The Last Cliff

The Last Cliff
Chapter 49


__ADS_3

"Selamat datang, Tuan Dowson ! Selamat bergabung bersama 'Ma Automobile'."


Sambutan macam apa itu ? Badannya saja belum benar-benar sehat, kedua lututnya masih manyisakan nyeri. Tak akan sanggup untuk menerima prank dari siapapun saat itu.


"Maaf, Bu ! Saya ke sini bukan untuk melamar kerja, atau bergabung dengan perusahaan i--"


"Silahkan duduk, Tuan !"


Seorang perempuan berpakaian seragam kantor menatakan kursi besar untuknya, tepat di belakang meja bertuliskan 'DIREKTUR UTAMA'. Sedikit memaksa dengan menuntun lengan Arvine Dowson untuk duduk di tempat yang barusan dia siapkan.


"Biar saya jelaskan situasiny--"


Perhatian perempuan itu teralih pada masuknya 3 orang bersetelan mewah, seperti pakaian pengacara. "Silahkan duduk, Bapak-bapak !"


Setelah meletakkan beberapa bendel dokumen di atas meja. "Nama saya Poetri Maharani, dan itu meja saya." gayanya centil saat menunjuk ke meja SEKRETARIS. "biar Bapak-bapak notaris saja yang meneruskan penjelasan saya." pungkasnya, "saya permisi dulu, ada tamu lain yang harus saya temui." lalu menghilang di balik pintu.


Sudah siap menghadapi prank selanjutnya, Arvine Dowson tak terkejut saat tim notaris itu satu persatu mulai memperkenalkan diri, bahkan dia pasrah saja saat kartu identitasnya 'disita'.


Biasalah ! Kerjaan mereka kan tukang sita. Kadang-kadang, bini mereka pun barang sitaan !!


Pssst ... Belum ada author yang menulis cerita itu, Vin !


Buruan bikin, Thor ! Judulnya : Istriku Barang Sitaan. awokawokawok ....


Back to the narasi !


Yaelah, Thor ! Nyantai aja napa ? Novel ini minim pembaca, ga bakalan ada yang nungguin.


Xixixixi ... encer juga kepala lo, Vin ! Gw ngupi dlo yaaa .... Bye !


Pesenin buat aku juga, wooooy ... mocca cappu--


Entah darimana datangnya, tiba-tiba mocca cappuchino terhidang di atas meja mereka. Segalon penuh, utuh masih tersegel. Tanpa cangkir, tanpa gelas !


Yaelah !!!! Ga iklas amat kamu, Thor !


Pipet kan ada ! Byeeee ....


***


Di ruang tunggu yang sekaligus berfungsi sebagai ruang lobby, Poetri Maharani sedang berdiri. Seperti sedang gelisah menunggu kedatangan seorang tamu. Jam tangannya sudah bosan dilihat, umpama bisa bicara, tentu jam itu sudah nyolot : "mata lo !"


"OMG !" geramnya.


Sepertinya dia sudah mulai kehabisan sumbu sabar, terbakar api amarah !


"Bu !" suara itu tiba-tiba terdengar dari pintu ruangan direktur utama. "Boleh minta pipet."


"Pipet !?"


"Kalau ga ada pipet, selang atau pipa paralon juga boleh."


"Untuk apa ya, Pak ?"

__ADS_1


"Minum kupi ... hehehe !"


"YA TUHAAAAAN ! KLEAN BISA SERIUS GA, SIIIIH !"


Amarah bercampur gerah yang terpancar dari wajah Poetri Maharani membuat Arvine Dowson kembali menutup pintu. Gw menembus dindingnya.


***


"Begini, Tuan Dowson ! Ini semua adalah dokumen peralihan kepemilikan 'Ma Automobile' dari Nona Clarissa Mae kepada Tuan. Semua sudah sesuai dengan prosedur hukum yang berlaku."


Kemudian mereka menyerahkan kembali kartu identitasnya dan beberapa lembar kertas untuk ditandangani.


"Tuan Dowson bisa langsung teken, atau mungkin butuh waktu untuk mempelajarinya terlebih dahulu ?"


Rissa mau nge-prank ! Siapa takut.


