The Last Cliff

The Last Cliff
Chapter 33


__ADS_3

Author.


"Kamu ke sini hanya untuk urusan bisnis, Rissa ! Untuk mencari uang !! Fokus ... fokus ... fokus ... dan fokus, untuk mencari uang saja." jerit dalam hati Clarissa Mae.


Di atas meja kerjanya telah menumpuk dokumen untuk dipelajari. Dari jurnal harian, jurnal mingguan, neraca rugi laba, neraca lajur, hingga laporan keuangan tahunan perusahaannya terserak di hadapannya.


Matanya terus saja tertuju pada tiap kolom dalam dokumen-dokumen itu, sementara tangannya tampak bergetar. Sesekali diusapnya pelipis hingga belakang kehernya yang tak basah sama sekali, kering tak berkeringat.


"Mbak, angka ini sudah 'fix' ? Ga bisa diturunkan lagi ?" tiba-tiba suara sembernya terdengar. Jarang-jarang suara Clarissa Mae terdengar seperti itu, biasanya selalu tegas.


Poetri Maharani sedikit terkejut, sekretaris pribadi yang juga merangkap asisten pribadi Clarissa Mae itu segera mendekat. Matanya lekat pada gemetarnya jemari bosnya itu.


"Yang Jakarta ga sampai segini lho, Mbak ! Ehms ... ehms ... ehms ...." suara itu berusaha ditatanya dengan berdeham di ujung kalimat, Clarissa Mae menyadari suaranya terdengar sember. Dia pun tahu apa penyebab menebalnya pita suara di tenggorokannya itu.


"Rani !?" tegurnya dengan lembut, karena bila dikeraskan sedikit lagi saja maka suara itu akan pecah dan mungkin terdengar seperti suara tangis.


"Iya, Bu !"


Bibir Poetri Maharani memang menimpali, tapi matanya masih lekat pada jemari bosnya. Seolah gigil di jemari itu lebih penting daripada pertanyaan yang harus dijawabnya.


"Lihatnya ke sini, Mbak !" tukas Clarissa Mae. Jari telunjuknya mengarah pada satu kolom dalam laporan rugi laba.


"Biaya perakitan lanjutan ya, Bu ?"


Kali itu mata Poetri Maharani beralih ke kolom yang ditunjuk. Itu digunakan oleh Clarissa Mae untuk menyelipkan jemari tangannya ke bawah meja, berusaha menyembunyikan rasa meriang di sekujur tubuhnya.


"Heemb."


Bukannya langsung fokus pada kolom yang ditunjuk, mata Poetri Maharani justru kembali mencari tangan bosnya. Karena sudah tidak ada, maka sorot matanya naik ke wajah bosnya.


"Bu Clarissa sedang sakit ?" tanyanya saat menemukan bibir bosnya itu terlihat pucat dan sedikit menggigil. Kemudian rasa hawatir segera menguasai batin nya.


"Gapapa, sudah biasa begini kok ! Sedikit meriang. Sebentar lagi akan hilang sendiri."


Atas dasar rasa iba, Poetri Maharani berjalan mendekati kursi bosnya. Kemudian menyentuh kening bossnya itu.


"Maaf atas kelancangan saya, tapi sepertinya Bu Clarissa harus berobat. Karena ini bukan cuma meriang, ini demam, Bu !"


"Gapapa, Rani ! Ak--"


"Bu Clarissa sendirian di kota ini. Tak ada sanak sudara, tak ada teman. Hanya ada saya kan, Bu ?" sela Poetri Maharani, tangannya perlahan menjulur ke arah bahu Clarissa Mae, menariknya pelan, kemudian kedua tangan perempuan sebaya itu saling menggenggam. "Kita harus ke rumah sakit, Bu !"


"Saya gapapa, Rani !"


Pelan tapi pasti, mata Poetri Maharani mulai berkaca-kaca. Sudah dua hari dia melihat bosnya itu membenamkan diri dalam dokumen yang tak penting, membaca semua berkas-berkas lama yang sesungguhnya hanya untuk melarikan diri dari perasaan hatinya yang sedang hancur berserakan.


"Mau sampai kapan, Bu ? Sudah dua hari Bu Clarissa seperti ini. Ga baik untuk Ibu dan perusahaan kita. Tolong turuti kemauan saya sekali ini saja ! Kita berobat ya, Bu !" bujuk Poetri Maharani, dia tahu bahwa Clarissa Mae sedang merana karena cinta, sesuatu yang dulu pernah dia rasakan juga. lukanya memang tak terlihat, tapi sakitnya memilukan hati siapa saja.


