The Ghost Prince

The Ghost Prince
Malam Panjang


__ADS_3

Reine bernapas lega ketika menapat surat dari asrama kalau sekarang pelayan yang tadi dia tolong telah tiba di asrama dengan selamat. Karena mendapat kabar kalau ada masalah di perbatasan, akhirnya Pangeran Dalson tidak peduli lagi dengan nasip pelayan tersebut dan memutuskan untuk segera pergi meninggalkan istana.


Kini Reine benar-benar senang. Dia tidak perlu merasa kesal dan sakit hati melihat Pangeran Dalson. Malam itu, karena tidak bisa tidur akhirnya Reine memutuskan untuk berkeliling istana sekedar menghirup udara segar.


“Darren, tiba-tiba saja aku merindukanmu. Apa tidak ada cara lain yang bisa dilakukan agar kau bisa selalu hadir saat aku butuhkan? Kenapa harus menggunakan tubuh Pangeran sialan itu?” umpat Reine di dalam hati. Reine duduk di permukaan rumput dan memandang ke atas langit. Tidak jauh dari posisi Reine berada, ada kolam renang yang kini diterangi cahaya lampu. Pemandangan di sana memang sangat enak untuk dipandang saat malam hari seperti ini.


“Reine!”


Reine mengernyitkan dahinya ketika seseorang memanggilnya dari belakang. Suaranya memang tidak asing hingga membuatnya sangat penasaran. Pangeran Dalson berdiri di sana dengan seragam lengkapnya. Bahkan pria itu belum juga berganti pakaian.


“Pangeran Dalson?” celetuk Reine ragu. Wanita itu beranjak lalu memperhatikan ekspresi Pangeran Dalson dengan saksama.


“Ini aku,” ucapnya lagi. Pria itu segera menghampiri Reine. Dia memeluk Reine dengan penuh kerinduan. Mengecupnya dengan penuh cinta dan mesra.


“Darren?” ucapnya ragu.


"Ya, ini aku. Tidak mungkin pangeran itu berani merayumu seperti ini," ucap Darren dengan santai.


Reine tersenyum mendengarnya. "Bukankah seharusnya Pangeran Dalson ada di perbatasan?"


"Panglima perang yang dimiliki Pangeran Dalson memang aku akui sangat hebat. Ketika Pangeran Dalson tiba untuk membantu, justru masalah sudah selesai. Para pemberontak sudah berhasil diatasi dengan mudah. Pangeran Dalson memutuskan untuk segera pulang. Tetapi diperjalanan dia sangat lengah hingga akhirnya raganya ini berhasil aku ambil," jelas Darren hingga membuat Reine mengangguk mendengarnya.


"Aku senang kau ada di sini. Aku memang sangat merindukanmu."

__ADS_1


Reine mendaratkan bibirnya di bibir Darren hingga akhirnya cumbuan mesra itu tidak bisa dihindari lagi. Darren membimbing Reine untuk duduk di atas pangkuannya. Mereka bercumbu di permukaan rumput yang hijau di saksikan oleh taburan bintang yang sangat indah.


"Reine, aku sangat merindukanmu. Apa boleh jika aku-"


Ucapan Darren tertahan. Hantu tampan itu sangat ingin memiliki Reine lagi. Namun Reine selalu terlihat tidak senang ketika mereka sedang berhubungan badan karena tubuh yang digunakan Darren adalah tubuh pria yang sangat dibenci oleh Reine.


"Bagaimana kalau aku hamil? Darren, apa tidak ada cara lain agar kau tidak lagi menghilang? Aku ingin kau selalu ada di tubuhnya seperti ini."


"Aku sudah berusaha sekuat mungkin. Tapi hasilnya percuma. Reine, sebenarnya ada satu cara yang bisa membuat Pangeran Dalson tidak bisa kembali ke raganya. Emosi. Jika dia tertidur dalam keadaan emosi, mungkin aku bisa lebih lama menguasai tubuhnya. Tetapi sejauh ini aku lihat, Pangeran Dalson pria yang sangat pintar mengatur emosinya. Dia pria yang cerdas."


