
Reine kembali merasakan sakit pada perutnya. Padahal tadi sudah susah-susah dia berbohong agar Pangeran Dalson tidak mengetahui kehamilannya. Ya, dengan mudahnya Reine bilang kalau dia sedang datang bulan. Pangeran Dalson percaya begitu saja atas apa yang dikatakan oleh Reine. Bahkan pria itu memberikan taksedo yang ia pakai untuk menutupi darah pada gaun Reine.
"Perutku. Sebenarnya apa yang terjadi pada anak ini. Apa dia kelaparan? Astaga. Aku memang hanya makan sedikit makanan tadi. Perutku terasa mual dan mulutnya tidak berselera untuk makan. Lalu sekarang aku harus bagaimana?"
Reine kembali duduk dan terlihat gelisah. Padahal sebelumnya wanita itu sudah berbaring dengan tenang di dalam sebuah tenda yang disiapkan para pengawal.
"Dimana Pangeran Dalson? Apa dia ada di luar?" Reine ingin keluar dari tenda dan mencari makanan. Akan tetapi tiba-tiba dia mendengar obrolan dua pengawal yang sudah berdiri di depan tenda.
"Bagaimana kalau Pangeran Dalson kembali? Ini sangat beresiko," ujar salah satu pengawal.
"Apa kau mau mati? Kita harus menyelesaikan tugas ini!" sahut rekannya.
"Sebenarnya apa yang mau mereka lakukan?" batin Reine mulai curiga. Wanita itu melihat belatih milik Pangeran Dalson yang tergeletak di dekat botol air minum. Reine segera mengambil senjata tajam tersebut dan menyembunyikannya di balik gaun. Lalu wanita itu kembali tidur untuk memastikan apa benar dua pengawal di depan ingin mencelakainya.
Dua pengawal itu benar masuk ke dalam tenda. Kali ini Reine semakin yakin kalau mereka berdua memiliki niat jahat terhadapnya. Reine masih berusaha tenang agar dua pengawal itu berpikir kalau dia masih tidur.
Dua pengawal tersebut saling memandang satu sama lain. Mereka saling melempar tugas untuk membunuh Reine malam itu. Hingga tanpa mereka sadari, Reine tiba-tiba membuka mata dan menusukkan belatih yang ia genggam di punggung salah satu pengawal.
__ADS_1
Pengawal yang satu terlihat kaget melihat rekannya di serang. Karena sudah kepalang basah dia segera memegang tangan Reine dan merebut paksa belatih tersebut.
"Lepaskan! Apa kalian ingin membunuhku? Pangeran Dalson pasti akan menggantung kepala kalian di depan semua orang!" Meskipun sudah mendesak tetapi Reine berusaha untuk menguasai keadaan.
"Anda ini hanya wanita tidak berguna yang kebetulan menjadi Permaisuri, Nona. Jadi jangan bersikap seolah anda memiliki wewenang untuk memerintah kami!" Pengawal itu lalu mendorong tubuh Reine dengan keras.
Reine merasakan sakit yang luar biasa pada perutnya. Kali ini darah semakin banyak keluar dari pangkal pahanya. Dengan kaki yang dipenuhi darah segar, Reine berusaha mencari benda apapun yang bisa ia gunakan sebagai senjata untuk menyelamatkan diri.
Pengawal itu ingin menggunakan belatih yang tadi dia rebut dari Reine sebagai senjata untuk membunuh Reine. Rekannya yang tadi di tusuk oleh Reine tiba-tiba mencegahnya.
"Kita harus buat seolah-olah ada pembunuh yang datang untuk membunuh Permaisuri. Jangan tinggalkan jejak sedikitpun. Senjata itu milik Pangeran Dalson, jangan gunakan benda yang bisa membuat Pangeran Dalson curiga," ucap pengawal itu memperingati.
