The Last Cliff

The Last Cliff
Chapter 55


__ADS_3

"BANG VINNIE !!" teriakan itu menjadi awal terciptanya 'noda', Fatimah Mahmud mendekap tubuh Arvine Dowson. Bahkan keduah bilah tangannya memeluk leher lelaki itu sepenuh kasih. Menebar empati untuk duka yang teramat dalam, duka yang mungkin hanya bisa reda oleh lembut dan hangatnya pelukan seorang perempuan.


Atas nama Tuhan yang maha mengasihi dan menyayangi, Biarlah salah, biarlah ternoda, "ssshhhhh ... berkediplah 15 kali ! Aku benci mata hitam mu itu." Fatimah Mahmud memberanikan diri. Menerima dan memberi kasih dalam bentuk dekapan yang tak semestinya.


Itu cara Shanique Miller, cara yang berhasil menaklukkan murka dalam hati Arvine Dowson. Untuk mengembalikan warna mata lelaki itu seperti semula. Serangkaian ritual hipnotis untuk meredam alter ego yang sedang berkuasa atas lelaki itu. Ritual dari masa kecil mereka, dan hanya mereka yang tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.


Seperti yang sudah-sudah, mata Arvine Dowson mengerjap, tiap kerjapan itu seperti membawa embun dalam hatinya. Menyejukkan jiwanya. Pudarkan warna hitam di matanya. Pada kerjapan terakhir, mata lelaki itu telah benar-benar pulih.


Degub jantung Arvine Dowson kembali tertata, berdebar berirama. Nafasnya pun semakin halus. Lalu pelukannya merenggang, dekapannya ke tubuh Fatimah Mahmud kemudian berakhir, berganti dengan sorot mata lembut.


Lalu, "masih seperti yang dulu ! Pelukku selalu redakan laramu." tersenyum, Fatimah Mahmud menirukan semua ucapan Shanique Miller, persis seperti yang ia lihat di rumah sakit.


"Aku rindu, Han !" bisik Arvine Dowson. Di bungkil matanya sedang bersemi senyum Shanique Miller, yang kemudian ia kecup keningnya.


'Han' ? Panggilan itu membuat Fatimah Mahmud tertegun, pikirannya mulai mencium ketidakberesan. Amarah Arvine Dowson memang telah berhasil ia redakan, tapi ia gagal untuk mengembalikan kesadaran lelaki itu, mungkin butuh waktu.


Sebentar lagi.


Pikiran itulah yang menjadi alasan saat ia memutuskan untuk membiarkan Arvine Dowson kembali merengkuh tubuhnya, kemudian menggendongnya masuk ke dalam mansion. Saat tangannya mengalung, menempelkan bahunya ke leher lelaki itu, Fatimah Mahmud merasakan betapa panasnya leher itu.


Demam, Arvine Dowson sedang berhalusinasi karena efek demam dan tingginya kadar adrenalin dalam darahnya.


Perempuan tercipta dari serpihan ruas ’tulang rusuk', ruas tulang pelindung kelenjar adrenalin. Maka sudah seharusnya mereka bertanggungjawab untuk menjaga agar kelenjar itu tidak menambah buruk amarah seorang lelaki.


Dia telah melihat amarah Edward Rodmeyer, itu menakutinya. Dia juga telah menyaksikan amarah kekasihnya--Steve Rodmeyer, itu membuatnya bersyukur karena ia pernah berhasil menundukkannya. Dan yang terakhir adalah yang terparah ! Amarah Arvine Dowson membuat Fatimah Mahmud merasa ngeri luar biasa. Ngeri karena takut ternoda.


Rasa takut itu semakin berkecamuk dalam hatinya, saat Arvine Dowson mengarahkan kakinya untuk masuk ke kamar Shanique Miller.

__ADS_1


"Bang ! Ingat Tuhan. Aku Fatimah, bukan kak Shasa !"


"Aku akan selalu melindungimu ... aku janji, Han ! Tuhan akan selalu menjagamu melalui tangan dan kaki ku."


Sekali lagi, nama 'Hannie' disebutnya. Itu berarti Arvine Dowson masih belum lepas dari halusinasi.


Saat tubuhnya direbahkan sempurna di atas ranjang, saat mata Arvine Dowson menatapnya jal*ng, tangan Fatimah Mahmud sempat menegang dan hampir menampar. Tapi diurungkannya niat itu. Pemberontakannya hanya akan menghadirkan kembali amarah iblis yang sedang berkubang dalam diri Arvine Dowson. Amarah itu bisa saja makin menghancurkan mereka berdua.


"Bang Vinnie ... Ingat, Bang ! Aku Fatimah."


Meski suara itu nyaring dan menyertakan dorongan di dada Arvine Dowson, tapi tetap saja tak mampu mengusir wajah lelaki itu yang semakin mendekati wajahnya.


