
"Sebelum kamu 'pulang', sebelum semuanya terlambat. Lihatlah mereka ! Lihatlah airmata ketiga muridmu ini !" gumam Arvine Dowson sebelum dokter mencatat waktu kematian Shanique Miller.
Manik matanya tajam menembus lipatan mata Shanique Miller yang mulai memucat, seolah ingin menggapai remahan jiwa yang mungkin masih tercecer di dalamnya. Deru di dadanya perlahan menggumpal, ada getar kemarahan yang mulai menjamah rasa bersalahnya, Arvine Dowson membuang kacamata hitamnya, mehantamkannya ke sudut ruangan.
"DASAR PENGECUT !" Teriak Arvine Dowson tiba-tiba, mencekam hati semua.
"DULU KAU PERNAH MENINGGALKAN AKU SENDIRIAN ! AKU BISA TERIMA ITU !!" Lanjutnya tak kalah menggelegar.
"SEKARANG KAU ULANGI LAGI ! KAU PERGI SEPERTI BADAI ... TANPA PERMISI MEMBAWA PERGI HARAP KU, DAN MENINGGALKAN PRAHARA TANGIS DI MATA MURIDMU !" engah Arvine Dowson terdengar seperti orang kesurupan, menyibakkan tangan lalu membentang dada.
"Lihat mentor kalian itu !" suaranya mulai terdengar seperti berputus asa. Diikuti desis tangis dari mulut ketiga gadis yang masih bersandar di dadanya, "BUKANKAH DIA TAK LEBIH DARI MAYAT SEORANG PENGECUT ?" lanjut Arvine Dowson dengan suara yang tiba-tiba membahana.
Kemudian, "DEMI HITAM MATA INI" Arvine Dowson menunjuk matanya yang telah benar-benar menghitam, di bola matanya tak menyisakan warna lain, seluruhnya menghitam.
"AKU BERSUMPAH ! KAU TAKKAN BISA MENEMUKAN AKU DI SURGA."
Kemudian luruh, bersimpuh sambil menunduk, Arvine Dowson bersiap menerima kekalahan pertamanya sambil menutup mata.
Ketika tiba-tiba dada Shanique Miller terguncang kemudian terangkat, dokter dan dua suster segera bertindak cepat. Memasang alat bantu pernafasan untuk membekap mulut dan hidung Shanique Miller.
"KAK SHASA ...." jerit tiga gadis kuliahan itu nyaris bersamaan, disertai hamburan kaki mereka untuk mendekati mentornya. Tapi mereka terhalang oleh bentangan tangan dokter.
"Tiiiit ... tiiit ... tiiit ...." disertai munculnya gambar bergelombang di layar cardiograf membuat Arvine Dowson kembali bernafas lega. "Terimakasih atas peringatanMu !" nukil dalam benaknya.
"Selamat siang Nona Miller ! Selamat datang." tegas suara dokter itu menyambut terbukanya kedua bilah mata pasiennya.
"Siang ! ... saya dimana ?" suara itu serak dan pelan. Tapi sontak membumikan kembali nalar Arvine Dowson, dia segera bangkit lalu berdiri tegak untuk menyambut hadirnya sang kekasih kembali ke dalam kehidupannya.
"Nona sedang berada di rumah sa--"
"Vinnie mana ?" kembali suara serak itu menyela ucapan sang dokter.
"Tuan Dowson, silahkan !" alih sang dokter sembari menepi, memberi ruang untuk dua sejoli itu saling memandang, kemudian saling merajut jari.
Dokter telah menepi, dua suster menyusulnya, mereka sengaja ingin memberi kesempatan kepada Arvine Dowson dan Shanique Miller untuk saling menguatkan, demi sempurnanya sebuah keajaiban.
Saat kedua tangannya tengah tengadah, "Peluklah aku !" lirih suara Shanique Miller, mengharap dekapan ke dadanya, di atas kabel-kabel cardiograf.
Meski sedikit kikuk, pada akhirnya dada bidang lelaki itu menelungkup juga, mendekap tubuh Shanique Miller dengan sedikit longgar.
"Kurang erat ... hiks !"
Arvine Dowson mengikuti kemauan kekasihnya, memeluk tubuh kurus dan pucat itu sedikit lebih erat.
"Hmmm ...." dengus kecil menyertai nafas Shanique Miller, " ... sekarang berkediplah 15 kali ! Aku benci mata hitam mu itu."
Mata Arvine Dowson pun mengerjap, setiap kerjapannya memudarkan warna hitam di bola mata itu. Ketika pada hitungan ke 15, bola mata itu telah benar-benar putih kecuali pada manik matanya saja yang hitam kecoklatan. Arvine Dowson seperti terlahir kembali, dengan binar mata yang tak lagi 'blur'.
__ADS_1
"Sekarang bagaimana ?" bisik Arvine Dowson saat melepas dekapannya. Memperlihatkan tegas binar matanya pada Shanique Miller.