Tanpa babibu, semua dokumen langsung ditandatangani. "Ada yang lain, Pak ? Surat nikah atau surat tilang, mungkin !?" selorohnya.


"Hahahaha ... sepertinya kerjasama ini harus dirayakan."


"Boleh ! Dimana ? Kapan !?"


Prank kok kelewatan ! Rissa ... Rissa ... kamu memang selalu beda.


"Well ... Kita tunggu telepon dari bu Rani saja. Biar dia yang atur pesta kita ... Ha ha ha ha. Bukan begitu, Tuan Dowson ?" pungkas para pengacara itu. Tak lama, mereka pun lenyap. Meninggalkan Arvine Dowson yang masih tertawa sendirian. Prank itu dirasanya menggelikan.


"Tega kamu, Rissa ! Nge-prank di saat kakiku masih sulit untuk digerakkan. Seandainya aku bisa mengejarmu malam itu, akan kuringkus kamu. Ku peluk dan tak akan kulepas lagi."


"Kamu tau, ga ? Dari semua perempuan yang pernah dekat denganku, hanya kamu yang bisa membuatku merasa hebat, sanggup menaklukkan seluruh dunia, menjadi apa saja ! Tapi itu bukan yang aku cari, aku tak ingin menjadi hebat atau berkuasa atau apalah sebutannya ! Aku tak menginginkan semua status itu, aku cuma ingin bahagia, tak lebih !"


Bermonolog ? Seperti itu, tapi tak sepenuhnya. Arvine Dowson memang sedang berbicara tanpa lawan. Tapi di tangannya, sedang memegang foto Clarissa Mae. Terbingkai kaku dan mati.


"Aku harus jujur padamu." kemudian foto itu digantungnya kembali di tempat yang persis sama dengan saat dia mengambilnya. Lalu lekat menatapnya, "aku hanya bisa merasakan damai dan kebahagiaan di saat aku berada di samping Hani ! Bukan di samping mu. Itu terdengar ga adil bagimu, tapi itulah yang kurasakan. Aku tak ingin berbohong, terutama kepada orang setulus kamu."


Kemudian pandangannya turun, tapi kedua lengannya masih memenjara foto itu, "sekarang lihatlah ! Saat aku sudah siap menjelaskan semua perasaan ku pada mu, apa yang kamu lakukan, Huh ? Kamu malah nge-prank dengan semua kekonyolan ini ! Tak sadarkah kamu dengan dimensimu sendiri ? Kamu itu beda ! Kamu dengan segala keluguan dan keculunan pikiranmu itu tak akan bisa berlaku gila seperti kami. Dunia kami ini terlalu menyakitkan bila dicerna dengan keseriusan pemikiranmu. Owh, Dear Rissa ! This world is just a game for us, and you take it too godmn serioussly."


Setidaknya itulah yang disiapkan oleh otaknya, semua perkataannya telah dipertimbangkan secara matang sebelum memutuskan untuk mendatangai kantor Clarissa Mae pagi itu. Berharap agar perempuan itu bisa memahaminya.


Sudah fix kah itu ? Menganggap semua pengorbanan Clarissa Mae hanya sebatas lelucon ? Sepertinya tidak, takkan ada manusia yang sanggup menepis bioritmik dalam jasadnya ! Hormonnya liar saat kemudian ....


"Ceklek ...." lalu, " ... selamat pagi, Pak !"


Hahahaha ... Prank berlanjut.


"Rara !?" matanya terbelalak. Sosok perempuan yang berjalan di belakang Poetri Maharani adalah Raquella Mae, sedang memasuki ruangannya dengan panorama berbeda. Lebih 'perempuan' dibanding saat mereka terakhir bersama.


Dan cara dia berjalan, "Ha ha ha ha ... Apa yang terjadi denganmu, Ra ?" membawa kejutan yang luar biasa menggelikan. Dan tawa Arvine Dowson itu bukanlah hal yang tepat, sebuah spontanitas yang salah kaprah.


"Maaf, Ra ! Kamu cantik ... Maaf ! Beneran ... Wow !!" sebuah diplomasi jujur yang membuat wajah Raquella Mae semerah kepiting rebus plus plus. Memberengut, tebarkan sifatnya yang kolokan tapi tetap manja.


