The Last Cliff

The Last Cliff
Chapter 63


__ADS_3

Jam antik berdentang delapan kali, bandul di tengahnya tak berhenti berayun, menggeser jarum detiknya langkah demi langkah. Menjadi saksi sejarah.


Di balai tengah mansion milik keluarga Rodmeyer, di ruang yang didesain berbentuk oval itu, puluhan orang sedang bercengkerama. Mengisi waktu sambil menanti munculnya dua pasang calon pengantin. Riuh suara mereka bercampur tawa, turut berbahagia atas rencana pertunangan dua 'pangeran' Rodmeyer.


Mereka bukanlah asing satu sama lain, sebagian besar dari mereka telah saling kenal bahkan bersahabat dengan kedua pasangan yang akan menghelat acara. Sebagian lagi adalah kerabat dan rekan bisnis keluarga Rodmeyer. Yang asing hanya beberapa wartawan yang mendapat kehormatan untuk meliput acara itu, dan mereka pun tahu diri dengan menepi di kursi bagian belakang, tepatnya di depan pintu.


Kamera mereka sontak mengeluarkan cahaya blitz saat Arvine Dowson datang sendirian di saat suara 'announcer' mulai 'cecksound'



Tanya seorang wartawan : "Apakah kedatangan anda di sini untuk mengisi acara entertain ? Dan kabar manajemen artis anda, apa benar ? kalian bubar."


Tiba-tiba saja perhatian tetamu beralih kepada sosok Arvine Dowson. Tak terkecuali para 'pembesar' yang sedang duduk di balkon belakang. Mereka bahkan menyempatkan berdiri untuk menjangkau wajah anak muda itu.


"Seperti yang Anda lihat, wardrobe saya terlalu casual untuk sebuah sesi entertainment. Saya datang untuk menghadiri pertunangan seorang teman." menghela nafas sejenak, Arvine Dowson kemudian melanjutkan jawaban nya dengan mode kalem, "manajemen dibentuk untuk membantu karir saya di dunia hiburan, targetnya jelas, untuk mencari benefit dari popularitas saya. Bila mereka bubar, itu berarti saya sudah tidak lagi menguntungkan bagi manajemen."


"Maaf, sepertinya acara sudah dimulai, dan saya harus segera berbaur dengan tetamu lain." pungkasnya saat melangkah memasuki kerumunan. Lalu dua pasang mata lekat mengekori jejak Arvine Dowson.


Jack Rodmeyer menatap miris. Kendrick Wiliiamson menebar senyum bangga. Kedua 'pembesar' itu duduk berdampingan di atas balkon, bersama kyai Mahmud, Karenina Rosi a.k.a Karen Rodmeyer, Aisyah, dan Faizah. Enam orang berusia 54 tahun itu kompak untuk duduk di balkon. Siapa yang menyangka bahwa mereka dulu pernah terlibat persaingan 'asmara' ? Dan saat usia sudah menua, semuanya menjadi baik-baik saja ! Yang beruntung menjadi pasangan. Seperti pasangan Jack & Karen Rodmeyer serta Kyai Mahmud & Aisyah.

__ADS_1


Sementara Kendrick Williamson dan Faizah gagal bersatu, meski mereka masih dan akan terus saling mencintai. Seperti saat itu, mata mereka kerap saling tertaut, hati mereka pun saling memilin. Tapi cinta mereka tak berada di dimensi yang sama, tersekat entitas fatamorgana, sebuah kata maaf !


Yang lalu biarlah berlalu, hikmah bisa dipetik, selebihnya biarlah waktu yang menyembuhkan. Yang terpenting adalah yang tersaji di depan mata Arvine Dowson, sosok yang pelan berjalan menyisir karpet merah dengan wajah datar, dingin. Meski gaun putih itu terlihat anggun, serasi dengan buket bunga marigold di genggamannya.



Tapi tunggu ... Putih ? Bukannya tosca adalah warna favoritnya ? Rupanya Clarissa Mae sengaja memakai gaun warna putih sebagai bentuk 'protes' hatinya yang enggan menjalani skenario yang ditulis oleh nalarnya. Kemunafikan yang tengah dia jalani sebagai akibat dari keterpaksaan, selaras dengan bunganya, Marigold ! Bunga untuk cinta yang disesali.


Mata Arvine Dowson tak bodoh, dia tahu apa yang tersirat dari wajah sendu Clarissa Mae. Yang dia tak faham adalah kenapa perempuan itu melakoni semua sandiwara itu. Pikirannya mulai meraba-raba.


