The Ghost Prince

The Ghost Prince
Harus Hamil


__ADS_3

Reine terus saja menangis setelah Pangeran Dalson berhasil memasukkan benihnya ke dalam rahim Reine yang berharga. Wanita itu merasa sakit hati dan marah. Namun dia tidak bisa melakukan apapun selain menangis.


Setelah memakai pakaian, Pangeran Dalson segera pergi meninggalkan kamar tersebut. Bahkan pria itu tidak mengatakan satu katapun. Dia seperti tidak merasa bersalah.


"Aku pasti akan membalasmu!" gumam Reine penuh dendam. Wanita itu memungut pakaiannya di lantai lalu memakainya. Apa yang dilakukan Pangeran Dalson sangat menyakitkan. Reine sama sekali tidak siap. Namun, untuk saat ini. Rasa sakit di hati Reine yang jauh lebih parah.


Di sisi lain, Pangeran Dalson duduk di ruangan pribadinya sambil membayangkan air mata yang menetes di wajah Reine. Entah kenapa hatinya seperti terluka. Dia seperti tidak tega untuk menyakiti wanita itu. Padahal Pangeran Dalson sendiri merasa yakin kalau dia tidak mencintai Reine.


"Aneh! Perasaan apa ini? Aku bahkan tidak pernah merasakan perasaan seperti ini ketika bersama dengan Ratu." Pangeran Dalson membuka beberapa buku lalu membacanya. Namun pria itu tidak bisa berkonsentrasi. Lagi-lagi wajah sedih Reine terus saja mengganggu pikirannya. "Sial! Jika seperti ini, aku tidak bisa bekerja dengan benar!" umpatnya kesal.


***


Waktu berjalan dengan cepat. Hingga akhirnya malam kembali tiba. Reine masih belum bisa melupakan kejadian siang begitu saja. Sambil menyisir rambutnya, sesekali masih ada tetesan air mata yang membasahi pipi.


"Nona, Yang Mulia Ratu ingin bertemu dengan anda." Seorang pelayan memberi kabar. Tidak lama setelah itu, pintu terbuka dengan lebar. Yang Mulia Ratu muncul dengan para pelayannya.

__ADS_1


Reine beranjak dari kursi lalu memberi hormat. Meskipun sangat membenci Yang Mulia Ratu. Tetapi dia berusaha tetap ramah agar bisa melanjutkan rencananya.


"Selama malam, Yang Mulia. Senang bertemu dengan anda," sapa Reine dengan senyuman ramah.


"Reine putriku. Jangan formal seperti itu. Panggil saja aku ibu." Dia memberi perintah kepada pelayan di sana untuk segera pergi.


"Ibu?" celetuk Reine ragu. Namun dengan cepat dia mengembalikan eskpresi wajahnya. "Itu panggilan yang sangat terhormat bagi saya."


"Reine, kemarilah." Yang Mulia Ratu meminta Reine duduk di sampingnya.


"Ada apa, Ibu?" Wanita itu melangkah mendekat dan duduk di samping Yang Mulia Ratu.


"Bagaimana kalau yang lahir anak perempuan, Ibu?"


"Tidak!" ketusnya tanpa sadar. "Peramal itu bilang kalau kau bisa melahirkan seorang putra. Anak pertamamu nanti seorang Putra, Reine."

__ADS_1


"Sekarang aku tahu. Kenapa dia menggunakan peramal untuk menyeleksi calon istri Pangeran. Sejak awal dia memang tidak mencari yang cantik dan berasal dari keluarga terpandang. Dia hanya memikirkan soal keturunan," batin Reine dengan senyuman palsu dibibirnya.


"Ibu, Ibu tenang saja. Aku pasti akan segera hamil. Pangeran Dalson dan aku melakukannya hampir setiap malam." Reine tertawa malu-malu. Berbeda dengan ekspresi wajah Yang Mulia Ratu. Wanita itu merasa seperti dibohongi oleh kekasihnya.


"Reine, kalau begitu Ibu pergi dulu. Kau cepatlah tidur. Mungkin Pangeran Dalson akan sibuk malam ini hingga tidak bisa menemanimu." Yang Mulia Ratu beranjak dari kursi yang ia duduki.


Reine juga ikut beranjak. Ketika Yang Mulia Ratu ingin keluar, tiba-tiba Pangeran Dalson masuk ke dalam kamar. Mereka berdua saling berpapasan. Namun ekspresi Pangeran Dalson terlihat cuek.


Reine menatap kedua mata Pangeran Dalson. Wanita itu tersenyum puas ketika dia tahu kalau yang datang menemuinya kali ini adalah Darren.


"Pangeran, bukankah kata Ibu anda sibuk. Saya pikir malam ini saya akan tidur sendirian," ucap Reine dengan nada yang manja.


Darren tahu apa yang terjadi. Kini dia sangat marah sama semua orang. Namun dia berusaha tetap tenang agar bisa membantu Reine. "Sayang, kau sangat mempesona. Bagaimana bisa aku melakukan hal lain tanpamu? Aku merindukanmu. Bisakah malam ini kau melayaniku lagi?"


Deg.

__ADS_1


Yang Mulia Ratu mematung di ambang pintu. Dia sama sekali tidak menyangka kalau Pangeran Dalson akan mengatakan kalimat seperti itu. Bahkan ketika dia masih ada di sana.


"Tidak! Aku tidak boleh cemburu. Aku yakin Dalson melakukan semua ini agar wanita sialan itu segera hamil," batin Yang Mulia Ratu berusaha menguatkan dirinya sendiri.


__ADS_2