The Last Cliff

The Last Cliff
Chapter 52


__ADS_3

Lift mendenting keras, mengakhiri sesi diam di dalamnya. Pintunya terbuka di lantai 7, tepat menghadap ke arah sebuah Lounge dengan lampu temaram.


Kemewahan langsung terlihat dari deretan meja-meja antik yang bejejer angkuh di dalam Lounge itu. Dan kursinya terlihat seperti didesain agar menyerupai singgasana raja-raja. Ditata berdasar cita rasa, atau gede rasa ?


Meski sedikit bergidik, Clarissa Mae tetap memasuki lounge itu. Helena Krysnowack tak memberinya pilihan lain, merangkul bahunya kemudian mendudukkannya di kursi paling ujung, di sudut terjauh dari pintu masuk.


Tersenyum, "menjauhlah dari Eddy !" Helena Rodmeyer memulai pembicaraan dengan wajah serius. Meletakkan tas nya di meja lalu duduk di samping Clarissa Mae. "Dia tidak berniat baik padamu. Dia hanya ingin mempermainkanmu."


"Menurut Madam, apaka saya punya pilihan lain ? Selain mengikuti kemauannya ?" suara Clarissa Mae terdengar pasrah. Membuat Helena Krysnowack menarik dagu, lalu menatap wajah wajah teman ngobrolnya itu lebih lekat.


"Saya sedang terikat kontrak, Madam !"


Bibir Helena menyunggingkan senyum saat mendengar jawaban polos itu. Dia sudah tahu tentang pemerasan yang dilakukan mantan suaminya, yang dia perlukan sebenarnya adalah bentuk detil pemerasan itu.


"Kontrak kerja, maksudnya ?" puranya sambil meregam jemari Clarissa Mae.


"Bukan !"


Semua skenario berjalan sempurna bagi Helena Krysnowack pagi itu. Dia mampu menciptakan rasa nyaman di hati Clarissa Mae, membuat gadis itu percaya bahwa kehadirannya adalah tulus untuk melindungi. Kemudian senyumnya makin lebar saat Clarissa Mae perlahan melepas genggaman tangannya, mengambil tas untuk mengeluarkan sebendel tipis dokumen perjanjian dari dalamnya.


"Ini kontrak yang saya maksud." polos dan naif, Clarissa Mae menyodorkan berkas bersampul biru setebal 15 halaman. "Madam Helena bisa membacanya sendiri."


Ragu, Helena Krysnowak menyempatkan matanya untuk sekali lagi melirik wajah Clarissa Mae, sekedar untuk memastikan bahwa dokumen kontrak yang tergeletak di hadapannya itu bukan rekayasa.


"Kenapa ? Madam tak percaya bahwa Eddy sanggup memeras saya sejahat ini ?" wajah Clarissa Mae mulai meleleh. Membuat Helena Krysnowack yakin bahwa dokumen kontrak itu benar adanya. "Bacalah, Madam ! Saya tidak ingin Madam cemburu atau marah kepada saya perihal kedekatan saya dengan Eddy. Saya takut membuatnya marah lalu menjebloskan Rara ke penjara. Saya terpaksa."


Lalu pasti, tangan Helena Krysnowack meraih dokumen itu. "Saya tidak berhak lagi untuk cemburu. Kami sudah resmi bercerai 2 tahun yang lalu." jemarinya membuka dokumen kontrak itu di dua lembar terakhir, lembar yang biasanya berisi inti dalam sebuah perjanjian.

__ADS_1


"Tapi saya masih melihat cinta di mata Madam."


"Hmm ...." seperti asal menggumam. Mata Helena Krysnowack terpatri pada baris-baris kalimat yang tertulis dalam kertas dokumen perjanjian itu. Lalu tiba-tiba :


"Ini perbudakan !" geramnya. Tulus atau tidak, tapi geram itu disertai hempasnya bendel dokumen itu ke atas meja. Diletakkan secara kasar sambil mendengus kesal. Apalagi saat seorang pelayan Lounge tiba-tiba menyela, mengabarkan bahwa cheff mereka belum datang, Helena Krysnowack terlihat semakin gerah.


"Saya berharap, Madam Helena bisa memahami situasi saya. Dan tidak menganggap saya sebagai musuhi." meski pelan, tapi suaranya mampu menyentuh hati Helena Krysnowack. Membuat perempuan bule itu mengangguk, mengisyaratkan perdamaian.


Clarissa Mae mulai bisa bernafas lega di hadapan Helena Krysnowack. Perempuan yang sangat mungkin akan memusuhinya itu telah mengerti duduk persoalan yang sedang ia hadapi. Walau belum sepenuhnya berdamai, tapi setidaknya mata Helena Krysnowack tak lagi menjadi pemandangan yang menyeramkan untuk ia lihat.


"Well, sepertinya saat ini saya harus kembali ke ruang Komisaris Utama, sebelum Eddy marah dan membuat hidup saya semakin rumit." pungkas Clarissa Mae setelah memasukkan dokumen perjanjiannya kembali ke dalam tasnya.


"Boleh saya ikut ?"


Pertanyaan itu terdengar mengherankan di telinga Clarissa Mae, dia sampai melipat dahinya. Tentu saja boleh, dia tidak berhak untuk melarang siapapun untuk melakukan apapun, mengingat status nya yang hanya seorang budak.


