The Ghost Prince

The Ghost Prince
Lain Haluan


__ADS_3

"Reine."


Reine segera memutar tubuhnya ketika mendengar suara seseorang yang sangat akrab dengan dirinya. Ada senyum bahagia di bibir Reine ketika melihat Darren berdiri di sana. Namun ekspresi sedih di wajah Darren membuat Reine terlihat bingung.


"Darren, kenapa kau bisa ada di sini? Apakah kau sedang menungguku?"


"Reine, apakah kau sudah tidak cinta lagi padaku?"


"Kenapa kau bertanya seperti itu?" Reine terlihat bingung. Dengan wajah yang panik wanita itu segera menggenggam tangan kekasihnya. "Hanya kau satu-satunya pria yang aku cintai," sambung Reine lagi.


Darren segera menarik tangannya dan memalingkan wajahnya. "Kau bohong Reine. Namaku sudah tidak ada lagi di dalam hatimu."


"Darren, aku masih mencintaimu. Kenapa tiba-tiba kau meragukan cintaku?"


"Kau mencintai dia."

__ADS_1


Reine geleng-geleng kepala. Dia masih tidak habis pikir dengan tuduhan Darren. "Dia siapa?"


"Dalson!"


Reine langsung tertegun mendengarnya. "Aku ...." Kali ini Reine benar-benar kehabisan kata-kata untuk membela diri.


Tiba-tiba saja Darren tertawa terbahak-bahak seolah-olah ada lelucon di sana. Hal itu membuat Reine semakin bingung. "Maafkan Aku," ucap Reine dengan wajah yang dipenuhi rasa bersalah.


"Sayang, kau tidak perlu meminta maaf seperti itu. Aku senang. Bukankah semua ini adalah bagian dari rencana kita. Ya memang aku akui kalau aku sangat cemburu ketika melihatmu bermesraan dengannya. Tetapi memang ini tujuan utama kita.


...***...


Reine membuka matanya lebar-lebar dan langsung terduduk. Pangeran Dalson yang menyadari hal itu segera membuka matanya. Dia juga tampak kaget ketika melihat Reine sudah duduk dengan wajah yang kebingungan.


"Apa kau mimpi buruk?" tanya Pangeran Dalson dengan lembut.

__ADS_1


Reine memandang ke arah Pangeran Dalson sambil menggeleng pelan. "Selama hamil aku memang sering bangun tiba-tiba seperti ini."


Pangeran Dalson memandang perut Reine. Pria itu langsung mengusap perut istrinya. "Anak Daddy, jangan nakal ya. Biarkan malam ini mamimu tidur dengan nyenyak bersama Daddy," bisik Pangeran Dalson.


Reine kembali ingat dengan pertemuannya bersama Darren. Meskipun hanya ada di dalam mimpi akan tetapi semua terasa begitu nyata. Seolah-olah memang Darren berdiri di hadapannya dan sedang memperingatinya.


"Sebenarnya apa yang aku pikirkan. Bukankah sejak awal tujuan utamaku adalah membuat Darren berhasil menguasai tubuh Pangeran Dalson? Tapi kenapa semakin ke sini aku semakin ragu untuk melakukannya. Bahkan rasanya sudah tidak ada rasa rindu lagi ketika Darren tidak muncul.


Apa ini yang dinamakan cinta? Apa aku sudah jatuh cinta dengan Pangeran Dalson? Lalu bagaimana dengan perasaanku dengan Daren selama ini? Bukankah itu juga namanya cinta. Jika seperti ini keadaannya apa bisa dibilang kalau aku sedang selingkuh? Kepalaku benar-benar pusing memikirkan semua ini," gumam Reine di dalam hati.


"Ayo cepat berbaring lagi. Langit masih sangat gelap. Jika kau tidak tidur lagi, memangnya apa yang ingin kau lakukan?" Pangeran Dalson memperhatikan wajah Reine dengan saksama.


Reine mengangguk sebelum membaringkan tubuhnya. Pangeran Dalson menarik selimut dan menyelimuti tubuh Reine. Tidak lupa pria itu mengusap rambut Reine dan mengecup pucuk kepalanya.


"Selamat tidur," ucap Pangeran Dalson dengan mesra sebelum pria itu memejamkan mata dengan posisi memeluk tubuh Reine.

__ADS_1


__ADS_2