"Masih seperti yang dulu, pelukku selalu redakan laramu." lalu seulas senyum menyembul dari balik 'cup' yang membekap mulut dan hidung Shanique Miller.
Seperti telah mendapat kesimpulan akhir dari dalam kepalanya, "sepertinya nona Miller tak membutuhkan lagi semua alat bantu elektronik ini, penopang hidup yang sesungguhnya telah ditemukan." Dokter itupun segera memerintahkan dua suster pembantunya untuk melepas semua kabel dan selang dari sekujur tubuh Shanique Miller, kecuali selang infus.
"Sembari menunggu proses pemindahan ke kamar perawatan reguler, silahkan adik-adik bersyukur, karena nona Miller telah melewati masa kritisnya." pungkas dokter itu kepada Farah Isuke, Cindi Latuconsina dan Fatimah Mahmud.
"Untuk Anda, Tuan Dowson ! Terimakasih dan jangan kecewakan kami lagi ?"
"Lagi !? Kenapa dokter ini bisa tahu kalau tadi aku sempat 'membiarkan' Hani berjuang sendirian ?" bisik dalam batin Arvine Dowson, membuatnya hanya mampu mengerenyitkan dahi lalu menunduk hormat pada sang dokter.
"Yasudah, kami permisi dulu." tutup sang dokter, langkahnya kemudian diikuti oleh dua suster di belakangnya, keluar kamar perawatan khusus.
"Kaka Shasa ... hiks ... hiks ...." Fatimah Mahmud yang memulai tangisnya, memeluk lalu bertubi-tubi mencium pipi hingga kening mentor akademisnya.
"Hiks ... hiks ... hiks ... jangan nakutin kami lagi, Kak !" pinta Cindi Latuconsina saat lengan lembutnya membelai lalu melingkar di leher Shanique Miller.
"Farah ...." suara pelan Shanique Miller memanggil gadis yang menolak untuk memandangnya, gadis itu berusaha membuang pandangannya ke langit-langit sambil berdiri mematung. Seperti sedang melakukan aksi boikot, meski semua tahu bahwa sesungguhnya gadis itu hanya berusaha untuk tegar, dan menolak menangisi orang yang telah membuatnya sangat hawatir. Tapi saat namanya disebut kembali :
"Farah ... Isuke ...."
Gadis itu tak sanggup lagi menahan tangisnya.
"Huaaah ... huaaaaah ... huaaaaaaaah ... Kak Shasa jahaaat !" tangisnya tumpah, lalu menghamburkan diri di atas dada mentornya.
Arvine Dowson beringsut menjauh, entah karena kerasnya suara tangis Farah Isuke, atau sebab lainnya. Yang pasti, ada kesan ragu dalam sungging senyum di bibirnya.
Tapi ketiganya tak sanggup menghentikan tangis, hanya sedikit mereda saja.
"Siapa dia ?" tiba-tiba suara Shanique Miller terdengar tegas. Membuat ketiga anak didiknya terkejut, lalu memandang ke arah wajah mentornya, kemudian mengikuti arah iris biru mata itu untuk sampai pada sosok Arvine Dowson.
"Kak !?" gelisah Fatimah Mahmud. Jemari lentiknya lalu menyentuh pipi Shanique Miller.
"Bang Vinnie, kak ! Dia itu Arvine Dowson." Cindi Latuconsina melanjutkan kehawatiran sahabatnya. "Kak Shasa bisa mengingatnya, kan ?"
"Bukan ! Dia bukan Vinnie ku. Badannya terlalu besar." elak Shanique Miller, "Arvine Dowson badannya kurus ... dia kurang makan."
Ucapan Shanique Miller itu mulai membayangi keraguan di hati ketiga anak didiknya. "Ya Tuhan ... Tolong jangan hapus lagi ingatan kak Shasa !" bisik dalam benak Farah Isuke.
"Kak Shasa jangan amnesia. Please, Kak !" rintih Fatimah Mahmud.
Ketegangan kembali menyelimuti ruangan, rasa hawatir menyesakkan dada mereka, menghentikan tangis syukur ketiganya.
Farah Isuke menatap ke arah Arvine Dowson, "Bang, sini cepat !" kemudian bisiknya mulai kalut.
Cindi Latuconsina lebih trengginas, menyeret tangan bahkan mendorong punggung Arvine Dowson dengan sekuat tenaganya. Walau terkesan enggan, akhirnya lelaki itu pun menurut. Berjalan pelan mendekati Shanique Miller.
__ADS_1
"Apakah benar kata mereka ? Kamu adalah Vinnie ku ?" tanya Shanique Miller.
Arvine Dowson hanya tersenyum, memandang warna biru di mata kekasihnya itu yang terlihat lebih mirip langit, jernih dan menyejukkan batinnya.
