The Ghost Prince

The Ghost Prince
Jawaban Pangeran


__ADS_3

Pangeran Dalson diam sejenak. Berbeda dengan sikap calon ayah pada umumnya yang langsung menjawab. Kali ini pria itu terlihat sedang berpikir keras. Dia seperti mempertimbangkan jawabannya sebelum mengeluarkan kata.


"Sudah ku duga. Kau pasti akan membunuhku." Reine akhirnya mengambil keputusan. Meskipun begitu, Pangeran Dalson tetap tidak menjawab. Bahkan pria itu tidak mau bilang kalau semua akan baik-baik saja setelah Reine melahirkan keturunan kerajaan.


"Kita harus mencari tempat untuk istirahat. Aku yakin besok pagi bantuan akan datang dan kita bisa kembali ke istana." Pangeran Dalson beranjak lalu berjalan. Sambil berjalan pria itu kembali memikirkan pertanyaan Reine tadi.


"Aneh. Kenapa sekarang aku jadi tidak tega seperti ini. Aku tidak mungkin membunuhnya. Tapi, bagaimana dengan Yang Mulia Ratu. Bahkan wanita itu ingin membunuhku setelah dia berhasil menguasai kerajaan. Bagaimana mungkin dia membebaskan Reine," batin Pangeran Dalson.


Reine masih duduk di sana dengan wajah kecewa. Wanita itu mengusap perutnya sambil tersenyum pahit. "Maafkan mama yang masih merahasiakan keberadaanmu, Nak. Setelah rencana mama berhasil, kehadiranmu akan mama umumkan di depan semua orang." Reine mengepal kuat tangannya. Dia semakin dendam kepada Pangeran Dalson. "Aku dan Darren harus berhasil membuatnya pergi. Dia memang pria yang tidak memiliki hati. Dia tidak pantas hidup!" umpat Reine penuh dendam.


Pangeran Dalson menahan langkah kakinya melihat segerombolan pengawal kerajaan tiba. Pria itu sama sekali tidak menyangka kalau bantuan akan datang secepat ini.

__ADS_1


Reine berdiri di samping Pangeran Dalson. Wanita itu kembali bernapas lega karena malam ini dia tidak harus menginap di tengah hutan.


"Maafkan kami, Pangeran." Seorang pengawal menunduk hormat di depan Pangeran Dalson. "Saya benar-benar tidak menyangka kalau anda bisa mengalami masalah seperti ini. Maafkan saya Pangeran. Saya siap di hukum."


Pengawal itu berlutut di hadapan Pangeran Dalson sembari menyerahkan pedangnya. Pangeran Dalson berhak membunuh pengawal itu sebagai hukuman atas kelalaian yang dia lakukan.


"Lupakan! Aku ingin segera tiba di istana." Perkataan Pangeran Dalson membuat semua pengawal kaget. Biasanya dia akan langsung mengambil tindakan. Tetapi sekarang pria itu terlihat sangat tenang seperti sedang berusaha memaafkan kesalahan bawahannya.


Pengawal segera menarik kuda yang mereka tunggangi dengan tali. Semua berjaga-jaga dengan sangat ketat untuk memastikan Pangeran Dalson dan Permaisuri Reine tiba di istana dalam keadaan selamat.


"Pangeran, ini ada air dan makanan untuk anda," ucap salah satu pengawal. Pangeran Dalson memandang ke arah Reine lalu memberikan minuman itu kepada Reine.

__ADS_1


"Terima kasih," ucap Reine. Tanpa menunggu ia segera meneguk minuman tersebut dan memakan makanannya.


"Pangeran, kami sudah membangun tenda untuk istirahat anda dan Permaisuri. Malam ini kita tidak bisa langsung pulang ke istana. Baru saja kami mendapat kabar kalau musuh sudah membuat jebakan. Untuk mencari aman lebih baik kita menginap di hutan ini," ucap pengawal memberi solusi.


"Kalian tidak sanggup menghadapi musuh?" Pangeran Dalson kali ini terlihat kurang setuju.


"Kami tidak pernah takut mati, Pangeran. Hidup dan mati kami hanya untuk keluarga Kerajaan. Akan tetapi sekarang ada Permaisuri Reine. Bagaimana kalau terjadi sesuatu padanya?"


Pangeran Dalson kembali diam. Kali ini dia tidak bisa memaksa lagi untuk melanjutkan perjalanan. "Baiklah. Dimana kita akan menginap?"


"Tidak jauh dari sini Pangeran," jawab Pengawal sebelum melanjutkan perjalanan mereka lagi.

__ADS_1


Reine mendengus kesal mendengarnya. "Kenapa harus gagal sih tiba di istana! Aku tidak mau berlama-lama di hutan ini," batin Reine di dalam hati.


__ADS_2