The Last Cliff

The Last Cliff
Chapter 42.


__ADS_3

" ... gw cuma mau saranin, Gaez ! Kalau mau membeli produk otomotif, entah itu mobil atau motor, maka jangan cuma fokus pada volume selindernya atawa cc-nya doang ! Perhatikan juga berapa tenaga konversinya ! Itu penting banget ya, Gaez. Carilah mobil yang perbandingan cc-nya dengan 'horse power'-nya berimbang ! Maka gaez akan mendapatkan jenis mobil yang irit BBM tapi kenceeeeng banget ! Itu saran dari saya hari ini ... saya, Arvine Dowson, have a nice weekend ... EUREKA !!"


"Cut !" teriak Nickolaus Welas. Menandai akhir dari sesi pengambilan video, "mantaaab ! Semoga ini menjadi awal yang baik."


"Aemieen !"


Suara itu terdengar optimis meski disertai seringai unik di wajahnya, memar di kedua lutut Arvine Dowson menjadi sebab senyum unik itu, senyum yang dipaksakan sambil menahan rasa nyeri. Sepasang 'kruk ketiak' diletakkan di sisi sofa, alat bantu jalan itu menjadi satu-satunya pilihan yang bisa dia gunakan untuk menopang aktifitasnya.


Dari garasi sederhana milik Billy Williams, Arvine Dowson mencoba untuk kembali menyapa subscriber-nya. Sebuah awal yang bisa dibilang sangat minor. Bermodal kamera dan laptop, dia ingin tetap eksis di yout*be, berharap kemurahan hati followernya untuk meraih ketengan rupiah.


Bila sebelumnya dia tampak sempurna dengan aksi-aksi menantang maut dengan paduan motion picture oleh tim kreatif, maka saat itu dia hanya tampil ala kadarnya. Tanpa dukungan tim kreatif maupun lab studio, tampilan Arvine Dowson tak lebih dari yout*ber amatiran.


Dan contain-nya, ya ... Tuhan ! Memalukan sekali ... OTOMOTIF !! sama sekali tak bermodal, terkesan cuma menjual popularitas lamanya.


"Bill, kamu bisa editing, ga ?" tanyanya disertai hembusan nafas pasrah. Berselonjor kaki di atas sofa, lututnya belum bisa ditekuk, bengkaknya tak muat di celana, terpaksa bersarung merk atl*s.


"Editing !? Hahahaha ... maling aku jago ! Kalau editing aku zero ! Tapi tenang, Bro ! Tetangga sebelah ada anak kuliahan jurusan informatika, semester 3. Mungkin dia bisa bantu. Anak itu fans berat mu."


Nickolaus Welas yang sempat terpedaya oleh gaya bicara Billy Williams sontak ngakak. "Semester 3 itu baru diajarin bahasa pascal ! Belum bisa apa-apa, Bill !" katanya di sela gelak tawanya.


"Kita cari yang jago apa yang gratis ?"


"Gratis tapi jago lah, Bill ! Kalau ada yang sekalian mau jadi sponsor." usul Nickolaus Welas. Tawanya belum berakhir.


"Hanya ada satu yang sehebat itu, Nick ! Namanya Rara, jadi kangen sama dia."


Kalimat itu datar dan nyaris tanpa dipikir oleh Billy Willims, nama Raquella Mae begitu saja meluncur dari mulutnya lalu menusuk Arvine Dowson tepat di uluhati. Mereka terpisah sejak berakhirnya misi Rinjani, itu sudah lebih dari sebulan.


"Apa kabar, Ra ?"


Bertanya hanya dalam hati, bahkan tak terucap dalam diksi. Tapi nafasnya mengisyaratkan kehawatiran. Lalu dengan sedikit ragu, Arvine Dowson meraih Gadgednya, mencari nama 'Rara' dalam icon contact-nya.


Sudah yakin mau menghubungi Rara ? Di saat lini pertahananmu sedang kacau balau begini, masih bisakah kamu menahan satu penyerang lagi ? Ingat ! Dia itu striker oportunis. Pemikiran itu membuat Arvine Dowson kembali lunglai, hampir merem.


Gemuruh suara knalpot mobil tiba-tiba terdengar. 1 ... 2 ... 3 dan oh 4 mobil memasuki pekarangan rumah. Diparkir secara sembrono tak tentu ujungnya. Lalu tak kurang dari 20 orang berbadan besar tampak turun. Berseragam dinas biru-biru. Bergerak serempak mendekati pintu garasi.


"MASALAH !"

__ADS_1


Nickolaus Welas melirik Billy Williams, dilihat tangannya, mengepal. Lehernya dilemaskan, seperti sedang pemanasan. Dan yang paling menyakinkan adalah gaya menaikkan alisnya lalu menghembuskan sedikit nafasnya ke arah mukanya sendiri. Sebuah ritual oleh Billy 'the trouble' Williams untuk bertarung.


"Lo, Bang ! Tetap di sini."


"Eureka !" bisiknya. Kemudian beriring langkah tegak Billy Williams, Nickolaus Welas berdiri menghadang di tengah pintu garasi. Keduanya menatap acuh ke arah depan, arah dimana gerombolan perusuh datang membawa ancaman.


"Siapa yang bernama Arvine Dowson ?"


"Saya !" jawab Nickolaus Welas dan Billy Williams bersamaan. "Dan siapa yang mau mati duluan?" lanjut Nickolaus Welas. Hidungnya sudah tak lagi naik turun, matanya tak berkedip.


