The Ghost Prince

The Ghost Prince
Keadaan Reine


__ADS_3

Tabib tua sudah kembali ke rumah Nenek Mery ketika langit sudah gelap. Kedatangan pria itu ternyata sudah dinanti-nanti oleh Pangeran Dalson sejak tadi. Melihatnya muncul dengan membawa ramuan yang di cari membuat Pangeran Dalson bahagia.


"Apa kau berhasil?" tanya Pangeran Dalson. Dia segera menerima ramuan yang diberikan Tabib tua kepadanya.


"Ya, Pangeran. Memang sangat sulit untuk mencarinya. Tanaman ini termasuk jenis tanaman yang cukup langkah," jawab tabib tua.


Pangeran Dalson mengangguk. "Aku akan membawanya masuk ke dalam." Dia segera masuk ke dalam. Sedangkan Tabib Tua tersenyum mendengarnya. Pria itu duduk di kursi kayu yang ada di depan rumah.


"Kau hebat. Jika tadi aku yang mencari, aku pasti tidak akan berhasil. Dengar-dengar lokasi yang kau datangi di huni oleh binatang buas. Kau termasuk beruntung karena bisa lolos dari sana," ujar salah satu Pengawal.


Tabib tua tersenyum. Dia kembali ingat dengan kejadian tadi saat mencari ramuan. Di sana dia memang bertemu dengan binatang buas. Tetapi binatang buas itu adalah temannya. Tabib tua sudah sering ke hutan untuk mencari ramuan yang nantinya dijadikan obat.


Pintu kembali terbuka. Pangeran Dalson terlihat panik saat itu. Tabib tua segera berdiri. "Pangeran, ada yang bisa saya bantu?"

__ADS_1


"Bantu aku!" perintah Pangeran Dalson. Tanpa mau menjelaskan, pria itu segera menarik tabib tua masuk ke dalam. Sedangkan Pengawal lainnya hanya bisa berdiri di sana dengan wajah bingung.


"Ada apa Pangeran?" tanya Tabib tua.


"Reine, dia muntah. Bagaimana ini? Nenek Mery sedang keluar sebentar. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan." Pangeran Dalson membawa Tabib tua ke ruangan tempat Reine istirahat.


"Lalu, apa yang harus saya lakukan, Pangeran?" tanya Tabib tua. Dia masih belum mau membongkar penyamarannya di depan Pangeran Dalson.


Tabib Tua menunduk hormat. "Baik, Pangeran."


Pangeran Dalson segera pergi. Dia keluar melalui pintu belakang agar pengawal yang ada di depan tidak tahu kalau sekarang Reine sendirian di dalam.


Tabib tua segera memeriksa denyut nadi Reine. Wajahnya terlihat sangat khawatir. "Nona, apa yang sekarang anda rasakan?"

__ADS_1


Reine sudah tahu kalau itu adalah tabib tua. Wanita itu mengatur posisi duduknya. "Mual. Aku ingin muntah. Benar-benar buruk. Mulutku terasa pahit. Sebenarnya aku ini sakit apa?" jawab Reine dengan wajah pucat. "Tadi siang semua terasa baik-baik saja," sambung Reine lagi.


"Seperti inilah yang dirasakan wanita hamil, Nona. Anda sebenarnya sehat. Semua ini terjadi karena anda sedang mengandung." Tabib tua itu berusaha memberi pengertian. "Sebaiknya anda lebih sabar dan tetap menghabiskan ramuan yang dibuat Nenek Mery. Semua ramuan yang dia racik sangat bermanfaat bagi kesehatan anda dan juga bayi anda."


Reine kembali diam. Rasanya dia masih belum bisa menghabiskan ramuan yang disiapkan Nenek Mery. Meskipun rasa ramuan itu tidak terlalu pahit. Tapi tetap saja Reine tidak mau meneguknya.


"Nona, sebaiknya kita segera pulang ke istana. Masalah ini harus diakhiri," ucap tabib tua lagi.


"Kenapa harus cepat-cepat? Aku belum memiliki tenaga untuk melawan Yang Mulia Ratu. Bagaimana kalau dia tahu aku hamil?" tolak Reine tidak setuju.


"Nona, semakin cepat semakin baik. Sekarang Pangeran Dalson sudah ada di pihak anda. Lalu, apa lagi yang anda tunggu?"


Reine memandang ke depan dengan tatapan tidak terbaca. "Bagaimana kalau Pangeran Dalson berubah pikiran setelah dia bertemu Yang Mulia Ratu. Bagaimanapun juga, mereka pernah menjalin kasih," gumam Reine di dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2