
Bocah laki-laki duduk bermuka masam, menanti datangnya sang Mama kembali dari meja pemesanan dalam sebuah restoran makanan cepat saji. Di depannya tampak 3 gelas minuman bersoda dingin tertata berderat di atas meja, tapi tak diliriknya sekejap pun. Dia lebih tertarik mengamati lalu-lalangnya mobil di jalanan, pandangannya menembus dinding kaca transparan. Dia bahkan mengabaikan sapaan seorang lelaki perlente yang kemudian duduk di sampingnya.
Sontak bocah itu berdiri, nenumpahkan minuman di mejanya, gegara matanya melihat sebuah mobil sedan warna merah berjalan miring dengan sisi bodinya, sementara keempat rodanya berputar kencang menyapu angin, mobil sedan itu setengah terbalik dan berderit tanpa kendali, gesekan bodinya dengan aspal memercikkan api.
Nahas betul nasib sebatang pohon akasia, dia berdiri kokoh tanpa dosa di seberang trotoar pembatas jalan dengan parit besar di sebelahnya. Mobil itu menghantamnya, lalu berguling beberapa putaran sebelum akhirnya terhenti di bibir trotoar dengan posisi terbalik. Pecahan kaca segera menghambur di jalanan.
Lalu-lintas mendadak lengang, kendaraan lain terpaksa berhenti dan menepi di kejauhan. Hanya pejalan kaki yang kemudian mulai bergerombol, lalu mendekati mobil sial itu meski dengan langkah gelisah.
"Wow !" decak kagum dari mulut si bocah. Kala dilihatnya seorang lelaki dengan T-shirt warna tosca sedang menerjang kerumunan.
"Bubar ! Jauhi tempat ini karena mobil akan segera meledak." teriak seorang dengan seragam satpam. "Priiit ... Priiiiit !" peluitnya segera membubarkan kerumunan, mereka menyebar dalam radius tak terlalu jauh, kecuali lelaki dalam balutan T-shirt tosca itu. Dia malah merangsek mendekati sedan merah itu, menepiskan tangan satpam yang berusaha menghalaunya.
"Pengemudi itu butuh pertolongan !" jelas sang lelaki. Satpam itu terpaksa melepasnya lalu perlahan beringsut menjauhi jalanan.
"Kerrreeen !" kembali mulut si bocah bergumam, kali itu sambil melompat turun dari kursinya.
"Mau kemana ?" tanya lelaki perlente disebelahnya. Lengannya segera tercekal, kelaki perlente itu menahannya agar tak beranjak dari tempatnya berdiri.
"Lepasin, Om ! Aku mau lihat itu." jawab si bocah. Matanya menunjuk ke arah jalanan dimana lelaki berkaos tosca mulai memeriksa keadaan sekelilingnya.
Entah bagaimana caranya, si bocah akhirnya berhasil melepaskan diri. Lalu saat dia berlari dan hampir melewati pintu dorong, "Ari, mau kemana ?" teriak sang mama.
"Melihat orang itu, Ma !" jawab Ari.
"Jangan ! Itu bahaya."
Larangan mamanya diabaikan, si kecil Ari sudah berlari menuju jalanan, memaksa sang mama untuk mengejarnya.
"Om, Ari bantuin ya ?" ucapnya kepada lelaki berkaos tosca yang mulai sibuk memecah sisa kaca cendela mobil nahas itu.
Sang lelaki memandangnya, lalu tangan kekar itu menyentuh rambut di ujung kepalanya sambil tersenyum santai.
"Boleh ! Tolongin Om untuk jagain kabel kamera teman Om yang disana. Gimana ... Okay ?" jawab sang lelaki, hidungnya mulai mencium aroma bensin.
__ADS_1
"ARI !!!" Histeris sang mama, lengannya sedang dicekal kasar oleh satpam restoran.
"Tapi itu anak saya, Pak !" lanjutnya sambil meronta.
"Maaf, Bu ! Ini demi keselamatan Ibu. Mobil itu sebentar lagi pasti meledak, lihat ceceran dan aroma bensin itu." Bantah sang satpam.