Clarissa Mae berdiri meninggalkan kursinya, menunduk kepada Helena Krysnowack, mempesilahkan mantan istri Edward Rodmeyer itu untuk berjalan mendahuluinya. Walau semua itu dilakukannya semata karena adat ketimuran, tapi hasilnya di luar dugaan. Helena Krysnowack menjadi sering melempar senyum, sesuatu yang sangat jarang terjadi dalam beberapa tahun belakangan, tak terkecuali pagi itu.


"Tentu, Dear ! Dengan senang hati, tapi dimana kira-kira kita bisa bertemu lagi ?" diucapkan oleh Helena Krysnowack dengan mata mengerling.


"Di mansion ?"


"Ha ha ha ha ... mansion keluarga Rodmeyer, maksudmu ?" tawa Helena Krysnowack terdengar crispy, tapi senyumnya asam dan gelap.


"Iya ... Memangnya kenapa ? Saya tahu Madam masih sering ke mansion itu. Semua baik-baik saja, Kan ?"


"Whooow dear--" Helena Krysnowack menghela nafas luar biasa dalam. Lalu menghembuskannya kembali halus dan perlahan. "Mereka menganggap kehadiranku di sana sebagai sel kanker ! Itu sangat menyakiti hati saya."

__ADS_1


"Maksudnya ?"


"Saya memang masih sering ke mansion itu, bukan lewat pintu depan, tapi lewat pintu samping lalu langsung ke kamarnya Eddy."


"Wauwwww !" itu terdengar spontan, "langsung ke kamar !!" menyertakan tawa kecil lalu mengerdip menggoda.


"Heeey !" giliran Helena Krysnowack yang tersipu, sedikit risih pada arti kedip mata Clarissa Mae. "Pikiranmu itu ngawur ! Bukan untuk urusan 'begituan'. Kami sudah terlalu 'tua'. Ha ha ha ha ha." lalu sekali lagi menarik bahu Clarissa Mae kemudian meringkusnya gemas.


"Kami bertemu untuk berbicara masalah anak kami ! Sean Rodmeyer yang sedang diculik oleh seseorang." suaranya sontak menghapus tawanya. Menyisakan tatapan kosong seorang ibu yang sedang bersedih. "Para penculik itu tak meminta tebusan. Mereka terlibat perselisihan pribadi dengan Eddy. Sebuah permusuhan antara dua orang lelaki tapi menggunakan anak kecil sebagai sasarannya. Biadab !"


Clarissa Mae menjawab keluh itu dengan sebuah usapan lembut di tangan Helena Krysnowack. Berusaha untuk saling menguatkan, dia tahu bahwa kata 'biadab' itu tertuju pada Arvine Dowson-kekasihnya.


"Sebagai perempuan, saya hanya bisa hawatir atas keselamatan mereka. Anakku dan Eddy adalah dua orang yang tak akan pernah bisa hilang dari dalam hatiku, mereka telah menjadi ...."


Helena Krysnowack menceritakan seluruh perasaannya kepada Clarissa Mae, dan itu adalah untuk pertama kalinya terjadi. Sebelumnya, perempuan berdarah Polandia itu terlalu angkuh untuk berbagi, lalu lari ke 'dunia malam' bila merasa sudah tak mampu lagi keluar dari tekanan batinnya.


Curahan hati itu baru terhenti saat mereka tiba di depan pintu ruang Komisaris Utama. Seperti sudah sangat terbiasa, tangan Helena Krysnowack menekan handel lalu menyibakkan dua pintu lebar-lebar, sebelum akhirnya ia tertegun kemudian menjerit histeris ....


"EDDY !!?" berlari secepatnya ke arah Edward Rodmeyer. Memeluk tubuh mantan suaminya itu dengan dada bergetar. Membasahi gaunnya dengan darah yang meleleh dari kepala lelaki itu.


Edward Rodmeyer duduk lemas, mengerang, bersandar pada dinding di sudut ruangan, darah tercecer di mana-mana, meja dan kursinya bergelimpangan. Semua menjadi saksi bahwa baru saja terjadi pertarungan hebat di dalam ruangan itu.


Pertarungan yang menyisakan tatapan merah penuh amarah dalam mata Edward Rodmeyer, seperti ingin membakar seluruh tubuh Clarissa Mae dengan pandangannya.


Tak perduli pada sorot mata itu, juga pada raungan tangis Helena Krysnowack, Clarissa Mae melangkah pasti, berjalan dengan dinginnya menuju jendela, gordyn berantakan, kaca sudah musnah. Pandangannya menelisik jauh ke bawah, tak ditemukannya siapa-siapa.


Saat matanya menyapu di ujung pagar, terlihat sebuah mobil yang sangat dikenalnya sdang melaju meninggalkan gerbang. Lalu bibir Clarissa Mae tersenyum, meski getir tapi terlihat seperti sedang sangat bersyukur.

__ADS_1


Hmmm ... laki-laki. Mereka bermain perang-perang saat masih anak-anak. Lalu tawuran saat masih remaja. Kemudian saling melukai saat muda. Apa yang akan mereka lakukan saat kelak sudah menua ?


Mendesah kasar, Clarissa Mae lalu bersedikap. Ada bangga di hatinya, ternyata lelakinya memang luar biasa.


__ADS_2