The Last Cliff

The Last Cliff
Chapter 36


__ADS_3

Pov : Clarissa Mae.


Bodohnya aku yang lebih mempercayai kata hatiku daripada apa yang kudengar dengan telingaku dan yang kulihat dengan mataku.


Hanya karena Vinnie pernah bilang bahwa dia cinta padaku, maka hatiku percaya bahwa cinta itu akan bertahta selamanya di hati nya. Lantas aku menulikan telingaku dari semua gunjingan miring tentang nya.


Hanya karena di dalam mata Vinnie pernah ada cinta untukku, maka hatiku percaya bahwa hanya ada diriku di mata nya. Lantas aku membutakan mataku dari semua kejahatan nya pada takdirku.


Kemudian secara membabi-buta aku membalasnya dengan seluruh curahan kasih sayang yang tersisa dalam hatiku. Menyerahkan hatiku bulat-bulat hanya untuk Vinnie. Terserah dia, mau di balas dengan cinta sejatinya, atau dihancurkan dengan gada penghianatannya, atau disiramnya dengan air perasan jeruk nipis, atau bahkan di pijak-pijaknya dengan sendal jepit bercampur telek ayam sekalipun, aku hanya bisa menerima semua perlakuannya sebagai resiko yang harus kujalani. Aku harus ihlas, bukan ?


Dalam cinta, aku adalah manusia terbodoh. Itu kenyataan ! Bayangkan saja, di saat aku sedang berdiri lunglai di depan pintu sebuah mansion megah milik sahabatnya bu Faizah, hatiku masih saja percaya bahwa saat itu Vinnie sedang memandangku, mengagumi senyumku, dan mendambakan cintaku. Aku ga tau bagaimana cara nya, tapi hatiku sangat yakin bahwa dia benar-benar sedang merinduiku. "I miss you too ... Kamu dimana, Vin ? I'm dying for you." ku cari dia ke semua arah.


"Cari apa lagi sih, Non ?" tegur bu Faizah. Aku melihat kegelisahan dalam sorot mata tuanya.


Siang itu, bu Faizah mengejutkan aku dengan kehadirannya yang tiba-tiba. Tanpa memberi kabar, beliau langsung tersenyum kepadaku dari depan pintu kamar perawatan ku. "Terimakasih Tuhan, karena mengirim senyum itu untukku." syukur ku dalam hati.


"Rumah ini kok besar banget ya, Bu ! Siapa bu Karen ?" balasku mengalihkan pembicaraan. Jujur, aku malu bila sampai bu Faizah tahu bahwa aku sedang memikirkan Vinnie.


"Karen itu teman SMA saya. Bukannya tadi sudah kenalan ?"


"Iya, Bu ! Saya sudah tahu soal itu. Tapi kok punya rumah semewah ini ? Pasti orang besar, ya ?"


"Rezekinya Karen, Non ! Dia dinikahi oleh seorang sultan minyak jelantah."


Sontak aku tersenyum meihat ekspresi wajah bu Karen, dia memutar matanya saat mendengar ucapan konyol bu Faizah.


"Jack ... Jack !" teriak bu Karen. Dia mengulangi panggilannya, karena orang yang dipanggilnya tak segera menyahut. "Jack ! Budeg amat sih, Lo ?"


Karena tak mendapat jawaban, bu Karen langsung menggamit tangan kananku untuk memasuki rumahnya. "Wow !" itu yang bisa kukatakan untuk mengomentari dekorasi interior rumah yang sedang kupijak lantainya ini. Aku semakin penasaran pada sosok bu Karen, siapa sebenarnya perempuan baik dan kaya raya itu ?


"Jack !" kembali bu Karen berteriak.


"Apa sih, Ren ?" jawab seorang lelaki dari dalam kamar utama, pintunya tertutup sebagian.


"Sini, Jack ! Lihat siapa yang datang ini. Bisa-bisanya dia bilang kalau kamu itu sultan minyak jelantah. Ha ha ha ha ...."

__ADS_1


"Faizah !?" tiba-tiba seorang lelaki tegap telah berdiri di depan kami, dia melompat dari dalam pintu kamarnya. Dia mengenakan T-shirt dan celana 2/3 kombor, putih-putih.


Kemudian mereka bertiga pun berpelukan, rasa reuni. Aku hanya bisa ikut merasakan kebahagiaan mereka melalui mata yang kian susah untuk kupertahankan terbuka. Rasa kantuk akibat efek samping obat yang disuntikkan para perawat sebelum aku meninggalkan rumah sakit.


"Akhirnya kamu bisa datang juga, Zah ! Sudah berapa tahun sejak kita terakhir ketemu ?" tanya lelaki itu.


Tunggu dulu ! Aku pernah melihat lelaki ini. Tapi dimana ?


"Empat tahun, Jack ! Baru empat tahun kita ga ketemu. Kenapa ? Sudah kangen sama aku ? Atau kangen sama minyak jelantah kita !?" balas bu Faizah.


Jack !? Ya ... Tuhan ... Ternyata aku memang sedang hancur oleh cintanya Vinnie. Bahkan sosok Jack Rodmeyer pun bisa aku lupakan. Dan Karen Rodmeyer tentu saja ! Bagaimana aku bisa tidak mengenali wajah keibuan itu ? Mereka adalah pasangan konglomerat sekaligus orang tuanya Eddy.