"Jangan, Bang !" suara Fatimah Mahmud seperti sia-sia. Wajah Arvine Dowson makin mendekatinya. "Ya Tuhan ... Tanamkan kembali kesadaran bang Vinnie."


Tak mampu lagi bertahan, Fatimah Mahmud berserah diri pada doanya. Menyerahkan apapun yang akan terjadi pada campur tangan Tuhannya. Lalu menutup mata.


Tak ada lagi yang sanggup menghalangi terciptanya nista saat semua telah begitu hina, kecuali Tuhan yang tiba-tiba mengirim bulir air di sudut mata Fatimah Mahmud. Membulat kecil dan menyinarkan siluet hitam ke mata Arvine Dowson. Menghentikan aksi lelaki itu, juga menyurutkan nafsu di dadanya.


"Kenapa airmatamu begini gersang ? Di saat seharusnya sesejuk gunung." gumam Arvine Dowson pada sebulir airmata di atas jari telunjukknya, bulir yang baru saja ia seka dari sudut mata Fatimah Mahmud.


"Fatimah ! Apa yang kau lakukan !?" gugupnya saat menyaksikan gadis itu memejam pasrah di hadapannya.


"Terimakasih Tuhan !" membuka mata, Fatimah Mahmud mendapati wajah Arvine Dowson kalut berselimut malu. "Telah Kau selamatkan aku dari dosa dan nista."


Tak ada nista di antara mereka. Semua baru sebatas noda, yang sanggup ia sucikan kembali dengan mantra doa.


Memandangi punggung Arvine Dowson yang sedang berlalu meninggalkannya, Fatimah Mahmud mulai mengerti, apa yang terjadi antara lelaki itu dengan mentornya, sesungguhnya bukan hanya masalah cinta. Ada banyak misteri yang belum terungkap.

__ADS_1


Rasa malu membawa langkahnya tak jauh, berhenti lalu duduk di bangku ayunan di pinggir taman. Matanya menatap hampa pada rongsokan kursi roda yang ringsek di bawah pagar. Lalu tangannya mulai mendorong, tubuhnya pun kemudian terayun.


Bersama derit besi yang bergesek di puncak ayunan, bibir Arvine Dowson mendesis, "Rissa !"


Kok Risaa ?


Sudah 4 tahun kita bersama. Selama itu pula aku tak pernah kehilangan arah. Sekarang lihatlah ! Tadi pagi aku sudah halu pada suaramu. Dan baru saja, aku tersesat ! Hampir menodai seorang bocah yang seharusnya menjadi anak ku sendiri. Padahal ini baru hari ke 5 sejak kau memilih membiarkan aku seorang diri. Rissa ... kembalilah ! Atau aku yang harus menjemputmu ?


Ketika telisik suara rumput dipijak terdengar di telinganya. "Fat ! Duduk sini."


Gadis berhijab itu datang dengan membawa kain basah. Senyumnya mengembang seolah tak pernah terjadi apa-apa. Tangannya saja yang kemudian sibuk menata, meletakkan kain basah itu di kening Arvine Dowson.


"Sini !" Bergeser sedikit ke kiri, memberi ruang kepada Fatimah Mahmud untuk duduk di sampingnya.


"Terimakasih, Fat ! Untuk semua usahamu." membiarkan gadis itu untuk menarik tangan lalu bergelung di pundaknya. Fatimah Mahmud terlihat nyaman dalam pelukan Arvine Dowson, merasa diri dalam pelukan ayahnya sendiri.


"Tapi jangan pernah kamu ulangi lagi kepada siapapun ! Kecuali kelak pada suamimu sendiri." suara Arvine Dowson berat dan rendah, sarat rasa hawatir.


"Kenapa, Bang ?"


"Karena di atas puncak amarah setiap lelaki ada alter ego, yang hanya bisa tunduk oleh jodohnya. Kesetaraan kufu menjadi syarat utama penundukkan itu. Tanpa kesetaraan kufu, alter ego seorang lelaki takkan pernah teratasi, dan akan menjadi mula dari sebuah hubungan yang saling menyakiti."


"Aku ga tahu kenapa tiba-tiba ingin menyampaikan semua ini padamu, Fat ! Sepertinya, kamu akan segera menikah." Arvine Dowson menambah erat pelukannya. Seperti merasa enggan melepas bahu Fatimah Mahmud. "Berhati-hatilah dalam menjaga rumah tanggamu. Karena pernikahan bukan awal dari kebahagiaan. Jangan percaya pada author yang mengakhiri novelnya dengan kalimat 'happily everafter' atau 'berbahagia selamanya'. Sebutir ect"ssy membuktikan bahwa bahagia adalah proses bioritmik, proses hormonal ! Dan pernikahan adalah proses sosio psikis, kejiwaan ! Keduanya tak bersangkut paut !!!"


***


Perlu seminar ?

__ADS_1


__ADS_2