
POV : Raquella Mae.
Menyesal itu menyebelkan ! Dan aku semalaman sebal banget karena menyesali keputusan ku beberapa tahun yang lalu, memperkenalkan seorang cowo gebetan ku kepada kakak ku, Clarissa.
Bukan karena kemudian mereka saling jatuh hati dan membuat debaran jantung ku terpaksa kukubur hidup-hidup, tapi kejadian sore itu yang membuatku gagal tidur semalaman. Clarissa dibuatnya patah hati, pingsan ! Padahal kakak ku itu seorang perempuan super yang perlu 100 anak remaja nakal untuk membuatnya berekspresi. Dia pebisnis hebat ! Dia bisa menepikan emosi nya, karena itu dia tak pernah menangis. Tangis terakhirnya adalah saat pemakaman kedua orang tua kami, sesudah itu dia tak pernah menangis lagi, sampai akhirnya sore itu, dia kembali menangis sampai pingsan.
Yang ku tahu, Clarissa nangis sesaat setelah mobil Vinnie sang pujangga meninggalkan halaman rumah kami, karenanya aku yakin bahwa tangis Clarissa disebabkan oleh ulah kekasih nya itu. Aku harus memastikan status hubungan mereka, apakah mereka putus ? Atau Clarissa sedang hamil ? Jujur, aku berharap kakak ku hamil, jadi aku segera punya boneka baru, bayi yang pasti sangat menawan.
Karena pesan yang kukurim masih juga tak dibaca nya, maka paginya Motor trail kugeber kencang, melaju hingga depan pintu pagar rumah nya. Kemudian tampak oleh ku 7 'kurcaci gunung' sedang nongkrong di beranda rumah Vinnie.
Kurcaci gunung, begitu lah aku menyebut orang-orang yang suka mengejar adrenalin dengan memanjat hingga ke puncak gunung. Menaklukkan semua rintangan hingga sampai ke batu tertinggi di sebuah gunung.
"Ngapain klean pada di sini ? Pagi-pagi sudah nongkrong di rumah orang ... Ngungsi sarapan, Lo ?" tegur ku pada 7 kurcaci gunung itu, mereka adalah Aris, steven, wisnu dan 4 lainnya ga kukenal.
"Pengertian amat, Lo Ra ! Sini !" jawab Steven. Seperti biasa, dia minta ditraktir.
"Bokek gw ! Pujangga mana ?"
"Beranda sebelah." ganti Aris yang menimpali sambil menata letak sebatang rokok di bibir nya.
Aku segera melangkah menuju serambi samping, "Rokok lo bikin jodoh lo kian jauh !" kritik ku padanya. Dan Aris mengacuhkan nya seperti biasa.
"Bhuaaaah !" kucoba memberi kejutan pada Vinnie, tapi dia tak terkejut, melirik ku sebentar lalu meneruskan aktifitas nya. "Kok ga kaget, Mbang ?" gugat ku kemudian.
"Motor butut lo itu suaranya bisa didengar oleh para alien di Mars. Lo kira gw budeg ?" Balas Vinnie.
"Hehehe ... Lagi ngapa nih ?"
"Prepare." Balas nya singkat.
"Ikut !"
"Ga usah ! Jauh." sekali lagi dia melirik ku. Sejenak meninggalkan aktifitasnya.
Aku tahu dia mulai mempertimbangkan permintaan ku, dia sadar kalau aku ini tipe susah ditolak.
__ADS_1
"Ke mana ?" ku buat suara ku agak sember, agar terkesan sedang merengek.
Vinnie ragu, bibirnya bergerak tapi kemudian urung berkata-kata. Dia sedang berusaha mengalihkan pembicaraan, aku harus segera memaksanya. "Ayolah, Vin ! Siapa sih yang bisa pegang kamera lebih bagus dari aku ? Ga dibayar lagi !"
"Ini misi ke Rinjani !"
"Rinjani ? The beautifull Rinjani ? Hohohoho ... Harus ikut !" paksa ku.
Rinjani, gunung tercantik di dunia ! Aku tak boleh melepas nya, menurut cerita para kurcaci gunung, Rinjani memiliki magis dahsyat bagi mereka. 'Gunung Penyembuh Luka Lama' , Itu sebutan nya.
"Arvine Dowson tak pernah bisa menolak Raquella Mae ! Hahaha ... Rinjani, I am coming." yakinku dalam hati.
"Mau kemana, Lo ?" Tanya Vinnie saat aku bergegas meninggalkan nya.