"Kematian bisa datang kapan saja ! Bukankah yang lebih cepat itu biasanya lebih baik ?" Billy Williams melanjutkan ucapan Nickolaus Welas dengan suara yang lebih meyakinkan, datar dan nyaris tanpa tekanan, sedingin senyum malaikat kematian.


"2 orang sedang menggertak 23 jagoan ? Cara yang bagus untuk bunuh diri."


Dua orang melangkah maju, seperti ingin beruji nyali.


"SREEEET ...." lalu ... "Aaaaah !"


Dua bilah pisau serbu meluncur dari tangan Billy Williams, tepat sasaran ! Menancap telak di paha dua jagoan itu. Mereka menjerit lalu tumbang menggenggam paha. Kemudian merintih seperti bayi.


Darah pertama telah tumpah, dua sekaligus. Aroma anyirnya menyengat Nickolaus Welas. Kemudian mulai menari, menyuarakan harmoni pertempuran khas anak Papua. Memekik kemudian mendengus. Menebar permusuhan yang tak akan pernah berujung. Adat anak Papua, mati satu tumbuh seribu, menghidangkan darah sebagai suguhan dendam tanpa akhir.


***


" ... kepung dua srigala itu !"


"Kita harus bertarung sebagai satu kesatuan, punggung kita jangan sampai terlepas terlalu lama."


"Baik, Saudaraku ! Kita serang yang di tengah."


Lalu kedua lelaki itu menerjang, mengayunkan senjata mereka secepat kilat. Meninggalkan lolongan kematian pada mereka yang terpenggal. Darah mulai membasahi tanah tandus itu, jengkal demi jengkal perlahan memerah.


Denting suara samurai beradu kian menggema, teriak para jagoan itu tak membuat gentar nyali keduanya. Mereka bertarung membabi buta, mengerahkan semua jurus ilmu pedang yang mereka miliki dengan seluruh asa. Demi persaudaraan, demi keadilan, demi kemerdekaan ... eureka !


"Awaas kawaaaan !"


Tapi terlambat. Sebuah anak panah telah menembus dada ....

__ADS_1


"Bleeb" pindah chanel.


" ... Saudara ! Penambahan kasus baru terus saja berlangsung, hari ini tercatat sudah 3.734 orang positif covid 19. Itu artinya telah terjadi lonjakan sebesar 17 % ...."


"Ceklek !" televisi dimatikan, kemudian matanya memicing. Seperti ingin segera terlelap tapi kantuk belum juga hinggap di bola mata Clarissa Mae. Sesekali tampak dia membekap dadanya sendiri, menahan rasa gelisah yang tiba-tiba menyelimuti jantungnya. Detaknya tak teratur, membuat nafasnya sedikit berat. "Ada apa ini !?" bisik dalam hatinya.


merasakan debaran jantungnya semakin kencang, bahkan seperti hendak mengisyaratkan suatu bencana di kolong langitnya. Perlahan menjadi gelisah.


"Vinnie !?"


Entah kenapa nama itu diigaukan, bukan dikala sedang tertidur. Mungkin firasat sedang menguasai bibirnya, membawa serta gelisah melebihi akal sehatnya. Menjadikannya sebagai alasan sempurna untuk menelpon lelaki itu.


Jemarinya menggigil menggenggam handphone, menekan keyboardnya lebih gelisah. Tapi ....


"Tok ... tok .. tok ... " suara pintu itu mengagetinya, menambah hebat debar jantungnya. "Non !? Non Clarissa ... makan dulu, Non !"


"Iya, Bu ! Sebentar."


Faizah telah derdiri di depan pintu. Tangannya sedang membawa nampan kecil berisi makanan untuk dinner Clarissa Mae. Perempuan itu benar-benar memegang ucapannya, merawat dan melayani seluruh kebutuhan Clarissa Mae selama mereka tinggal mansion keluarga Rodmeyer.


"Saya mau ngomong berdua, rahasia !"


"Rahasia apalagi, Bu ?"


Setelah meletakkan nampan di atas nakas, Faizah bergegas menutup kembali pintu kamar yang sengaja dibiarkan terbuka. Kemudian dia duduk di bibir kasur. Memandangi sosok Clarissa Mae dari ujung rambut hingga ke ujung kaki. Lalu menggenggam tangannya.


"Saya mau pamit, Non ! Nanti sore saya harus pulang ke Jakarta. Walaupun saya sudah tidak di rumah ini lagi, saya berharap agar Non Clarissa mau tetap tinggal di sini."


"Maaf, Bu. Saya tinggal di sini karena menghormati ketulusan Ibu, bila Bu Faizah pergi maka saya juga akan pergi dari rumah ini. Om Jack dan tante Karen tetaplah orang asing bagi saya."


"Terus bagaimana hubunganmu dengan Eddy ?"


"Saya ke sini untuk urusan bisnis, Bu. Untuk kerja. Jadi hubungan saya dengan Eddy sebatas hubungan kerja. Atau paling jauh ya teman."


Ada gurat kekecewaan di wajah Faizah, jauh di dalam hatinya berharap agar hubungan mereka lebih dari apa yang barusan ia dengar. Tapi yang namanya jodoh itu tidak bisa dipaksakan.


"Menjadi bagian dari keluarga ini adalah sebuah kehormatan untuk saya. Tapi maaf, Bu ! Tanpa bermaksud mengurangi rasa hormat itu, ijinkan saya untuk memilih seorang suami yang kelak akan membimbing langkah anak-anakku."

__ADS_1


Tegar, walau terdengar asing. Clarissa Mae bersikukuh untuk memilih, menolak untuk dipilih. kemudian melupakan handphone dalam genggamannya, IRONIS.


__ADS_2