
"Kenapa harus aku ?" tanya Clarissa Mae.
Dia merasa keberatan bila harus menemani Edward Rodmeyer ke rumah sakit, kerjaannya masih menumpuk saat lelaki itu mendatangi kantornya dengan wajah amburadul. Sean Rodmeyer memaksa daddy-nya untuk mengantarnya ke rumah sakit.
"Terus harus siapa lagi ?" balas Edward Rodmeyer, dia melangkah lebih cepat dari biasanya, karena anaknya sedang menarik tangannya supaya ikut berlari.
"Sekretaris mu kan bisa !"
"Shasa sudah kenal sama Ana ! Ga bakalan cemburu."
"Jadi ...! Maksudmu ?"
Clarissa Mae baru tersadar kalau sebenarnya Edward Rodmeyer sedang mempraktekkan sarannya, yaitu membuat gebetannya cemburu.
"Gila lo, ya !?" lanjut Clarissa Mae. Disertai senyum yang kian menyipitkan matanya.
"Sean duluan aja ! Biar Bu Heni yang nemenin sampai kamarnya mama Shasa, Okay ?" ujar Edward Rodmeyer yang sudah tak sanggup lagi mengikuti langkah anaknya, dia melirik ke arah sisi kirinya, dimana terlihat seorang baby sister segera berlari mengejar Sean Rodmeyer.
Setelah menghela nafas, Edward Rodmeyer melambatkan langkah, mengikuti irama langkah Clarissa Mae.
"Aku tahu kamu sedang sibuk banget, tapi aku ga punya pilihan lain. Hanya kamu yang bisa memerankan sandiwara ini." kata Edward Rodmeyer. Disertai hembusan nafas kasarnya.
"Fans mu pada kemana ?" balas Clarissa Mae.
"Kalau salah satu dari mereka yang aku ajak, ntar yang ada malah dikira beneran, dikira aku naksir beneran. Ujung-ujungnya, media melabeli aku sebagai 'player'."
"Memangnya kamu bukan player ?"
"Papaku yang player ! Aku culun ... Hahahaha." tawa Edward Rodmeyer terhenti oleh kehadiran seorang dokter dan dua suster yang tiba-tiba muncul dari balik pintu sebuah kamar perawatan.
"Hiihiiiii ... hiiii ... Daddy ! Kasihan mama Shasa." ringik Sean Rodmeyer yang juga muncul dari pintu yang sama. Airmata bocah itu seakan tumpah, membasahi baju nya hingga hampir setengah.
Tak tega melihat anaknya sedemikian berduka, Edward Rodmeyer segera menggendongnya. "Mama Shasa akan baik-baik saja." bisiknya kemudian.
"Tidak Daddy ! Mama Shasa sudah jadi hantu ... hiks ... hiks." balas Sean Rodmeyer sambil menelungkupkan wajahnya ke dalam dekapan sang Daddy.
Saat memasuki kamar perawatan, Edward Rodmeyer terpana oleh diorama yang tersaji di depan matanya. Menatap Shanique Miller yang tengah terbaring tak berdaya di atas tempat tidur. Sekujur tubuhnya terbebat perban, hanya menyisakan sebagian kecil dari wajahnya untuk dilihat.
__ADS_1
"Kenapa Steve bilang hanya kecelakaan kecil ?" gerutunya pada Farah Isuke, Fatimah Mahmud dan Cindi Latuconsina.
"Maaf, Pak ! Itu karena saya yang memberitahu Steve." jawab Fatimah Mahmud.
"Terus kenapa kamu berbohong ?"
Mata Edward Rodmeyer menyorotkan sesal, rahangnya pun mengeras karena amarah. Memandang wajah Fatimah Mahmud dengan geram.
"Maaf, Pak !" jawab Fatimah Mahmud.
Gadis itu ketakutan, dia tak menyangka bila keputusannya untuk tidak membesar-besarkan kecelakaan yang menimpa mentornya itu akan membuatnya menjadi tersangka. Apalagi yang sedang menghakiminya adalah Edward Rodmeyer, seseorang yang dengan kedipan matanya saja bisa membuat orang lain hancur menjadi debu.