Kenapa tiba-tiba dadaku seperti mendesis perih saat nama Eddy melintas di kepalaku ? Apakah karena nama Eddy itu serta-merta akan dihubungkan dengan nama Shasa ? Ah ! Aku harus belajar untuk memutus rantai pikiran negatifku tentang kedua nama itu.


Eddy ya Eddy, temanku ! Shasa ya ... Ah ! Sakit rasanya hati ini.


Vin, Apakah kamu ingin membuatku gila ?


"Itu benar, Nak !"


"Haaah !?" heran ku.


"Anggap saja rumah sendiri, dan jangan segan bila membutuhkan sesuatu --


Aku butuh Vinnie, Pak Boss ! Sekarang juga ... ihiks.


--nanti saya suruh si Eddy agar datang ke sini untuk menemanimu ngobrol." pungkas pak Jack.


Jack Rodmeyer memang baik. Jarang-jarang ada orang super kaya tapi masih membumi, dia bahkan memeluk pundakku hanya untuk mengantarkan aku ke kamar. Mengingatkan aku pada Vinnie, dia juga memeluk pundakku saat menuntunku bila kakiku lemas karena sakit.


Oh ... Vinnie, aku kangen kamu. Tapi aku takut amarah di dalam dadaku ini akan meledak bila kita berbicara. Aku takut melukai perasaanmu, Vin ! Aku tak mau hatimu terluka oleh ucapanku. Maaf, aku belum bisa mengangkat panggilan telephonmu.


"Kleg !" Entah untuk yang ke berapa ratus kalinya, ibu jariku me-rejeck panggilan Vinnie. Lalu aku rebah di atas tempat tidur asing, kemudian terlelap. Di dunia tanpa Vinnie, aku terasing.


***

__ADS_1


Author.


"Arvine Dowson !" ucap Edward Rodmeyer. Gemeretak giginya langsung terdengar, rahangnya mengeras oleh kontraksi otot di dua sisi lehernya. "Braaak !" bunyi tangannya menggebrak meja, "kamu harus membayar semua ini, lunas berikut bunganya."


"Lai, Pegang foto ini di atas kepalamu !" perintah Edward Rodmeyer kepada salah satuh pengawal pribadinya.


"i-iya, Bos !" pengawal itu mulai gugup. Dia tahu apa yang akan dilakukan oleh bosnya. "Matilah aku !" serunya dalam hati.


"Tak pantas kau bermarga Pasaribu, bila memegang sehelai foto saja kau gemetar !" maki Edward Rodmeyer.


"mm-ma--maaf, Bos !" jawab pengawal itu dengan jantung makin berdebar.


"Sudah ! Jangan banyak mulut, Kau ! Berdirilah di sudut sana. Dan jangan bergerak."


Usai mengatakan itu, tangan kanan Edward Rodmeyer membuka kopor, lalu dari dalam nya terangkat sepucuk pistol jenis FN. Setelah terpasang peredam suara di moncongnya, kemudian terdengar, "Klik" pengaman pistol telah terbuka, "ckreeek." pistolpun telah terkokang.


Secara perlahan moncong pistol itu naik, lengan Edward Rodmeyer mengeras, lurus ! Matanya memicing sebelah, membidik dengan pandangan tegas ke arah foto lelaki yang menjadi penghalangnya. Karena lelaki itulah dia merasakan arti sebuah penghinaan. Nama besarnya telah tercoreng oleh seorang perempuan bernama Shanique Miller.


"Tidak boleh ada penghalang antara aku dan mau-ku. Kehendak dewa adalah takdir yang tak boleh dihalangi." bisik Edward Rodmeyer.


"DOWSON !! KAU AKAN LENYAP MENJADI DEBU." teriaknya.


Jantung pengawal yang berdiri di sudut ruangan itu nyaris berhenti berdetak. Sementara 3 pengawal lain tak tega melihatnya. Mereka memilih menunduk, menyimpan kehawatiran hanya dalam mata mereka yang terpejam.


"BHLEBB!" suara ledakan dari moncong pistol itu nyaris tak terdengar, teredam secara sempurna. Tapi peluru yang meluncur meninggalkannya tepat sasaran, melubangi foto di bagian keningnya.


Sembari meniup moncong pistolnya, "Lain kali ! Bukan hanya foto, tapi kepalamu, Dowson !" geram Edward Rodmeyer, helaan nafasnya menyimpan dendam.


"Knock ... knock !" pintu ruangannya diketuk dari arah luar.


"Ada apa ?" teriak Edward Rodmeyer dengan nada tinggi.


"Bu Karen sedang di 'line', Pak !"


"Iya ...."

__ADS_1


Tangan Edward Rodmeyer begerak ke atas, lalu ujung jarinya mengibas. Ke-tiga pengawalnya segera meninggalkan ruang sambil memapah pundak temannya yang masih mnggigil di pojok ruangan. Andai saja tembakan bosnya itu sedikit meleset ke bawah, maka kepala pengawal itu pasti akan berantakan.


Dengan nada berbeda, "halo, Ma !" Edward Rodmeyer menjawab telepon. Tiba-tiba mukanya pun ikut berubah, muka marahnya sirna, berganti dengan muka girang.


__ADS_2