"Okay, Om ! Toss !!"
Sebuah tepukan tangan terjadi, telapak mungil Ari bersambut telapak lelaki berkaos tosca. Mereka melakukan 'toss' seperti layaknya dua lelaki tangguh. Setelahnya, Ari berlari ke arah seorang pemuda dengan tripod berkamera di depannya, lalu berdiri sambil memegangi kabel mainan yang terikat di salah satu kaki tripod itu. Mereka merekam aksi lelaki berkaos tosca, detik demi detik, dari balik pagar sebuah sekolah. Tempat yang aman dari kemungkinan ledakan karena letaknya tersembunyi di balik perdu meski hanya berjarak 20 an meter.
Sang mama yang berhasil lolos dari perhatian satpam segera menyusul Ari, " ... Di sini bahaya ! Ayo ikut mama ke dalam resto." bujuknya.
"Tidak ! Ari mau bantu om itu, dia menyuruh aku untuk menjaga kabel ini." balas Ari.
Mendengar jawaban seperti itu, sang pemuda pemegang kamera melempar senyum, memamerkan gigi khas suku papuanya. "Duduk di sebelah anak ini aja, Bu !" saran si pemuda papua.
Masih dalam kecemasan, perempuan sintal dan menor itu menuruti. Dia duduk di sisi Ari.
Tak lama, lelaki perlente itu pun nimbrung di sebelah sang mama.
Pemuda papua itu menjawabnya dengan menyilangkan telunjuknya di bibirnya, dan Ari pun terdiam.
Sementara di jalan, hanya ada lelaki berkaos tosca dan sebuah sedan ringsek.
Lelaki itu tampak kebingungan, tangannya mencoba meraba meraih leher pengemudi mobil nahas itu dengan sedikit cemas. Dalam hatinya berharap sang pengemudi masih bernafas dan bisa keluar sendiri dari dalam bangkai mobilnya.
"Oh, tidak !" terkejutnya kala dilihatnya pengemudi itu tak bergerak, terhalang kantong udara yang mengembang dari sela setir mobil.
Lelaki itu segera merogoh saku bluejeansnya, mengambil pisau lipat untuk mengoyak kantong udara yang menutup wajah hingga dada si pengendara.
"Hmmm ... Ternyata lo Cewe." bisik dalam hati lelaki itu.
Pengemudi itu ternyata seorang perempuan usia 30 an tahun dengan rambut pendek, buah dadanya sedikit terlihat menyembul diantara BH merah dan blazer yang dikenakannya. Wajahnya tak terlihat lagi, penuh dengan lumuran merah darah.
__ADS_1
Aroma bensin semakin menyengat hidung, cairan hijau kebiruan itu telah menggenang hampir ke tengah jalan raya. Sementara mesin mobil telah mati walau indikator kelistrikannya masih menyala, artinya semua kabel di mobil itu masih bermuatan listrik. Sebuah konsleting tak akan lama lagi terjadi.
Mata lelaki itu bersinar, ada perasaan lega di hatinya kala jari telunjuknya merasakan ada denyut di pembulu leher perempuan pingsan itu.
Dicobanya untuk membuka pintu sebelah kiri mobil terbalik itu, tapi gagal. Tenaganya tak cukup kuat untuk menjebol engsel pintu mobil buatan eropa itu. Lalu dia berdiri memandang sekelilingnya, seolah hendak meminta pertolongan pada kerumunan. Tapi tak ditemukannya mata yang sanggup beradu dengan matanya, orang-orang itu menunduk ketakutan dan sebagian lagi sibuk dengan kamera pada gadget mereka. Itu membuatnya menghela nafas berat.
Menyadari tak akan ada bala bantuan, lelaki berkaos tosca itu mencoba peruntungannya dengan melompati mobil untuk membuka pintu sebelah kanan. Setali tiga uang dengan pintu kirinya, pintu kanan mobil itu juga macet dan tak sanggup dijebolnya. Memaksanya untuk kembali ke sisi kiri, kali itu bukan dengan melompat, dia memilih berjalan di atas mobil lalu meloncat turun, membuat mobil ringsek itu bergoyang sambil berderit seperti suara lonceng kematian.
