The Ghost Prince

The Ghost Prince
Tidak Percaya


__ADS_3

Reine berjalan dengan sangat cepat menuju ke tempat Pangeran Dalson kini berada. Dengan mata berkaca-kaca, wanita itu tidak lagi menghiraukan kondisi sekitar. Ada banyak sekali orang-orang penting di ruangan luas itu. Tetapi Reine tetap melangkah mendekati Pangeran Dalson.


Pangeran Dalson yang saat itu terlihat serius kini mengabaikan pekerjaannya. Pria itu memandang Reine dengan wajah yang bingung. Dia sempat mencegah pengawal di sana yang ingin menghalangi Reine.


"Permaisuri, ada apa?" tanya Pangeran Dalson dengan lembut.


PLAAKKKK


Sebuah tamparan keras mendarat sempurna di pipi Pangeran Dalson. Bukan hanya para konglomerat dan pejabat saja yang kaget. Tapi semua pengawal dan pelayan yang melihatnya juga tidak percaya dengan apa yang mereka lihat.


Reine yang hanya seorang wanita biasa dengan beraninya menampar wajah Reine di depan semua orang. Ya, di depan semua orang dan itu merupakan perbuatan yang sangat tidak bermoral.


Sebagai seorang Permaisuri Reine sama sekali tidak menjaga wibawanya. Dia kini justru meneteskan air mata setelah puas membuat suaminya malu.


"Aku membencimu!" ketus Reine sebelum pergi. Tidak ada kata lain yang dia ucapkan. Hanya dua kalimat yang sungguh menyakitkan sebelum akhirnya pergi.


Pangeran Dalson hanya berdiri diam sambil memandang punggung Reine yang semakin menjauh. Pria itu bahkan tidak berteriak untuk mencegah Reine pergi. Tidak juga meminta pengawal menangkap Reine dan menjatuhkan hukuman mati. Dia hanya diam. Dan diamnya Pangeran Dalson membuat semua orang memilih menunduk ketakutan. Mereka menebak kalau setelah ini suasana hati Pangeran Dalson pasti akan buruk dan amarah pria itu akan meledak.


"Kita lanjutkan minggu depan. Terima kasih karena sudah mau menerima undangan saya hari ini," ucap Pangeran Dalson dengan senyum mengembang sempurna di bibirnya. Sama sekali tidak terlihat kalau dia sedang marah.


"Baik, Pangeran."

__ADS_1


Semua orang penting yang datang di kawal untuk segera meninggalkan istana. Setelah itu Pangeran Dalson segera pergi untuk menemui Reine. Pria itu juga butuh penjelasan, apa yang sudah membuat Reine marah seperti ini.


Di dalam kamar, Reine menangis tersedu-sedu. Dia tidak menyangka bisa meneteskan air mata sebanyak ini setelah mengetahui sifat asli Pangeran Dalson. Padahal sebelumnya dia juga sudah tahu bagaimana liciknya seorang Pangeran Dalson.


"Aku memang wanita bodoh. Bisa-bisanya aku percaya dengan semua yang dia katakan."


Reine sudah jatuh cinta kepada Pangeran Dalson. Itulah yang membuat hatinya terasa sakit ketika dia mengetahui Pangeran Dalson menghianatinya. Reine tidak siap menerima semua itu.


Berbeda ketika dulu dia dan Pangeran Dalson masih bermusuhan. Saat itu hati Reine sangat kuat menerima perlakuan buruk dari Pangeran Dalson.


Pangeran Dalson muncul di kamar dengan wajah yang khawatir. Pria itu kan duduk di samping Reine.


"Untuk apa anda ke sini?" Reine memutar posisi duduknya dan membelakangi Pangeran Dalson. "Pergi! Saya tidak mau di ganggu!" ketus Reine.


Padahal tadinya Reine berpikir kalau Pangeran Dalson akan marah padanya karena dia sudah mempermalukannya. Akan tetapi kini reaksi Pangeran Dalson sangat jauh dari harapan Reine.


"Bukan hanya marah. Tapi aku kecewa dan sakit hati," jawab Reine. Nada bicaranya masih saja tinggi.


"Karena apa?" Pangeran Dalson masih bersabar meskipun kini Reine membelakanginya.


"Jika saja sejak awal anda hanya menginginkan anak ini, untuk apa bersikap baik di depanku?" Reine membenarkan posisi duduknya. Ternyata dia tidak puas jika marah-marah tanpa memandang wajah Pangeran Dalson secara langsung. "Jawab pertanyaanku dengan jujur. Apa anda hanya menginginkan anak ini?"

__ADS_1


Pangeran Dalson terlihat bingung dengan pertanyaan Reine. Dia tahu kalau istrinya sedang menjebaknya. Salah jawab bisa panjang urusannya.


"Ya, aku memang menginginkan anak ini. Tapi-"


"Cukup!" potong Reine tanpa mau mendengarkan penjelasan selanjutnya. "Pergi!" usir Reine.


Pangeran Dalson jelas saja tidak mau pergi sebelum mereka menemukan solusinya. "Reine, ada apa? Kau marah padaku karena aku meninggalkanmu seharian ini?"


"PERGI!" teriak Reine lagi. Kali ini wanita itu sambil memegang perutnya.


Pangeran Dalson tidak sanggup untuk memaksa Reine lagi. "Oke, aku pergi. Tenangkan pikiranmu."


Pangeran Dalson segera beranjak dari kursi. Pria itu bahkan tidak lagi mengeluarkan kata.


Reine kembali menangis setelah Pangeran Dalson pergi. "Anakku ... Mommy tidak akan membiarkanmu jatuh ke tangan orang-orang jahat seperti mereka!"


Di depan kamar, Pangeran Dalson memandang pelayan yang sejak tadi mengawasi Reine.


"Siapa yang baru saja dia temui?" tanya Pangeran Dalson.


"Maafkan kami, Pangeran. Tadi saat berkeliling, tanpa sengaja kami melihat Yang Mulia Ratu. Lalu Permaisuri meminta kami untuk tidak mengikutinya. Sedangkan Permaisuri sendiri menguping apa yang dibicarakan oleh Yang Mulia Ratu dengan pelayannya. Kami sama sekali tidak tahu apa yang sudah di dengar oleh Permaisuri.

__ADS_1


Pangeran Dalson memandang ke depan dengan wajah yang geram. "Ternyata dia yang sudah membuat Reine marah!"


__ADS_2