
Reine tertegun mendengarnya. Wanita itu menggeleng pelan dengan wajah ragu-ragu. "Belum. Dia menyiksaku di malam pertama kami. Dia belum menyentuhku."
Darren tersenyum lega. "Syukurlah. Aku mau akulah pria pertamamu, Reine."
"Kau memang pria pertamaku, Darren. Tapi kau harus tahu kalau sentuhan itu tidak nyata. Sebuah ilusi seperti di dalam mimpi. Tidak ada yang berubah. Aku masih tetap perawan," ujar Reine dengan serius.
"Dengan tubuh ini. Aku bisa merasakannya." Darren memegang tangan Reine. "Kita bisa melakukannya sekarang. Bahkan setiap saat. Dengan tubuh Pangeran Dalson."
Reine memalingkan wajahnya. "Tidak! Aku tidak mau, Darren. Aku sangat membencinya. Aku tidak mau sampai mengandung anaknya. Tidak, Darren. Tolong jangan paksa aku untuk melakukannya." Reine terlihat sangat membenci tubuh Pangeran Dalson meskipun kini Darren yang mengendalikan tubuh pria itu.
"Baiklah. Aku juga tidak bisa memaksamu sayang." Darren mengusap pipi Reine. "Sekarang tidurlah. Aku juga tidak bisa lama-lama. Jika Pangeran Dalson terbangun, semua akan berakhir. Kau juga harus pandai-pandai menguasai keadaan. Jangan sampai Pangeran Dalson menyadari kehadiranku."
__ADS_1
Reine mengangguk setuju. "Lalu, kita harus bagaimana sekarang? Apa besok pagi ketika aku membuka mata kau sudah tidak ada di tubuh Pangeran Dalson?"
"Ya, Reine. Pangeran Dalson hanya tidur saat malam saja. Itu berarti kita akan bertemu saat malam hari. Maafkan aku ya. Aku tidak bisa terus menerus muncul seperti dulu." Darren mengecup pucuk kepala Reine. "Maafkan aku sayang."
"Gak, Darren. Seperti ini saja aku sudah senang. Aku tidak mau menuntut lebih. Mulai sekarang aku akan memikirkan cara agar Pangeran Dalson segera tidur agar kau bisa muncul."
Darren mengangguk. "Kalau begitu jangan sedih lagi. Tersenyumlah."
Reine mengukir senyum manis di depan Darren. "Aku mencintaimu."
Reine mencari posisi yang nyaman. Wanita itu memandang Darren yang kini melangkah menuju ke tempat tidur.
__ADS_1
Sedangkan Darren segera mengembalikan tubuh Pangeran Dalson ke tempatnya. Pria itu berbaring di atas tempat tidur sambil selimutan. Seperti itu juga posisi yang sekarang dilakukan Darren. Pria itu tidak mau sampai ketahuan.
"Cepat sekali dia pergi," gumam Reine di dalam hati. "Sekarang Pangeran Dalson sudah kembali. Sebaiknya aku juga segera tidur sebelum Pangeran Dalson terbangun dan menyiksaku lagi," gumam Reine di dalam hati.
Reine tersentak kaget ketika air dingin membasahi seluruh tubuhnya. Reine merasa kalau dia baru saja memejamkan mata. Tiba-tiba saja langit sudah terang dan kini pangeran Dalson berdiri di hadapannya. Ada ember yang masih berisi air di tangan pria itu. di bawah ada ember yang telah kosong. Reine mengusap wajahnya yang terkena cipratan air. wanita itu berdiri lalu menatap Pangeran Dalson yang kini melihatnya dengan tatapan tidak suka.
"Sepertinya tidurmu sangat nyenyak sampai-sampai aku bangun kau tidak juga bangun. Aku tidak akan membangunkanmu jika aku tidak membutuhkanmu. Yang Mulia Ratu ingin bertemu denganmu sekarang. Aku sudah tidak bisa memiliki alasan lagi untuk menghalanginya bertemu denganmu. Ingat satu hal. Jangan pernah ceritakan apa yang terjadi kepada Yang Mulia Ratu. Jika kau sampai nekat untuk mengatakannya, aku akan menyiksamu lebih parah lagi," ancam Pangeran Dalson.
Reine hanya mengangguk tanpa mau mengeluarkan kata-kata. Kali ini wanita itu benar-benar sakit. Kepalanya terasa begitu berat karena kurang istirahat. Ketika berjalan tubuhnya seperti sempoyong.
"Aku tidak suka melihat tubuhmu lemah seperti ini. Cepat makan lalu bersiaplah," teriak Pangeran Dalson.
__ADS_1
"Baik, Pangeran." Reine menjawab dengan nada yang lembut meskipun kini dia sangat membenci Pangeran Dalson.
"Aku harus sabar. Setidaknya aku masih memiliki kesempatan untuk bertemu dengan Darren saat malam hari," gumam Reine di dalam hati.