
Pengeran Dalson berusia 28 tahun. Sebenarnya di usianya yang sekarang, tidak akan menjadi beban baginya jika dia belum menikah. Namun tidak dengan Yang Mulai Ratu. Wanita itu sudah memikirkan generasi selanjutnya. Dia mau sebelum wafat sudah melihat calon pewaris kerajaan. Bahkan Yang Mulia Ratu berharap bisa menemani tumbuh kembang generasi penerus.
Ketika Reine terlihat tidak tenang karena sebentar lagi akan menikah. Berbeda jauh dengan pangeran yang justru terlihat senang menyambut pernikahan ini. Padahal wanita yang ia nikahi bukan merupakan wanita impiannya. Reine Sangat jauh berbeda jika dibandingkan dengan wanita yang selama ini dikenal oleh pangeran. Bahkan Pangeran juga tidak cinta dan sama sekali tidak tertarik dengan Reine. Pangeran mau menikahi Reine karena ia akan memiliki mainan baru. Ya. Bagi Pangeran Reine itu hanya sebuah boneka yang akan dia mainkan untuk bersenang-senang. Tidak pernah terlintas di benaknya untuk menjadikan Reine pasangan hidup dan memandang wanita itu sebagai seorang istri. Pangeran memandang Reine sebelah mata. Setelah Pangeran tahu kalau Reine berasal dari sebuah asrama, pria itu semakin bersemangat untuk menjadikan Reine sebagai boneka mainannya.
Malam ini, Pangeran berkumpul dengan anggota kerajaan yang usianya seumuran dengannya. Pangeran terlihat tenang sambil membayangkan kira-kira permainan apa yang bisa ia mainkan ketika sudah menikah dengan Reine nanti. Tangannya sudah tidak sabar untuk menyiksa tubuh mungil wanita itu. Senyum licik terukir di bibirnya hingga membuat orang yang ada di sana merasa curiga.
"Pangeran, Apa anda sedang membayangkan calon istri anda?" tanya salah satu sepupu pangeran yang ada di sana.
"Tidak. Aku tidak pernah memikirkannya. Bahkan wajahnya saja aku sudah lupa. Aku sedang memikirkan masa depanku. Aku ingin kerajaanku damai dan sejahtera," dusta Pangeran. Dia sama sekali tidak mau menceritakan apa yang sebenarnya ia rasakan dan ia pikirkan. Pangeran tidak mau niat jahatnya ini diketahui yang mulia ratu dan membuat pernikahan mereka gagal.
"Benarkah jika Anda sedang memikirkan kesejahteraan Kerajaan kita? Tapi kenapa kami tidak percaya. Calon istri anda adalah wanita yang sangat cantik. Ini pertama kalinya kami melihat wanita secantik dia. Mohon maafkan kami karena kami telah memuji calon istri anda secara diam-diam selama ini. Tapi memang tidak bisa dipungkiri kalau Nona Reine memang sangat cantik. Meskipun ia dibalut oleh pakaian yang sederhana tetapi dia tetap terlihat bersinar di antara yang lainnya. Yang mulia Ratu tidak pernah salah memilih jodoh. Anda dan Nona Reine memang pasangan yang serasi."
Mendengar nama Reine disebut-sebut, Pangeran kembali ingat dengan wajah Reine. Padahal tadinya sedetik saja wajah wanita itu tidak pernah muncul di benaknya. "Kalau dipikir-pikir lagi dia memang wanita yang cantik dan sangat menarik. Tapi itu tidak bisa membuatku lupa kalau dia hanya berasal dari sebuah panti asuhan. Asal usulnya tidak jelas. Tidak ada yang tahu dia keturunan dari mana. Sampai kapanpun kami tidak akan pernah bisa dipandang sebagai pasangan yang serasi," gumam Pangeran di dalam hati.
"Pangeran, Selamat malam. Sebaiknya anda kembali ke kamar anda. Besok adalah hari pernikahan anda. Jangan sampai Anda mengantuk ketika proses pernikahan Anda berlangsung," ucap salah satu sepupu yang ada di sana.
Pangeran beranjak dari kursi yang sejak tadi ia duduki. "Baiklah kalau begitu saya pamit undur diri. Sampai berjumpa lagi di esok hari." Tanpa banyak kata lagi, Pangeran segera pergi meninggalkan ruangan itu. Diikuti oleh pengawal yang sejak tadi menjaganya. Sambil berjalan Pangeran mengamati lokasi sekitar. Hingga tiba-tiba saja pria itu merampas pedang salah satu penjaga dan melemparnya ke arah sebuah lorong. Terdengar suara ringisan seorang pria. Penjaga yang ada di sana segera berlari menuju ke suara tersebut. Para sepupu yang ada di kursi juga segera beranjak dari kursi mereka dengan wajah khawatir.
"Ada penyusup," teriak salah satu penjaga yang saat itu ada di lorong gelap.
"Bawa dia ke ruang eksekusi dan jadikan ia makanan serigala peliharaanku!" Perintah Pangeran sebelum melanjutkan langkahnya.
__ADS_1
Semua orang yang ada di sana saling memandang satu sama lain. Mereka memang sudah tidak kaget lagi melihat watak pangeran yang kejam. Namun yang tidak mereka habis pikir sampai mau menikah pun Pangeran tidak juga berubah. Dia tetap menjadi pangeran yang begitu menakutkan. Hebat dan tidak terkalahkan. Instingnya selalu kuat ketika ada penyusup yang masuk ke dalam istana. Entah bagaimanapun bentuk penyamaran seorang penyusup pasti bisa diketahui olehnya.
