The Last Cliff

The Last Cliff
Chapter 1


__ADS_3

Pada pesta taman, sebuah resepsi pernikahan, tergulir pertanyaan : mengapa buket bunga yang dilempar oleh mempelai wanita mengarah tepat kepadanya ? Menepiskan beberapa tangan yang meninggi untuk meraih, melewati harap dari puluhan rengkuh jemari para perempuan yang lebih siap dan lebih berharap dibanding diri nya.


Ada histeria di sudut mata nya, bibir nya pun tak luput menyungging senyum berjuta mimpi ... Bahagia, bersuka cita, terenda harap agar itu tak hanya mitos. "Oh my god ! Oh my godmn god !!" Teriak nya kala kedua lengan kurus itu mengudara dengan jemari mengembang mesra tuk sambut buket bunga itu, dan ....


Tak ada yang salah dari gaun tosca yang membalut ramping tubuh nya, gemerlap renda warna perak di setiap ujung jahitan menambah kesan glamor penampilan nya, sempurna ! Tapi dia merasakan ada yang perlu dibenahi dari penampilan nya ataukah karena dia sedang salah tingkah ? Tak tahu lah, dia tampak serba salah kala lengan nya meraih lalu merengkuh buket bunga itu, mendekapnya sambil memejam, sejenak bibirnya tergetar meski tanpa suara.


Seolah membawa spotlight hanya untuk diri nya, menyibak kerumunan tamu lain dalam kesima, dada nya berdentum keras, hatinya menuntut : "buket ini akan membawa ku ke kursi pelaminan ! Arvine Dowson ... I am dying for that momment."


"Selamat untuk Clarissa Mae !" Begitu lah namanya disebut. Sang MC terlihat ikut besuka cita ketika melihat bahwa tangan yang sedang memegang buket bunga itu adalah tangan sahabatnya sendiri. "Tuan Arvine Dowson, Ladys and Gentlemen ! please well come the next man bride." lanjut sang MC.


Sontak para tetamu tersibak, mereka minggir dua langkah, meninggalkan sosok berjas tosca dengan dalaman T-shirt tosca polos berdiri sendirian lalu menjadi pusat perhatian.


Lelaki itu tampak sangat tenang, tubuh tegap nya serasi dengan dada nya yang bidang, dihimpit dua bahu dan lengan yang juga kekar terbelit ketatnya model fitbody jas nya. Sesekali tatapan mata nya nenyapu kerumunan kemudian menebar senyum.


Arvine Dowson, dalam segala hal adalah sang Arjuna, dipuja oleh semua dan didamba oleh wanita. Bagaimana tidak, wajah oriental timur nya sempurna dengan padu padan hidung mancung dengan tirus pipi dan bentuk dagu berbelah. Kulitnya kuning bersih, tinggi/ berat badan nya 180/ 75 ideal tanpa lemak. Tapi yang paling sering membuat lawan jenis nya histeris adalah senyum nya yang tulus dan lepas seperti bayi tanpa dosa. Hanya saja seperti pameo berkata 'tak ada gading yang tak retak', Arvine Dowson memiliki mata cekung, jenis mata penyimpan misteri ... Yang terkesan di sorot mata nya belum tentu yang tersimpan di dalam hatinya. Bila ada yang bilang bahwa mata adalah cendela hati, maka mata Arvine Dowson adalah cendela berkaca blur atau mungkin fatamorgana.


"Go Arvine ! Go sang pujangga !!" seru beberapa sahabat nya. Mereka memberi semangat kepadanya agar lebih berani berkomitmen dalam menjalani sebuah hubungan. "Lamar aja langsung !" tantang sebagian suara.


Arvine tahu maksud teriakan itu, mereka ingin sebuah kesempurnaan pada pesta itu. Diawali dengan kebahagiaan mempelai lalu ditutup dengan tangis bahagia oleh Clarissa Mae.

__ADS_1


Tapi Arvine Dowson tetaplah Arvine Dowson, sosok bermata misteri itu jelas bukan tipe lelaki penurut yang mudah hanyut oleh diorama melankolis sebuah pesta. Bagi nya, semua tak harus berakhir indah, kesempurnaan tak musti berwujud kebahagiaan, terkadang duka lebih bermakna bila benar menyikapinya, asal bukan sebuah tragedi. Benarkah itu ? akan kah keputusan nya berakhir membahagiakan untuk Clarissa ? atau berakhir sebagai sebuah tragedi ? atau bahkan tercatat dalam sejarah sebagai elegi terindah sepanjang generasi ?


Cara Arvine berjalan mendekati Clarissa sama sekali tak mirip dengan langkah Pangeran kala mendekati Cinderella, ada banyak keraguan di beberapa langkah nya, tentu bukan karena grogi menjadi pusat perhatian, itu sudah biasa dijalaninya, semua perhatian dan sorakan adalah angin lalu untuk nya.