Hati Clarissa Mae akhirnya luluh, dia menurut, perlahan pinggangnya terangkat dari kursi untuk kemudian larut dalam pelukan Poetri Maharani. Mereka berjalan menuju pintu keluar.


"Bu Clarissa pasti ga bisa tidur dalam dua hari ini !"

__ADS_1


"Tidur ko !"


"Jangan bohong, Bu ! Dosa, tau ga ?"


"Sok tahu kamu, Ran !"


"Dulu saya juga pernah melihat orang yang saya cintai sedang mencium cewe lain. Reaksi saya juga sama seperti Ibu. Ga bisa tidur, nangis terus. Pokoknya hancur deh dunia ini. Tapi saya masih punya keluarga, ayah dan ibu saya berusaha menghibur saya. Mereka membantu saya untuk keluar dari sakitnya hati yang dihianati ... "


Percakapan mereka berlanjut hingga di ujung pintu kantor. Sebelum akhirnya :


"Tunggu, Ran ! Kita berhenti sebentar." sepertinya itu lah kalimat terakhir yang sanggup diucapkan oleh bibir pucat Clarissa Mae, matanya berkabut, dunianya berputar terlalu cepat, telinganya mendengung, sampai akhirnya otot di seluruh persendiannya tak bertenaga.


Tubuh Clarissa Mae merosot perlahan, lalu luruh tergeletak di sisi kaki asisten pribadinya.


"BU CLARISSA !" Jerit itu membahana, menarik perhatian semua orang di lantai satu kantor itu. Seolah memanggil mereka untuk segera memberi pertolongan.


Beberapa lelaki tampak langsung berlari mendekat, wajah mereka terlihat miris.


Poetri Maharani panik dan langsung memeluk tubuh lemas Clarissa Mae, nafasnya pelan dan nadinya hampir tak teraba.


"Angkat ke mobilku !" kata Poetri Maharani. Nafasnya tersengal karena dadanya sedang didera gugup.


Tanpa bersusah payah, seorang lelaki bertubuh dempal mengangkat tubuh Clarissa Mae. Membawanya ke area parkir.


"Mobil yang itu, Pak !"


"Gabisa, Mbak ! Mobil itu ga bakalan bisa keluar."


"Ya Tuhan, Bu ! Bagaimana ini ?" keluh Poetri Maharani di awal keputusasaannya.


"Non Clarissa !?" seru seorang perempuan parobaya dari dalam sebuah mobil yang akan memasuki area parkir, matanya tajam mengamati sosok Clarissa Mae yang sedang lemas dalam gendongan seorang lelaki.


Perempuan itu segera turun dari mobilnya, hijabnya dibiarkan berantakan karena terburu untuk berlari mendekati Clarissa Mae. Tak lama berselang, seorang perempuan lain keluar dari sisi berbeda. Dia berjalan lebih tenang.


"Karen ! Ini anaknya." teriak perempuan berhijab itu ke arah temannya.


"Bawa ke sini, Pak ! Bawa masuk ke mobil saya saja." balas perempuan bernama Karen itu. Sekilas matanya melirik ke wajah Clarissa Mae, seperti sedang ingin menghapus rasa penasaran.


Sesuai petunjuk Karen, lelaki itu akhirnya meletakkan tubuh Clarissa Mae di bangku tengah, bangku yang luasnya lebih menyerupai tempat tidur, dan hanya ada di dalam mobil jenis limousin.


"Maaf, Bu ! Saya harus ikut, itu bos saya." bisik Poetri Maharani.


"Yasudah, kamu naik di depan, sama pak sopir ! gapapa, kan ?"


"Gapapa, Bu !"


Poetri Maharani segera mamasuki mobil lalu menghempaskan pintunya, disusul oleh Karen dan perempuan berhijab dari pintu berbeda. Limousin panjang itu pun kemudian melaju dengan kecepatan tinggi.


"Kamu kenapa, Non ?" desah perempuan berhijab. Dari gugup di tangannya terkesan perempuan itu sedang sangat hawatir. Bahkan bibirnya kerap menyebut nama Tuhannya saat sejumlah doa sedang ia panjatkan untuk kebaikan Clarissa Mae.


Karen mengamati Clarissa Mae, wanita itu benar-benar 'menelanjangi' tubuh yang tergolek pingsan di hadapannya dari ujung ke ujung dengan sorot mata menyelidik. Entah apa yang hendak dicarinya.

__ADS_1


"Maaf, Bu ! Apakah Ibu mengenal bu Clarissa ?" Poetri Maharani memberanikan diri untuk bertanya pada perempuan berhijab yang terlihat shock itu.