"Emosi?"


"Ya. Ketika kita marah, kita bukan lagi diir kita sendiri. Kita sudah dikendalikan oleh setan. Di saat itu aku bisa masuk dengan mudah," jawab Darren.


"Itu berarti kau setan?" Reine menyipitkan kedua matanya.


Tidak jauh dari posisi Reine dan Darren berada, ada Yang Mulia Ratu. Wanita itu berdiri dengan wajah cemburu. Kedua tangannya terkepal kuat. Meskipun tidak tahu apa yang dibicarakan oleh Darren dan Reine. Namun hanya melihatnya saja sudah membuatnya sakit hati.


"Tidak! Aku tidak boleh cemburu. Pasti dia melakukan semua ini karena demi mendapatkan anak. Setelah wanita itu hamil dan melahirkan putra mahkota, maka aku sendiri yang akan menyiksanya. Dia harus merasakan apa yang aku rasakan saat ini!" batin Yang Mulia Ratu penuh dendam.


***


Setelah pelepasan yang kesekian kalinya, akhirnya tubuh Reine ambruk di atas tubuh Darren. Wanita itu merasa lemas hingga memutuskan untuk segera memejamkan mata. Tenaganya terkuras habis karena percintaannya dan Darren yang begitu panas.

__ADS_1


"Aku mencintaimu, Reine." Darren mengecup pucuk kepala Reine. Pria itu membimbing tubuh Reine agar tidur di samping. Dia segera memeluk tubuh polos Reine dengan begitu posesif. Pria itu tidak tidur.


Dia berusaha tetap terjaga agar Pangeran Dalson tidak kembali. Darren tidak mau sampai Pangeran Dalson menyakiti Reine. Kemarin saat melihat Pangeran Dalson menampar wajah Reine, pria itu begitu mengumpat. Dia ingin sekali membalas perbuatan Pangeran Dalson.


"Aku akan seperti ini sampai dia benar-benar meninggalkan raganya," gumam Darren.


Tidak terasa waktu cepat berlalu. Hingga matahari kembali muncul dipermukaan. Darren merasa senang karena dia masih bertahan di dalam tubuh Pangeran Dalson. Pria itu mengusap punggung Reine sebelum mengecupnya berulang kali.


Reine membuka matanya lalu menjauh. Wanita itu berpikir kalau Darren telah pergi karena biasanya Darren tidak pernah lama di tubuh Pangeran Dalson.


"Sayang, ini aku." Darren menarik leher Reine dan mencumbunya mesra. Setelah masuk ke dalam tubuh Pangeran Dalson, nafsu pria itu semakin besar. Dia sendiri kesulitan mengontrol itu semua.


"Darren, kau masih ada?" tanya Reine ragu.


"Hemm, tapi aku sangat membutuhkanmu. Entah kenapa. Tubuhmu membuatku tergila-gila, Reine." Darren kembali memasukkan milik Pangeran Dalson. Pria itu memiliki Reine untuk kesekian kalinya.


Reine menahan suara yang akan keluar dari bibirnya. Wanita itu tidak mau sampai ada yang mendengar apa lagi ini sudah pagi.


Darren menyiramkan benih milik Pangeran Dalson ke rahim Reine. Pria itu sendiri juga tidak tahu kenapa dia lupa kalau Reine tidak boleh sampai hamil anak Pamgerna Dalson.


"Reine, kau memang sempurna," puji Darren. Pria itu kini sudah berbaring di samping Reine.


Reine tiba-tiba memeluk Darren. "Aku mencintaimu."

__ADS_1


Dalam hitungan detik tatapan Darren berubah. Pangeran Dalson telah kembali. Pria itu melirik Reine yang kini tertidur di dadanya.


"Apa yang terjadi? Kenapa aku ada di sini?"


__ADS_2