Saat Clarissa Mae telah berdiri di sisi Fatimah Mahmud, barulah Arvine Dowson menyadari bahwa dia akan kehilangan sesuatu yang sangat berharga, sesuatu yang selama hampir 4 tahun ia abaikan, 'cinta Clarissa' ! Dan saat lelaki itu mulai merangsek maju, menyelinap di antara kerumunan, semua terasa hampir terlambat. Dadanya terasa sesak, matanya bahkan mulai basah kala sosok Edward dan Steve Rodmeyer keluar dari tirai di seberang kedua perempuan itu.


Edward Rodmeyer seperti biasa, perhatiannya terbagi kepada semua hadirin. Tangannya melambai seolah ingin memuaskan dahaga popularitasnya. Aneh, kenapa lelaki itu seperti tak pernah puas dengan sanjung dan puja ? Penggila 'budaya artifisial' ! Tapi benarkah ? Bahwa riuh sambut tepuk tangan itu sungguh-sungguh memuja dari dalam hati. Sepertinya tidak, Arvine Dowson bahkan mengutuknya, terutama saat Edward Rodmeyer tengah berdiri di hadapan Clarissa Mae.


Fatimah Mahmud merelakan tangannya ditumpu, lalu punggung jemarinya dikecup mesrah oleh Steve Rodmeyer. Lalu sebaris kalimat sakral terdengar : "Atas nama Tuhan yang maha pengasih lagi maha penyayang. Dengan cincin ini, aku pinang engkau sebagai calon istriku wahai Fatimah Mahmud, agar tidak ada lelaki lain yang meminangmu."


"Aku terima cincin ini untuk kau sematkan di jariku wahai Steve Rodmeyer agar hanya ada kamu di dalam hatiku." suara Fatimah Mahmud sember karena sumbatan tangis di hidungnya.


Hikmat dan sunyi, hanya lembut suara Mahir Zein yang mengiringi prosesi penyematan cincin berlian di jari manis Fatimah Mahmud.

__ADS_1


Dari atas balkon, dua pasang airmata tua meleleh, diusap dengan sapu tangan mereka, kemudian keduanya merajut jemari, yaaa ... Jari Karen Rodmeyer haru dalam genggaman Aisyah Mahmud. Tuhan memberkati persahabatan mereka hingga menjadi persaudaraan.


Jack dan kyai Mahmud ? "Hahahahaha ... Tarik, sis !"


"Semongko !!!"


Keduanya tetap sepert dulu, bercanda semau mereka. Walau Kendrick Williamson mencicit gerah. Tapi semua kompak untuk berdiri kala pasangan Steve Rodmeyer dan Fatimah Mahmud membungkuk memberi hormat dari altar suci. Bagi mereka itulah klimaks acara, kecuali Faizah.


Mata tuanya lekat menatap ekspresi dingin yang menghiasi wajah Clarissa Mae. Dia pernah menginginkan perjodohan itu terjadi, Edward Rodmeyer dan Clarissa Mae. Tapi tidak dengan cara itu, cara yang membawa serta mendung di wajah gadis yang ia sayangi seperti anaknya sendiri itu.


Berkacanya mata Clarissa Mae bisa jadi karena haru, tapi mungkin juga karena sedih. Begitupun senyumnya, yang terlihat seperti sebuah cebik di bibirnya. Sementara Marigold itu, jelas ia sengaja untuk menutupi jemarinya yang tengah menggigil, haru atau takut ? Mata tua Faizah bisa nelihat semua itu, tapi benaknya tak sanggup meraba, apa gerangan yang tengah terjadi ?


Bila memang tak mau, kenapa Clarissa Mae berdiri mematung sambil menunggu Edward Rodmeyer menikmati spotlight ? Kenapa gadis itu tak melempar buket bunga di tangannya lalu berlari pergi dari altar itu ? Seandainya ia setuju menerima pinangan Edward Rodmeyer, kenapa mendung itu tak segera ia usir dengan senyum seperti biasanya ? Ada yang salah ! Itu kesimpulan yang langsung terpahat di hati Faizah.


"Selamatkan dia, Anak muda !" gumam Faizah terdengar oleh kawan-kawannya, mereka mengekori pandangan nya. Lalu melotot saat mendapati Sosok Arvine Dowson yang tengah menerobos barisan tubuh kekar security berseragam batik.


Arvine Dowson sedang berusaha untuk mengambil kembali apa yang seharusnya ia miliki, meski itu sudah nyaris terlambat.


"Que sera, sera !"

__ADS_1


__ADS_2