"Ambil Kamera !"
"Oh !" kata nya lalu kembali cuek.
Itu berarti aku dapat restu dari nya dan harus segera menyiapkan kamera, yang biasanya disimpan di kamar nya. Sambil bersiul, kulewati 7 kurcaci gunung itu tanpa melirik ke arah mereka. Bukannya sombong, tapi kalau sampai bertemu pandang dengan mereka maka ujung-ujung nya mereka akan meledek fisik ku. Itu aku ga suka !
Ku lirik sana sini, kuselidik ke segala sudut kamar tapi tak ada kamera terlihat. Kuputuskan untuk teriak : "Kamera sama tripod nya dimana ?" di depan daun jendela.
"Lemari baju, Rak bawah !" jawab Vinnie di balik daun jendela. "Dan jangan teriak ! Ngagetin aja."
Tersenyum sendiri, aku mulai beraksi, membuka lemari yang harusnya menjadi tempat sangat pribadi untuknya, dasar Vinnie, dia memang ga menaruh batas untuk ku.
Ketika kubuka, kamera dan tripod nya telah teronggok sesuai petunjuk nya, di rak paling bawah, di balik pakaian resmi nya yang tergantung rapi. Tapi bukan itu yang menarik perhatian ku, ada sebingkai foto terselip di sisi tumpukan baju casual nya.
Kutarik bingkai itu, ternyata ada bendel kertas-kertas lama di sebelahnya, itu pun ikut kuambil. "Pasti seru, Nih ! Sebuah rahasia dari orang yang pernah kucinta." pikir ku saat itu.
Foto wajah seorang gadis muda ber-emblem OSIS warna kuning, anak SMP ! Wajahnya polos dan manis, terkesan seperti gadis sederhana berwatak melankolis dan pemalu. Aku yakin, orang dalam foto ini pasti cinta pertama Vinnie, lalu kucoba untuk mencari tahu apa arti gadis ini dalam kehidupan masa lalunya. Kubalik, dan kutemukan tulisan tangan Vinnie di balik kertas foto jadul itu.
"Di kaca jendela kelasmu, usai bel pulang sekolah.
Kuhembus, di embunnya kugores nama mu dan nama ku.
__ADS_1
Lalu kubingkai bentuk hati.
Kamu muncul disebaliknya dengan senyum terindahmu.
Kemudian hilang bersama musnahnya embun.
Ku ulang lagi dan lagi, hingga puas rinduku.
Dengan segenap asa, ku masuki ruang kelas mu.
Duduk di depan bangku mu.
Bertopang dagu, kuhayalkan dirimu.
Hadir dalam isakmu berkata : " Bila kelak tak menyatu, aku takut cinta ini melukaimu."
Lalu kunyanyikan sebuah simponi, hingga reda tangis mu.
Kini ku mengerti makna tangis itu.
Tanpa cinta kita.
Aku tak hanya terluka, tapi ....
Mati !"
Jujur aku terkejut dengan kata terakhir yang dipilih nya, "Mati !", kenapa mati ? Kan bisa saja diganti 'tersesat' atau 'enggan' atau apalah ! Asal jangan 'mati', karena kalau mati, lalu apa arti Clarissa ?
OMG ! Clarissa harus tahu semua ini, kakakku itu harus mengerti bahwa kekasihnya telah mematikan hatinya, atau dia sudah tahu ? Ini kah alasan tangis nya kemarin sore ? Kasihan kak Clarissa. Dan aku lah yang mempertemukan mereka, sesal ku mulai menjamah.
Dari dalam remahan sesal, kugali lebih dan lebih, awal dari sebuah elegi, kubaca semua kertas kumal dalam bendel sejarah itu. Kian menyesakkan jiwa ku, kutemukan makna baru dalam tiap baris tulisan nya. Tak ada misteri dalam sorot mata dalam nya, tak ada apa-apa di sana, hanya hampa yang tersisa dalam hati yang telah mati.
Dalam tetes airmata, kutitipkan pesan pada langit, agar mereka menjaga Clarissa, karena sesungguhnya hati Arvine Dowson telah tiada.
" Ehm ...!" Suara dehem menggema mengagetkan ku. Kala kutengok, Vinnie telah berada di belakang ku, sepertinya dia ingin marah pada ku tapi tak mampu, karena dia sudah mati hati. Dia hanya berdiri kelu memandangku, mungkin menyesali keberadaanku yang terlalu jauh tahu tentang nya.
__ADS_1