
Tidak ada yang bisa mereka lakukan selain pasrah kepada takdir. Langit semakin gelap tetapi bantuan tidak juga datang. Pangeran Dalson tidak pernah takut jika bermalam di hutan belantara tersebut. Ia justru mengkhawatirkan kesehatan Reine.
Harimau kesayangannya pasti bisa melindunginya dari binatang buas. Namun hewan buas itu tidaklah bisa melindungi mereka dari dinginnya malam dan berbagai penyakit yang ada di hutan.
“Kau lapar?” tanya Pangeran Dalson.
“Tidak. Nafsu makanku hilang begitu saja saat kita terjebak di hutan ini. Sungguh menyebalkan! Apa ini kejutan yang ingin kau tunjukkan padaku itu?” ketus Reine. Justru sekarang gantian dia yang galak.
“Bukankah sudah aku bilang. Aku membawamu ke hutan karena ingin melindungimu dari orang-orang yang ingin mencelakaimu. Kenapa sekarang kau menagih sebuah kejutan? Kenapa kau percaya begitu saja padaku? Kenapa kau yakin sekali kalau aku sudah menyiapkan sebuah kejutan untukmu?”
Nada bicara Pangeran Dalson tidak kalah galaknya dari Reine. “Sudahlah, aku mau tidur. Jika sudah malam bangunkan aku.” Pria itu bukan memikirkan jalan keluar justru kini memilih untuk istirahat.
Reine yang kesal hanya bisa menghela napas kasar. Wanita itu melirik harimau yang ada di depannya sebelum mendekati Pangeran Dalson. Dia tidak mau sampai di terkam oleh binatang buas tersebut ketika Pangeran Dalson tidur.
“Reine.”
Reine terperanjat kaget ketika Pangeran Dalson kembali membuka mata. Namun ada hal penting yang membuat Reine semakin bersemangat saat itu. Tatapan mata itu milik Darren. Kekasihnya telah kembali.
“Darren?” Tanpa menunggu lagi Reine memeluk Darren dengan erat. Wanita itu bahagia sekali karena bisa bersama Darren lagi seperti ini.
“Apa kau baik-baik saja? Bagaimana dengan anak kita?” Darren langsung memeriksa perut Reine. Hal itu membuat Reine bingung.
__ADS_1
“Kau sudah mengetahuinya?”
“Apapun yang kau lakukan sekarang aku bisa melihatnya dengan jelas. Termasuk ketika kau berakting manis di depan Pangeran Dalson.” Wajah cemburu Darren terlihat jelas hingga membuat Reine menjadi bersalah.
“Sayang, kau harus tahu kalau aku-”
“Aku tidak marah. Aku senang melihatmu Reine. Pangeran Dalson memang sudah mencurigai dirinya sendiri. Dia mulai sadar kalau ada yang aneh. Dia mulai tahu kalau raganya aku manfaatkan selama ini.”
Darren memegang tangan Reine. “Aku memiliki satu cara untuk menyelesaikan semua masalah ini. Solusi ini adalah kebahagiaan yang selama ini kita impikan sayang. Hanya kau yang bisa melakukannya.” Tatapan tulus Darren membuat Reine mengangguk setuju meskipun wanita itu tidak tahu rencana apa yang sudah disiapkan oleh kekasihnya.
“Aku merindukanmu.” Reine kembali memeluk Darren.
“Menghilang selamanya?” Reine melepas pelukannya dan menatap Darren dengan serius.
“Bagaimana caranya?”
“Membunuh jiwanya.”
Reine menggeleng tidak percaya. “Jika aku membunuhnya, itu hanya akan membuat dia mati dan kau tidak memiliki tempat untuk muncul sebagai manusia.”
“Aku bilang bunuh jiwanya. Bukan raganya.”
__ADS_1
“Jiwanya?” Reine semakin penasaran.
“Buat dia jatuh cinta padamu Reine. Lalu patahkan hatinya hingga akhirnya dia tidak lagi memiliki belas kasih di jiwanya. Dia akan menjadi orang paling jahat. Saat itu aku akan menguasai jiwanya dan mengubur Pangeran Dalson jauh di alam bawah sadarnya. Selamanya dia tidak akan kembali. Hanya ada aku.” Darren menjelaskannya dengan sungguh-sungguh.
“Tapi, bagaimana jika aku gagal?” Reine terdiam ketika Darren memejamkan matanya. Saat membuka mata, tatapan mata itu sudah kembali pada Pangeran Dalson. Reine memperhatikan keadaan sekitar. Sayangnya dia tidak lagi bisa melihat wujud Darren saat menjadi arwah seperti dulu. Namun dia yakin kalau Darren ada di sekitar sana.
“Apa yang kau cari? Kau tidak tidur?” tanya Pangeran Dalson. Pria itu bertingkah seperti tidak terjadi sesuatu pada tubuhnya. “Apa aku sudah tidur tadi? Kenapa aku masih merasa lelah?”
“Jelas saja capeknya tidak hilang. Kau tertidur di tempat yang tidak seharusnya,” jawab Reine dengan nada jutek.
Pangeran Dalson berdiri lalu mengusap harimau yang sejak tadi menjaganya. “Pergilah. Aku bisa menjaga diriku dengan baik.” Harimau itu juga berdiri dan segera pergi.
“Kita mau kemana?”
“Jalan pulang,” jawab Pangeran Dalson.
“Kau tahu kemana arah jalan pulang?” tanya Reine tidak percaya.
“Aku pemimpin wilayah ini. Bagaimana mungkin aku tidak tahu?” ledek Pangeran Dalson. Pria itu tertawa karena merasa puas sudah mengerjai Reine.
Sambil mengepal kuat tangannya Reine mengikuti Pangeran Dalson dari belakang. “Aku tidak mungkin bisa membuatnya jatuh cinta. Dia ini pria yang menyebalkan!” umpat Reine di dalam hati.
__ADS_1