Ketika dua pengawal itu memandangnya, Reine segera melempar tanah itu ke wajah mereka hingga berhasil membuat mereka kesakitan. Tanah itu masuk ke mata. Kesempatan itu digunakan oleh Reine untuk kabur. Dia mendorong dua pengawal yang ada di dekat pintu masuk lalu menerobos keluar.
"Cepat tangkap! Jangan sampai dia bertemu dengan pangeran Dalson dan menceritakan semua yang terjadi," ujar salah satu pengawal dengan panik sambil menutup matanya yang masih terasa perih. Darah juga semakin deras keluar dari punggungnya yang tadi di tusuk oleh Reine. Kali ini pengawal itu hanya bisa mengandalkan rekannya untuk menangkap Reine.
Reine berlari dengan kencang untuk kabur sejauh mungkin. Dia sendiri juga bingung ketika melihat pengawal yang seharusnya berjaga kini tergeletak tidak sadarkan diri. Sepertinya memang seseorang dengan sengaja membuat mereka semua tertidur agar rencana dua pengawal tadi tidak ketahuan yang lain.
__ADS_1
"Berhenti!" teriak pengawal yang kini mengejar Reine di belakang. Pria itu berlari dengan sangat cepat hingga akhirnya dia berhasil menangkap Reine.
"Lepaskan!" Reine menendang bagian sensitif pengawal itu. Melihatnya kesakitan membuat Reine lagi-lagi memutuskan untuk kabur. Saat berputar Reine menabrak tubuh kekar seseorang. Wanita itu mengangkat kepalanya lalu menatap wajah sang pemilik tubuh. Napasnya berangsur normal melihat Pangeran Dalson berdiri di hadapannya.
"Pangeran, mereka... Mereka...." Reine yang sudah kehabisan darah tidak bisa menyelesaikan kalimatnya lagi. wanita itu memejamkan mata lalu tidak sadarkan diri. Pangeran Dalson segera menangkap kuburan agar tidak terjatuh. betapa kagetnya Pangeran dalton melihat jalur ini dikenakan oleh ren sudah dipenuhi oleh darah. bibirnya juga terlihat sangat pucat.
"Pangeran seseorang ingin membunuh permaisuri!" ucap Pengawal itu membela diri. Keadaan Reine yang sekarang ia gunakan sebagai tameng untuk menutupi kejahatannya.
"Benarkah?" Pangeran Dalson menaikan satu alisnya. Dari tatapan pria itu bisa dipastikan kalau dia tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Pengawal dihadapannya.
Pengawal itu segera berlutut ketakutan. Bersamaan dengan itu, pengawal yang ada di dalam tenda juga keluar. Dia juga ikut berlutut di samping rekannya. Mereka berharap kali ini Pangeran Dalson mau memaafkan kesalahan mereka.
"Yang Mulia Ratu mengancam kami. jika kami gagal untuk membunuh permaisuri maka dia akan menyuruh orang untuk membunuh kami berdua. maafkan kami Pangeran kami sangat menyesal sudah melakukan semua ini."
"Bukankah kalian pengawal yang dilatih secara khusus untuk melindungi nyawaku dan orang-orang yang dekat denganku. Bahkan seingatku kalian pernah bersumpah di hadapan semua orang untuk lebih memilih mati asalkan aku dan orang terdekatku hidup.
Lalu jawaban yang baru saja kalian ucapkan sangat tidak masuk akal. Jika kalian takut mati, sejak awal kalian tidak perlu menjadi pengawal pribadiku. Karena aku tidak butuh pengkhianat berdiri di dekatku." Tatapan Pangeran Dalson semakin tajam. Namun pria itu belum melakukan tindakan apapun karena kini ada Reine digendongannya.
__ADS_1
"Ampun Pangeran! Ampun. Tolong jangan hukum kami. Kami janji tidak akan mengulangi kesalahan yang sama," kedua pengawal itu dengan wajah yang semakin ketakutan.
"Sayangnya aku tidak mau memberi kalian kesempatan kedua. Aku mau kalian berdua saling membunuh sampai ada yang mati. Salah satu dari kalian yang menang akan mati di tanganku!"