"Iya, Nak ! Non Clarissa ini sudah ku anggap anak saya sendiri."


"Saya Rani, Bu ! Saya bekerja pada Bu Clarissa sebagai sekretaris pribadinya."


"Saya Faizah, Nak ! Dan ini Karen--"


"Karen Rodmeyer !" sela perempuan modis itu tanpa melihat ke wajah Poetri Maharani. Matanya tetap melihat ke tubuh Clarissa Mae.


Poetri Maharani terkejut, darahnya mengesiap kala nama Rodmeyer memantul dalam gendang telinganya. Nama itu terdengar menakutkan.


Tak berselang terlalu lama, limousin itu telah sampai di rumah sakit internasional, behenti tepat di terasnya. Beberapa perawat telah menyambut dengan kereta dorong, lalu dengan cekatan membawa tubuh pingsan Clarissa Mae ke Instalasi Gawat Darurat.


Poetri Maharani dan Faizah terlihat seperti sedang terguncang, mereka membayangkan semua kemungkinan skenario terburuk dari Tuhannya untuk Clarissa Mae.


"Anak itu belum pernah bahagia, Ren ! Aku mengenalnya sejak dia masih SMU." kesah Faizah.


"Papa dan mamanya meninggal terlalu cepat, memaksa tubuh kurusnya itu untuk berjuang membesarkan adiknya sendirian. Ya Tuhan ! Kasihanilah non Clarissa." lanjutnya dengan wajah menengadah, lalu bulir-bulir bening mulai menetes dari kedua sudut mata tuanya.


"Tuhan telah mengirimkan dokter-dokter hebat di rumah sakit ini untuk menyelamatkan anak itu, Zah ! Dia akan baik-baik saja." ujar Karen Rodmeyer sambil memeluk tubuh sahabatnya.


Poetri Maharani hanya bisa menyimpan semua doanya dalam diam, mengharap Tuhan bisa mengerti hantinya yang sedang sangat menginginkan agar bosnya selamat. Matanya lurus ke depan, tak berani sedetikpun melirik ke wajah Karen Rodmeyer. Status sosial membuatnya rendah diri.


"Ibu Karen ?" seorang dokter tiba-tiba menyapa dari arah samping. Membuat Karen Rodmeyer sedikit terkejut. Tapi setelah beberapa detik, dia tersenyum lebar.


"Haaaaiii ... Dokter Alvin !? Kok sudah dinas lagi, kapan balik dari Jerman ?"


"Bulan lalu, Bu !" jawab dokter itu. Sebuah gerakan membungkuk lalu mencium tangan Karen Rodmeyer menggambarkan betapa hebat pengaruh perempuan itu. "Mari, Bu ! Kita menemuai calon menantu Ibu."


"Hah ! Menantu saya ?" Karen Rodmeyer terkejut mendengar ucapan dokter Alvin.


"Hehehehe ... iya, Bu ! Saya sering melihat Eddy mengajak perempuan itu untuk makan ma--"


"Perempuan yang mana, Dok !?" sela Karen Rodmeyer. Hatinya mulai menduga-duga.


"Pasien yang barusan Ibu bawa lah ... Masa istri saya !? Hahahahaha."


"Lho, Zah !?!? apa mereka sudah saling kenal ?"


Sebuah pertanyaan yang hanya bisa dijawab dengan mengangkat bahu oleh Faizah.


Setelah menyelesaikan tawanya, "tentu saja, Bu ! Sebentar lagi media pasti memuat beritanya ... malam itu banyak sekali paparazi yang membidikkan kamera kepada mereka." dokter Alvin memberi kepastian.


Merekapun melangkah di belakang dokter Alvin, menuju ruang dimana Clarissa Mae terlihat sudah mulai duduk di atas tempat tidur. Sesaat sebelum mereka memasuki kamar itu,


"Zah, sini sebentar !" bisik Karen Rodmeyer. Mengajak Faizah untuk menghentikan langkah. "Kita bawa Anak itu pulang ke rumah kita saja. Kejutan untuk Eddy, gimana ?"


"Iya kalau dia mau ! Kalau ga ?" balas bisik Faizah, tapi ada senyum yang tiba-tiba tersungging di bibirnya.


"Ya kamu rayu dong, Zah !" kali itu Karen Rodmeyer pun melepas senyum. Kedua perempuan parobaya itu saling tersenyum, ada skenario yang ingin mereka bangun untuk kehidupan Clarissa Mae.

__ADS_1


__ADS_2