Malam ini contohnya. Penyusup itu dikirim oleh seseorang untuk membunuh Pangeran dengan cara menggunakan panah. Tetapi belum sempat busur panah itu menancap di dada pangeran, pangeran sudah lebih dulu menusukkan pedang ke dada pria itu. Lemparan pedang Pangeran juga sangat jitu. Sejauh ini tidak pernah ada yang meleset. Meskipun target yang ia incar tidak terlihat di depan mata, tetapi pria itu selalu bisa melempar tepat sasaran.
"Perketat penjagaan istana. Aku tidak mau kejadian seperti ini terulang lagi. Terutama lokasi Yang Mulia Ratu. Pastikan di sana aman," Perintah Pangeran sambil berjalan cepat.
"Baik pangeran," sahut pengawal yang sejak tadi mengikuti pangeran. Mereka segera melaksanakan tugas yang diberikan pangeran. Sebagian lagi tetap berada di sisi Pangeran untuk menjaga pria itu sampai masuk ke kamar.
***
Reine dan Mora sama-sama terkejut ketika seorang pelayan wanita menerobos masuk ke dalam kamar. Wanita itu terlihat sangat tergesa-gesa. Dia meletakkan cermin kecil di meja sebelum memandang Reine. "Nona, ini hadiah kecil dari saya untuk anda. Saya memberikan hadiah ini sebagai ucapan selamat saya karena anda akan menikah dengan pangeran. Dilihat dari harganya mungkin cermin ini tidak seberapa. Tetapi saya akan sangat senang sekali Jika anda mau menerima hadiah kecil saya ini," ucap wanita itu sambil menunduk. Dia bahkan tidak berani memandang wajah Reine secara langsung ketika tahu kalau wanita itu adalah calon istri pangeran.
"Cermin apa ini?" Mora mendekati wanita itu untuk memeriksa cermin yang ada di genggaman tangannya. Sebagai seorang pelayan pribadi Mora juga harus memeriksa dan memastikan kalau benda yang ingin dipegang oleh Reine sudah terjamin.
"Benarkah? Semakin kau berbicara seperti itu Aku semakin curiga. Sekarang cepat berikan cermin itu kepadaku aku akan memeriksanya sendiri. Setelah aku yakin kalau cermin itu tidak beracun aku akan memberikannya kepada Nona Reine."
"Mora Kenapa kau seperti itu? Jangan lukai hatinya dengan perkataanmu," sahut Reine tidak suka. "Kemarilah. Berikan cermin itu kepadaku. Aku senang sekali karena masih ada yang perhatian denganku hingga rela repot-repot untuk menyiapkan sebuah hadiah."
"Terima kasih, Nona." Pelayan itu beranjak dari posisinya dan berjalan mendekati Reine. Mora yang masih curiga berpikir keras untuk menggagalkan rencana jahat pelayan tersebut. Sejak pertama kali melihat ekspresi wajah pelayan itu, Mora sendiri sudah merasa kalau ada hal yang tidak beres. Tetapi dia tidak mau sampai pelayan itu menyadari kecurigaannya.
Mora memajukan satu kakinya ke depan hingga membuat wanita itu tersandung. Bersamaan dengan itu cermin yang ada di genggaman tangannya terjatuh dan pecah. Reine melebarkan kedua matanya dengan tatapan marah kepada Mora. Dia tahu kalau Mora sengaja melakukan semua ini. Berbeda dengan Mora yang tidak merasa bersalah sama sekali. Ditambah lagi ketika dia melihat ada serbuk yang keluar dari gagang cermin tersebut.
__ADS_1
"Mora, apa yang sudah kau lakukan. Kenapa kau mau buat hadiahku rusak?"
"Anda bisa mati kapan saja jika sikap anda seperti ini, Nona," jawab Mora juga kesal.
"Apa maksudmu bicara seperti itu?"
"Nona, dari sini kita bisa lihat dengan jelas kalau di gagang cermin itu sudah ada serbuk yang kita sendiri tidak tahu itu serbuk apa. Bisa saja serbuk itu adalah racun yang bisa membuat wajah anda rusak. Anda harus ingat Nona, kalau besok adalah hari pernikahan anda. Semakin dekat waktunya maka semakin banyak orang yang menginginkan kematian anda!"
Reine memandang ke cermin itu lagi. Bersamaan dengan itu, pelayan yang membawakan cermin kayu tersebut terlihat ketakutan. Dia berlutut di lantai dengan tubuh gemetar. Dia tahu kalau kini dia telah ketahuan. Mau menghindar juga tidak bisa karena barang bukti sudah ada di depan mata.
"Apa benar kau sengaja merencanakan semua ini? Apa benar kalau cermin itu akan meracuniku?" tanya Reine dengan wajah polosnya.
"Maafkan saya, Nona. Saya disuruh oleh seseorang.
"Alasanmu sudah terlalu sering dipakai. Carilah alasan lain yang sedikit bermanfaat," ketus Mora jengkel. "Pengawal," teriak Mora
"Mora, Apa yang ingin kau lakukan?" tanya Reine bingung.
"Jelas saja aku ingin menghukum wanita ini. Apa yang dia lakukan telah merugikan banyak orang. Kita tidak bisa membiarkannya untuk tetap hidup."
Para pengawal yang mendengar teriakan Mora segera masuk ke dalam kamar tersebut. Tanpa panjang, pengawal itu menyeret pelayan jahat agar pergi keluar meninggalkan kamar Reine.
__ADS_1
Reine awalnya merasa tidak tega namun dia juga tidak bisa melakukan apapun. Wanita itu kembali duduk dengan wajah sedih. Belum juga menikah dengan pangeran dia sudah melihat peristiwa yang begitu mengerikan. Reine merasa tidak siap jika seumur hidupnya dihabiskan dengan hal-hal seperti ini.