The Ghost Prince

The Ghost Prince
Rencana Jitu


__ADS_3

Pangeran Dalson menemui seseorang yang cukup hebat. Di sana dia menceritakan semua yang terjadi padanya. Dimulai dari dirinya yang merasa kalau ada seseorang ditubuhnya. Beberapa aktifitas yang sama sekali tidak dia sadari. Semua hal yang mencurigakan diceritakan oleh Pangeran Dalson. Namun sayangnya, jawaban dari orang hebat itu justru sama sekali tidak memuaskan.


"Pangeran, seperti anda berhalusinasi. Ini bisa saja terjadi jika seseorang merasa sangat kelelahan. Bahkan orang yang memiliki banyak beban pikiran juga sering tidak sadar dengan apa yang dia lakukan," jelas pria itu dengan ekspresi wajah yang serius.


"Kau yakin?" tanya Pangeran Dalson tidak percaya. "Tapi aku tidak merasa seperti itu. Selama ini hidupku baik-baik saja. Aku merasa seseorang sedang mengendalikan diriku," ucap Pangeran Dalson. Dia segera berdiri karena ingin segera pergi. "Tapi jika kau tidak bisa membantuku, aku tidak akan marah. Aku bisa mencari tahu sendiri!" ketus Pangeran Dalson sebelum melangkah pergi.


Di depan, Pangeran Dalson sudah di tunggu oleh pengawal pribadinya. Pria itu segera kembali ke istana.


Tidak butuh waktu lama Pangeran Dalson sudah tiba di istana. Baru juga ingin melangkahkan kakinya dia sudah di sambut oleh Yang Mulia Ratu. Mata wanita itu terlihat bengkak. Pangeran Dalson tahu kalau dia baru saja menangis. Dengan wajah khawatir Pangeran Dalson segera mendekatinya.

__ADS_1


"Apa yang terjadi?" Sebelum melanjutkan kalimatnya Pangeran Dalson memandang ke pengawal yang ada di sana. Tanpa diberi perintah mereka semua segera meninggalkan Pangeran Dalson dan Yang Mulia Ratu berduaan di sana.


"Kau masih sanggup bertanya?" ketus Yang Mulia Ratu. "Apa kau lupa dengan apa yang kau lakukan tadi malam? Bahkan itu semua tidak cukup. Kau masih bermesraan dengannya saat pagi hari!"


"Malam?" Pangeran Dalson kali ini ingin mencari petunjuk dari Yang Mulia Ratu.


"Tapi aku memang tidak mengingatnya," sahut Pangeran Dalson.


"Stop! Aku tidak tahan lagi. Aku rasa benih yang kau siram ke rahim wanita itu sudah cukup. Sekarang lebih baik kau tidak menemuinya lagi. Kita hanya tinggal menunggu kabar kehamilannya saja." Yang Mulia Ratu memegang tangan Pangeran Dalson. "Aku cemburu. Hanya aku yang boleh menyentuhmu. Aku tidak suka kau dekat dengan wanita lain."

__ADS_1


"Baiklah," jawab Pangeran Dalson pasrah. Dia sendiri juga tidak memiliki kuasa karena kini semuanya di atur oleh Yang Mulia Ratu.


Dari kejauhan, Reine menguping apa yang dibicarakan oleh Yang Mulia Ratu dan Pangeran Dalson. Wanita itu merasa geram mendengarnya. Dia juga terus saja menyalahkan dirinya sendiri karena sudah ceroboh. Meskipun selama ini Reine bercinta dengan Darren. Tapi tetap saja benih yang disiram adalah benih milik Pangeran Dalson. Kalaupun dia hamil itu anak Pangeran Dalson.


"Aku harus mencari cara agar tidak hamil. Sekarang bukan waktu yang tepat untuk hamil." Reine segera pergi menjauh. Dia juga tidak mau sampai ketahuan.


Tiba-tiba saja Reine merasa mual. Dia ingin muntah dan kepalanya terasa sangat berat. Wanita itu memegang kepalanya. "Kenapa ini? Kenapa aku tiba-tiba sempoyongan?"


Reine segera duduk di kursi yang tidak jauh darinya. Wanita itu memegang perutnya yang masih rata. "Tidak. Ini tidak mungkin!"

__ADS_1


__ADS_2