Menggemaskan.


Menepiskan pelukan Arvine Dowson, bahkan menolak untuk bertukar cium pipi. Memilih tetap berdiri mematung, melemparkan pandangan hanya pada wajah lelaki yang telah membuat hatinya jatuh berantakan itu.

__ADS_1


"Ayolah, Ra ! Aku cuma bercanda ... janganlah merajuk ter--"


"Wajahmu kenapa ?" tanya itu sarat akan amarah, keluar dari bibir yang sedang sangat berbahagia. Melahirkan ekspresi wajah antah berantah. Luara biasa ngaco, labil dan berantakan.


"Ra--" tertegun, kebingungan memilih antara menikmati atau hawatir.


"Kamu kenapa, Vin !!!" jemarinya merayap, menyisir wajah Arvine Dowson inchi per-inchi. Menjejaki bekas luka lebamnya di sana-sini, menangisi. Kemudian meratapi : "Lihat dirimu, Vin ! Betapa hancurnya hidupmu bila jauh dariku ... hiii ... hiiks ... baru sebulan kita berpisah, baru 30 hari aku tak mendampingi hidupmu tapi wajahmu sudah serusak ini ! Dan pakaianmu ini, seperti gembel ! Huuu ... huuu ... huuuu ...." meraungkan tangis sejadi-jadinya.


"Sssssh ... Rara ! Aku gapapa, aku baik-baik saja." kemudian tubuh dingin Raquella Mae dipeluknya, sehangat keinginannya untuk memiliki seorang adik perempuan yang akan sangat disayanginya.


Lalu resah, tiba-tiba Raquella Mae meronta. Menyibak dekapannya dengan wajah murung dan sorot mata penuh sesal, "ini semua salahku ! Aku terlalu sibuk mengurus penampilanku. Diet, olahraga, ke salon ... sampai lupa mengurusmu. Maafin aku ya, Sayang !"


Lalu ketakutan, "mulai sekarang, kita akan selalu bersama. Merenda hari-hari bahagia ... berdua selamanya ... hi hi hi hi !" kala mata Raquella Mae mengerling mesra.


Alamaaaaak !! Ini ga mungkin sebuah prank !!! RISSSSAAAAAAAAAA ....


"Eee ... Mbak, eh ma ... Maaf, Bu ! Apa ini semua bukan prank ??" kemudian menghela nafas luar biasa dalam, spontan lengannya menarik paksa tubuh Raquella Mae agar luruh dalam dekapnya sekali lagi. Matanya memberangus wajah Poetri Maharani, menuntut jawab atas pertanyaannya.


Baru hampir lepas dari bentuk manganga, bibir Poetri Maharani harus kembali terbuka. "Bukan, Pak ! Peralihan kepemilikan perusahanaan ini atas kehendak bu Clarissa Mae sendiri."


"Ngapain kamu masih di sini !? KELUAR !! Hanya boleh ada satu perempuan di ruangan ini. Dan itu adalah saya sendiri !" garang dan membentak, Raquella Mae mengusir Poetri Maharani. Memindah sekretaris itu ke luar ruang Direktur Utama, berserta mejanya.


***


"Bu ! Skenario apa yang sedang berusaha kamu tulis ?" √√


"Yang terbaik, Ran !" Bu Clarissa.


"Aku pengen nangis." √√


"Cemen, Jan nangis !" Bu Clarissa


"Hua hua hua hua ...." √√


"Bersabarlah menghadapi Rara. " Bu Clarissa.


Chatt end.


***


"DIMANA RISSAA !!!???"


"Di Jakarta, Pak ! Sedang mengurus perusahaannya."


"KAPAN DIA AKAN BALIK KE SINI !!???"


"Take over ini bersifat permanen, Pak ! Bu Clarissa tidak akan pernah kembali lagi ke sini."


DANC*K !!!!!


Hormon mengubah karakter seorang manusia. Bukan sesuatu yang semu.


HAHAHAHAHAHAHAHAHAHASYEM !

__ADS_1


__ADS_2