Kedua kutub accu mobil mulai memanas seiring kuit kabel di bagian sekeringnya yang mulai meleleh, mengepulkan segelintir asap putih.
Lelaki itu kemudian merunduk, lalu duduk melipat lututnya. Tangannya meraih ketiak sang perempuan, lalu : "Arrrgghh ...." erangnya sambil menarik pundak perempuan itu sekuat tenaga.
"Sial !" eluhnya, Blazer bergelimang darah perempuan itu nyangkut di dustboard.
Sementara lelehan kulit kabel mulai menetes, menebar asap putih yang kian menebal. Tapi luput dari perhatian lelaki itu, tapi tidak oleh kerumunan. Mereka mulai cemas, karena mereka yakin bahwa asap itu akan segera membawa api.
Lelaki itu melepas T-shirtnya, menjadikannya sebagai lap untuk mengeringkan kedua telapak tangannya dari lumuran darah. Lalu dengan cekatan melepaskan blazer perempuan pingsan itu agar tak nyangkut di dustboard.
Sekali lagi dia menghela nafas berat, lalu mencoba kembali meletakkan tangannya di ketiak perempuan itu. Kemudian ....
"Kraaak !" bunyi sobeknya baju dalam dan blazer sang perempuan.
"Ups ... Sorry ! Hihihihi ...." reflek mulut sang lelaki ketika dilihatnya tubuh bagian atas perempuan itu hanya mengenakan BH. Sedangkan blazer dan baju dalam nya nyangkut di remukan dustboard.
Dia bersyukur karena berhasil membebaskan tubuh perempuan itu dari himpitan stir. Padahal di depannya, di dalam kotak sekring, api mulai terbentuk beriring decak suara konsleting.
Konsentrasi lelaki itu lalu tertuju pada bagaimana cara melepas paha dan kaki sang perempuan dari himpitan dustboard.
"Tak ada cara lain selain harus menghancurkan joknya !" bisik lelaki itu pada dirinya sendiri. "Dan itu hanya bisa dilakukan dengan menjejaknya dari pintu sebelah kanan."
Tak ayal, dia pun segera melompat kembali, mengambil posisi di sebelah kanan. Lalu memasukkan kedua kakinya melalui celah jendela, kemudian menjejak sekuat tenaga, berkali-kali, menghancurkan jok tempat duduk pengemudi. Ketika dirasanya cukup longgar, dia segera berdiri, bermaksud hendak melompat ke sebelah kiri. Tapi matanya menangkap keganjilan. Pipa tembaga tempat minyak rem menekan piston cakram mobil itu sengaja diputus dengan benda tajam. "Sebuah sabotase !" simpulnya dalam hati. Tapi bukan hanya itu, matanya juga sempat melirik ke arah sumber asap konsleting yang mulai menghitam.
"EUREKA !!" Teriakannya membahana, diacungkan kepalan tangannya ke langit, seolah menantang gugusan angin yang sedang bergerombol menunggu di rooftop gedung apartemen bercat biru. Membuat kerumunan menggelengkan kepala. Semua tahu, teriakan itu adalah reaksi kegusaran benaknya saat dia baru menyadari bahwa nyawanya sedang terancam.
__ADS_1
Tak perduli lagi keselamatan nyawanya, lelaki bertelanjang dada itu nekat untuk duduk bertumpu pada kedua lututnya tepat di sisi pintu sebelah kiri.
"Maaf ... Gw sentuh 'tubuh' lo ! Gagagaga ...." cengar-cengir, lelaki itu kemudian mulai melingkarkan kedua lengannya di punggung hingga menembus dada, terpaksa diremasnya buah dada perempuan itu agar dia memperoleh daya cengkeram yang cukup untuk menarik tubuh pingsan itu keluar mobil.