The Ghost Prince

The Ghost Prince
Terus Bersama


__ADS_3

Karena tidak memungkinkan untuk menunggu Reine menghindar, akhirnya Pangeran Dalson menarik pinggang Reine dan membawa wanita itu untuk bersama-sama jatuh di atas tumpukan daun kering. Bersamaan dengan itu jebakan yang berupa anak panah tersebut tertancap di pohon besar yang ada di dekat mereka.


Reine mengatur napasnya agar kembali tenang. Wanita itu merasa sedikit lega karena terhindar dari bahaya. Sampai-sampai dia tidak sadar dimana posisinya berada saat ini.


Pangeran Dalson menatap wajah Reine dengan saksama. Kini wajah wanita itu ada di depannya. Sangat dekat. Tubuh Reine ada di atas tubuh Pangeran Dalson. Pria itu bisa mencium jelas aroma rambut Reine.


"Bagaimana kalau tadi kita tidak tahu ada jebakan lalu-"


Reine terdiam memandang wajah Pangeran Dalson. Wanita itu kembali ingat dengan Darren. Karena mereka memiliki wajah yang mirip, rasanya Reine tidak mungkin untuk jatuh cinta kepada Pangeran Dalson. Dia berpikir kalau rasa kagum ini muncul karena wajah Pangeran Dalson mengingatkannya dengan Darren.


Pangeran Dalson memegang rambut Reine lalu menarik kepala wanita itu. Tanpa permisi dia mendaratkan bibirnya di bibir Reine. Awalnya Reine kaget dan tidak melakukan gerakan apapun. Sampai akhirnya wanita itu terlena dan membalas ciuman Pangeran Dalson.

__ADS_1


"Pangeran!"


Pangeran Dalson dan Reine sama-sama kaget mendengar seseorang berteriak di dekat mereka. Di sana sudah berdiri seorang wanita yang seharusnya menjebak Reine ke hutan. Karena rencananya gagal jadi dia berniat untuk mencari keberadaan Reine saat ini. Dia sama sekali tidak menyangka ketika melihat Pangeran Dalson dan Reine ciuman tadi.


"Anda siapa?" tanya Reine bingung. Wanita itu segera berdiri. Begitupun dengan Pangeran Dalson.


"Saya salah satu asisten tabib yang baru, Nona," jawab wanita itu. Dia melirik ke arah Pangeran Dalson sejenak sebelum menunduk lagi. "Pangeran, Yang Mulia Ratu sangat ingin bertemu dengan anda."


"Kenapa kau bisa ada di sini?" ketus Pangeran Dalson. Jelas saja dia harus tahu sebenarnya siapa yang sudah membuatnya hampir celaka tadi.


"Permaisuri! Dia Permaisuriku!" potong Pangeran Dalson dengan tatapan tidak suka.

__ADS_1


Mendengar perkataan Pangeran Dalson membuat Reine berbunga-bunga. Karena bahagia, wanita itu sampai menunduk malu.


"Tadi saya melihat Permaisuri keluar istana bersama dengan seseorang. Saya tidak menyangka kalau itu anda. Saya hanya mengkhawatirkan keadaan Permaisuri, Pangeran." Wanita itu beri menyakinkan Pangeran Dalson. Akan tetapi pria tangguh itu tidak percaya.


"Dimana kuda yang tunggangi menuju ke hutan ini?" Pangeran Dalson mencari ke segala arah namun dia tidak menemukan satu kudapun di sana.


"Ada di sana Pangeran. Mari saya antar," ajak wanita tersebut.


Pangeran Dalson memandang ke arah Reine. "Tetap di sampingku. Kita tidak tahu dimana ada jebakan lagi." Lagi-lagi pria itu menggandeng tangan Reine. Karena tidak mau sampai celaka akhirnya Reine memilih untuk menurut saja dengan apa yang dilakukan oleh Pangeran Dalson.


"Dimana kudaku? Aku tadi mengikatnya di sini Pangeran," ujar wanita itu dengan wajah panik. Dia mencari ke segala arah berharap segera menemukan kudanya yang tidak terlihat.

__ADS_1


"Apa kau ingin bermain denganku?" Pangeran Dalson tiba-tiba mengalungkan senjata tajam yang ia bawa di leher wanita tersebut. "Katakan dimana kudanya atau aku akan memotong lehermu!" ancam Pangeran Dalson dengan ekspresi wajah yang menyakinkan.


"Pangeran, apa yang ingin anda lakukan?" tanya Reine panik.


__ADS_2