"Satu hal yang tak pernah ku lupa tentang Vinnie ! Ciuman bibirnya." desah Shanique Miller. Matanya segera mengatup tipis, masih menyisakan ruang setipis bulu matanya untuk melihat siluet wajah Arvine Dowson.
Farah Isuke mengerti pada apa yang mungkin akan segera terjadi, tangan mungilnya segera meraih bahu Fatimah Mahmud kemudian menariknya untuk sedikit mundur.
Cindi Latuconsina memberikan sedikit injakan di ujung kaki Arvine Dowson, matanya melotot, seolah sedang memerintah lelaki itu untuk mencium bibir mentornya. "Ga usah malu ! Atau gw hajar 'burung' Lo !" ancamnya.
Entah karena takut dihajar, atau karena tingkat adrenalin di kepalanya masih tumpah ruah, atau sebab lainnya, Arvine Dowson akhirnya rebah di sisi tubuh Shanique Miller, membelai lembut alis mata kekasihnya itu dengan ujung jarinya. Kemudian turun ke bulu matanya, menutup nya untuk benar-benar terpejam, sama persis dengan saat pertama kali mereka berciuman. Itu melambungkan angan Arvine Dowson kembali ke saat mereka sedang berteduh, menanti redanya hujan di sebuah rumah kosong.
" ... Vin ! I love you." bisik Shanique Miller kala itu, jari tengahya menyentuh bibir Arvine Dowson. Mengharap sang kekasih agar berhenti bicara.
"I lo--"
"Hrrrr ... Aku kedinginan, Vin !" sela Shanique Miller. Jarinya terus saja menari di atas bibir sang kekasih, mengelusnya, merabanya, lalu nakal dengan memasukkan jarinya sedikit ke sisi dalam bibir itu.
Saat sebuah petir menyambar pucuk dedaunan, Shanique Miller menjerit lalu bersembunyi dalam dekapan dada Arvine Dowson.
"Aku takuuuut ... Vin !" lalu mulai tedengar desahnya.
"Hssssh ... " hembus nafas Arvine Dowson di telinganya, "di sisiku kamu aman, Han ! Bersamamu aku nya--"
Arvine Dowson tak sanggup menyelesaikan kalimatnya, karena dadanya tiba-tiba bergelora oleh hasrat yang tak semestinya, saat menaikkan dagu kekasihnya.
Shanique Miller memejam dengan bibir merekah, nafasnya memburu, pipinya merona. Kemudian dia mendesah.
"Aeuuuuh ....'" saat jari Arvine Dowson menyentuh Alis kemudian bulu matanya.
Kala harum aroma nafas Shanique Miller menyeruak ke alam hayalnya, Arvine Dowson membiarkan gelora mudanya membara, memuaskan gairahnya tak hanya sebatas dalam angannya.
Mereka melayang, menikmati sensasi saat bibir mereka saling mengulum untuk pertama kalinya, merajut tumpang tindih untuk saling mengisi, saling melengkapi, saling menguatkan dogma bahwa tak ada manusia suci di dunia ini.
Gelimang peluh dan decak lidah mengiringi hayal mereka ke hamparan padang ilalang, dimana langitnya berona jingga, hawanya sejuk beraroma bunga, bulan dan matahari nya terhalang ribuan kupu-kupu yang terbang mengitari mereka.
"GUBRAAAAACK !" suara kotak kertas menghantam lantai, tak jauh dari kisi luar jendela.
Suara itu tak keras, bahkan nyaris tak terdengar oleh mereka, hanya telinga Arvine Dowson saja yang jelas menangkap aura kemarahan dari gemeretaknya, membuat lelaki itu terkejut saat menyadari bahwa bibirnya masih bertaut dengan bibir Shanique Miller.
"Ini salah ! Sekecil apapun sebuah penghianatan adalah sampah !!" bisik dalam hati Arvine Dowson, memaksa lelaki itu untuk menyudahi ciumannya.
"I love you, Vin !" ucap bibir Shanique Miller tanpa suara, yang dijawab langsung oleh Arvine Dowson dengan sebuah kecupan sayang di keningnya.
Arvine Dowson berjalan sedikit tergesa, mencari sumber suara 'gubrak' yang didengarnya.
Dengan nafas yang masih memburu, Shanique Miller melihat ke arah tiga mahasiswinya, menemukan Fatimah Mahmud sedang menutupi wajah, Cindi Latuconsina tegang menahan nafas, dan Farah Isuke berdecak menelan salivanya sendiri.
__ADS_1
"iiihhh ... Malu gw." bisik dalam benak Shanique Miller lalu memejamkan mata birunya.
Arvine Dowson menghentikan langkahnya tepat di ujung sebuah plastik, di dalamnya terdapat kotak makanan cepat saji. "RISSA !?" desir dalam hatinya kala menyadari bahwa burger remuk di dalam kotak kertas itu adalah burger yang dikirimnya untuk Clarissa Mae.