The Ghost Prince

The Ghost Prince
Bukan Malam Pertama


__ADS_3

Pangeran Dalson memegang tangan Reine ketika wanita itu ingin merapikan pakaiannya. Dengan kasar Pangeran Dalson menyeret Reine dan melemparkannya ke ranjang.


"Apa yang anda lakukan? Sakit!" protes Reine. Wanita itu meringis kesakitan. Dia sangat tidak menyangka kalau Pangeran Dalson adalah pria yang begitu kasar. Wajahnya saja yang mirip dengan Darren. Tapi kelakuannya, berbeda jauh sekali.


Mau tidur nggak Pangeran Dalson berjalan ke sudut ruangan. Pria itu mengambil sesuatu dari sana. Membawanya ke arah tempat tidur. Dan melebarkan matanya melihat sesuatu yang kini ada di genggaman tangan Pangeran Dalson . Sebuah cambuk. Minta untuk apa suaminya mengambil benda seperti itu.


"Tidak perlu meringis kesakitan karena permainan yang sesungguhnya baru saja akan dimulai." Pangeran Dalson memegang cambuk itu dengan lembut sebelum mencabikannya ke tubuh Reine. Jelas saja hal itu membuat Reine meringis kesakitan. Ini pertama kalinya ia disiksa seperti ini. Selama hidupnya dia hanya diperlakukan dengan penuh kasih sayang.

__ADS_1


"Hentikan. Aku mohon," lirihnya dengan air mata berlinang.


Pangeran Dalson memang menghentikan aksinya. Tetapi bukan karena dia merasa kasihan. Dia hanya sedang tidak tertarik saja untuk melanjutkan permainannya. Pria itu mendekati Reine lalu membisikkan sesuatu di telinganya.


"Jangan katakan hal ini pada siapapun. Karena jika kau sampai mengatakannya Aku akan memberimu hukuman yang lebih berat lagi. Kau orang baru di istana ini. Aku yang lebih tahu dengan siapa kau akan bertemu. Jika besok ada yang bertanya Bagaimana dengan malam pertama kita. Jawab saja kau begitu tergila-gila denganku."


Pangeran Dalson mengutip bajunya lalu memakainya dengan segera. Pria itu meninggalkan Kamar tidurnya tanpa mempedulikan keadaan Rein yang kini terlihat sangat menyedihkan.

__ADS_1


"Darren, Aku membutuhkanmu. Bawa aku pergi dari sini," lirih Reine


Rasanya Dia menyesal sekali sudah menikah dengan pangeran Dalson . Kebahagiaan yang sempat diceritakan oleh semua orang ternyata hanya sebuah kata-kata saja. Pada kenyataannya dia justru menjadi lebih menderita setelah menikah. Ini baru satu malam. Entah apa yang terjadi selanjutnya.


Reine memandang keadaan sekitar kamar itu. Wanita itu berharap Darren muncul di sana. Wajahnya menjadi kecewa ketika ia kembali ingat dengan apa yang pernah dikatakan oleh Darren. Pria itu tidak bisa lagi muncul di hadapannya ketika dia sudah menikah dengan orang lain. Hubungannya dengan Darren benar-benar sudah berakhir. Sekarang di saat ia susah dan butuh pertolongan tidak akan ada lagi yang membujuknya dan menguatkannya. Dia harus menyembuhkan sakit yang ia rasakan dengan sendirinya.


Di depan kamar, Pangeran memandang beberapa pelayan yang bekerja untuknya. Dia tahu kalau pelayan-pelayan itu mendengar apa yang terjadi di dalam kamar. Sebelum pergi Pangeran ingin memperingati lagi pelayan-pelayan tersebut.

__ADS_1


"Pastikan kalian tidak mendengar apapun dan tidak menceritakan apapun jika kalian masih ingin bekerja di istana ini!" ancam Pangeran Dalson sebelum melangkah pergi.


Pelayan yang ada di sana hanya bisa menunduk saja dengan wajah ketakutan. Sebenarnya mereka juga kasihan mendengar apa yang terjadi di dalam sana. Suasana bahagia yang tadinya mereka bayangkan berakhir dengan air mata. Selama ini mereka tidak tahu kalau sebenarnya pangeran yang mereka hormati adalah pria yang begitu kejam. Kejadian malam ini membuat mereka percaya kalau Pangeran Dalson bersikap baik jika di depan semua orang. Namun mereka semua hanya pelayan rendahan. Mereka lebih baik memilih diam daripada harus mendapat hukuman. Saat ini hati mereka juga teriris perih mendengar isak tangisan Reine dari dalam kamar.


__ADS_2