa anda. Yang Mulia Ratu telah memerintahkan kami untuk membunuh anda. Siapapun yang berhasil membunuh anda, dia akan diberi imbalan yang sangat besar. Bukan hanya anda saja. Yang Mulia Ratu juga memerintahkan kami untuk membunuh Pangeran Dalson!"
"APA? Kau yakin?" tanya Reine tidak percaya.
"Anda pasti tidak lupa kan kalau sekarang saya berpura-pura menjadi pengawal pribadiku Yang Mulia Ratu? Saya mendengar semua perintah itu langsung dari mulut Yang Mulia Ratu. Sepertinya Pangeran Dalson ada di pihak anda. Itulah yang membuat Yang Mulia Ratu sakit hati dan ingin menyingkirkan kalian berdua. Nona, sudah tidak ada waktu lagi. Kembalilah ke kamar Pangeran Dalson. Hanya di sana teman yang aman untuk anda. Kesampingkan ego anda demi anak yang ada di dalam perut anda."
Tabib tua berusaha membujuk Reine. Dia tidak mau sampai gagal mempertahankan wanita itu di istana. Hanya Reine orang yang bisa dipercaya olehnya saat ini. Hanya Reine yang bisa ia handalkan untuk membantunya mengungkapkan kejahatan Yang Mulia Ratu.
"Baiklah," jawab Reine pada akhirnya.
__ADS_1
"Nona, cepat kembali ke kamar anda. Saya akan mengalihkan pengawal di sana agar tidak mengetahui keberadaan anda." Tabib tua itu seg yang pergi.
Reine meremas gaun yang ia kenakan dengan perasaan bimbang. Sekali lagi dia memandang ke arah gerbang untuk memastikan kalau memang tidak ada cara lain lagi selain bertahan di istana.
Pangeran Dalson duduk di kamarnya sambil memandang ke depan. Dia sudah memerintahkan semua pengawal untuk mencari keberadaan Reine saat ini. Namun, sampai sekarang belum juga ada tanda-tanda Reine kembali.
"Seharusnya dia tidak keluar dari istana ini. Tapi ... Jika memang dia berhasil kabur, lalu apa yang harus aku lakukan? Aku tidak mau sampai kehilangan dia," batin Pangeran Dalson.
Pintu terbuka lebar lalu Pangeran Dalson memandang ke sana. Pria itu beranjak dari kursi ketika melihat Reine berdiri di ambang pintu.
"Reine?" Pria itu segera berlari menghampiri Reine dan memeluknya dengan erat. "Terima kasih karena kau telah kembali."
Reine segera mendorong tubuh Pangeran Dalson. "Jangan sentuh saya!" ketus Reine kesal. Bagaimanapun juga, masih ada rasa kecewa dan sakit hati. Dia tidak bisa memaafkan Pangeran Dalson begitu saja.
"Ketakutan kau bilang? Aku bahkan tidak bisa membedakan kapan kau marah dan kapan kau senang. Sekarang kau bilang ketakutan? Ekspresi seperti apa itu? Yang aku lihat tadi, kau sangat menikmatinya. Kalian seperti sepasang kekasih yang sedang melepas rindu!" ketus Reine dengan dada turun naik. Wanita itu benar-benar emosi. Meskipun dia sangat yakin kalau semua ini hanya jebakan yang dilakukan oleh Yang Mulia Ratu.
"Percayalah padaku. Aku sudah berubah," bujuk Pangeran Dalson lagi.
Reine memutar tubuhnya. "Untuk apa kau datang ke sana? Kau tahu dia pasti sudah menyiapkan jebakan bukan?"
"Kau cemburu Reine?"
Deg.
__ADS_1
Reine mengangkat kepalanya ke atas. "Cemburu? Apa benar aku cemburu?"
"Akui saja. Kau cemburu bukan? Inilah yang membuatmu marah-marah," jelas Pangeran Dalson lagi.
"Tidak!" sahut Reine tanpa memandang.
"Lalu, kenapa kau marah?" tanya Pangeran Dalson yang masih belum mau menyerah.
"Karena aku takut, kau mengambil anak ini dariku. Aku kecewa padamu. Tadinya aku pikir kau benar-benar tulus menyayangi anak ini."
"Tapi aku benar-benar tulus menyayanginya. Reine, percayalah padaku. Dia hanya ingin kita bertengkar. Dia ingin membuatmu salah paham."
Pangeran Dalson berdiri di depan Reine. Menatap mata wanita itu dengan tulus. "Percayalah padaku. Aku mohon ... Seumur hidupku, ini pertama kalinya aku memohon di depan seorang wanita."
Reine kali ini sangat tersentuh dengan apa yang diucapkan oleh Pangeran Dalson. Namun, dia masih belum mau mengucapkan kata maaf untuk Pangeran Dalson.
"Mungkin kau butuh waktu. Istirahatlah. Aku akan menyelesaikan semua ini." Pangeran Dalson berlalu pergi dari sana.
Reine kembali ingat dengan apa yang dikatakan oleh tabib tua. Seseorang kini juga mengincar nyawa Pangeran Dalson. "Pangeran," teriak Reine.
Pangeran Dalson kembali berhenti. Dia memandang Reine dengan tatapan penuh tanya.
"Temani aku. Aku takut," ucap Reine pada akhirnya.
__ADS_1
Pangeran Dalson langsung tersenyum mendengarnya. "Baiklah Permaisuriku ...."