Situasi kontras tercipta, sebuah antitessa terpapar ! Clarissa Mae penuh harap sedang berbunga-bunga, berdiri menanti sang kekasih datang membawa komitmen lebih ... Sebuah lamaran untuk menikah. Tapi Arvine Dowson melangkah dalam ragu, menapaki tiap jengkal tanah dengan gelisah, menghirup udara beraroma tanya : "Apakah sebuah rumah bisa dihuni oleh seorang musafir ? Yang lebih butuh dermaga untuk bersandar ? atau huma untuk bersinggah ?"


Harusnya dia mengalah, berikan saja kalimat yang ingin didengar oleh Clarissa, demi kebahagiaan sesaat cewe cantik itu. Toh dia tahu bahwa Clarissa pantas berbahagia, ketulusan cinta dan kasih cewe itu kepada nya tak perlu dipertanyakan, balas saja dengan kebahagiaan. Sanggupkah dia ? memberi kebahagiaan kepada seorang perempuan di sepanjang sisa hidup nya ? apakah mengalah menjadi jalan satu-satunya untuk membuat cewe nya bahagia ? karena bisa saja terjadi bahwa mengalah adalah langkah awal bagi muslihat hati. Arvine Dowson semakin kalut.


Mata mereka bertemu, seiring langkah kaki Arvine memangkas bentang jarak, Clarissa merekah di saat mata Arvine makin memblur. Kalbu mereka sedang berbicara satu sama lain, tapi dalam bahasa berbeda. Clarissa dengan bahasa mimpi nya, sedangkan Arvine dengan bahasa cinta sejati nya.


Bahkan ketika jarak tak lagi terbentang, Arvine Dowson belum menemukan jawaban. Sementara mata Clarissa sedang berbinar bak mutiara, dia sangat yakin, kali itu sang pujangga akan meminangnya.


Tapi itu lah harapan, sesuatu yang sangat diinginkan, kadang terwujud tapi tak jarang pupus oleh kekecewaan.


"Bhooooooo !" halayak menghujat. Bahkan beberapa suara sempat mengejek : "Cemen !". Tapi tak ada yang lebih kecewa daripada Clarissa Mae saat telinga nya mendengar ucapan Arvine Dowson : " Kamu sempurna, Sayang ! I love you."


Sebaris kalimat cinta yang indah ... Tapi tiba-tiba kehilangan makna, karena harap bersua ragu.


"Egois !" Bentak awan yang berkerumun di sudut cakrawala. mereka sudah rela menepi di celah tumpukan daun di pucuk pohon palm, demi menjadi saksi saat bibir Arvine bicara cinta kepada cewe bermahkota asmara, cewe yang mencintai nya setulus ombak kepada pantai, setulus virga kepada langit.

__ADS_1


"Beri aku kepastian ! Bahwa setelah menikah dengan ku, dia bahagia." tantang Arvine kepada awan yang mulai bosan. Mereka tak lagi sembunyi, bahkan sebagian telah memayung mengancam akan membawa hujan atau badai sekalian.


"Hohohoho ... lihatlah siapa yang sedang bicara ! kamu pikir kami tak bisa mendengar teriakan mu di Mahameru, jerit mu di puncak Jaya, dan tangis mu di puncak gunung Arjuna ?" Balas awan yang mulai berarak menuju tenggara. "HANI !! Nama itu yang kamu lantangkan, bukan Clarissa !" ejeknya lagi, "atau kau lupa saat merintih di lembah Sindoro-Sumbing ? "Hani, lengkapkan takdirku bila kau masih bernafas, dan bawalah nyawaku bila Tuhan telah memanggilmu."" pungkas sang awan.


Arvine Dowson tertohok, sukma nya mati kutu, diam tak mampu menjawab.


"Bila benar kau ingin Clarissa bahagia, maka hanya ada dua pilihan ... tinggalkan Clarissa, atau hapuslah Hani dari hati mu !" sejenak suara awan itu terputus, ada angin yang membawanya memutar arah.


"Aku sudah menghapusnya."


"Lalu kenapa masih ada sekat di palung hati mu ? Sekat yang kerap membelenggumu dalam keraguan."


"Itu adalah sebentuk kehawatiran."


"Ya, kamu benar ! kamu memang sudah seharusnya hawatir bila takdir mu luruh ke lembah ketidakpastian. Karena bisa saja di sana kau temukan sosok Hani, cewe yang menjadikanmu seorang musafir, terombang-ambing keraguan." Pungkas sang awan yang perlahan membawa mendung. "Sekarang, coba tengok mata gadis mu !" sisip mereka sebelum lenyap menggumpal.


Dengan segenap asa tersisa, Arvine Dowson--sang pujangga, menatap mata Clarissa, mendapati bulir bening airmata yang hampir menetes.


"Tolong ... datanglah hujan ! Agar bulir mu menyamarkan airmata nya, agar sejuk mu meredakan kecewa nya. Karena bagaimanapun juga, Clarissa adalah gadis ku, aku tak rela bila dia harus menderita walau mungkin aku tak kan pernah sanggup membahagiakannya." Mohon sang Pujangga pada langit di ujung sua.

__ADS_1


Perlahan hujan pun turun. butirannya benar-benar menyamarkan tangis Clarissa, entah dengan sejuknya.


__ADS_2