"Harusnya kamu jangan membohongi Steve. Karena semua berita yang masuk ke telinga adik saya itu pasti segera masuk ke telinga saya. Membohongi Steve berarti membohongi saya, paham kamu ?" bentak Edward Rodmeyer.
Clarissa Mae melihat tertundukknya wajah Fatimah Mahmud sebagai ungkapan rasa sesal, terdiamnya gadis itu sebagai sebentuk permohonan ampun. Tapi Edward Rodmeyer masih terus saja memelototinya, seperti ingin menelannya hidup-hidup. Membuat Clarissa Mae harus bertindak. Dia menyenggol lengan Edward Rodmeyer dengan maksud menenangkan lelaki yang sudah termakan nafsu amarah itu supaya bisa menahan diri.
"Keputusanmu mu bisa saja mencelakai Shasa !" lanjut Edward Rodmeyer, dia semakin kalap.
Farah Isuke dan Cindi Latuconsina pun merasa turut dipersalahkan, bagaimanapun juga keputusan untuk merahasiakan kondisi mentor mereka itu adalah keputusan bersama. Dibuat oleh mereka bertiga dengan pertimbangan nalar muda mereka bertiga. Jadi tak adil bila hanya Fatimah Mahmud yang dipersalahkan. Ketiganya pun akhirnya larut dalam ketakutan.
Sebentuk ancaman yang keluar dari mulut Edward Rodmeyer kepada tiga gadis muda itu terdengar tak adil. Menghabisi nyali seseorang yang berusaha berbuat baik adalah kejahatan laten. Itu yang ada dalam pikiran Clarissa Mae, memaksanya untuk bertindak lebih nyata.
"Sudahlah, Eddy ! Mereka adalah anak-anak yang berniat membantu. Hanya saja pertimbangan mereka tak sehebat pikiranmu. Berpikirlah ke depan ! Hubungi saja para penanggungjawab rumah sakit ini untuk mengambil langkah terbaik bagi pasien ini." bisik Clarissa Mae.
Setelah itu, wajah galau Edward Rodmeyer sedikit datar. Mengamati kondisi Shanique Miller lebih detil sebelum akhirnya berkata : "Saya akan ke ruang direktur rumah sakit ini, semoga semua belum terlambat."
Menyerahkan anaknya kepada baby sister, lalu melangkah menuju pintu. Hanya sesaat sebelum benar-benar hilang ditelan pintu,
Edward Rodmeyer sekilas memandang sosok lelaki yang tengah terlelap di sisi kanan pembaringan. Sorot mata nya segera diikuti oleh Clarissa Mae.
"Vinnie ?" bisik dalam hati Clarissa Mae, benaknya segerah dipenuhi berjuta pertanyaan. Sosok yang dilihatnya sedang terlelap itu adalah Arvine Dowson, tak salah lagi.
"Bukankah orang ini ...?" sengaja Clarissa Mae membiarkan ucapannya menggantung, menanti sebuah pembenaran dari ke tiga gadis yang mulai bernafas lega itu.
"Arvine Dowson, Bu ! Sang pujangga." jawab Farah Isuke, suaranya masih diliputi keraguan.
"Lalu kenapa seorang vlogger ada di sini ?" selidik Clarissa Mae dengan jantung kian berdebar.
__ADS_1
"Bang Vinnie yang menyelamatkan kak Shasa dalam kecelakaannya, dia juga yang menanggung semua biaya pengobatan kak Shasa selama dirawat di sini." lanjut Farah Isuke.
Sepanjang pengetahuan Clarissa Mae, Arvine Dowson adalah anak tunggal yang sudah tak punya sanak keluarga lagi di dunia ini.
"Siapa Shasa ? Kenapa aku tak pernah mendengar namanya ? Atau jangan-jangan !? Ah ... Rissa ... Rissa, sudahlah ! Vinnie itu milik Raquella, adik mu sendiri." bisik dalam batin Clarissa Mae.
Tapi kenapa mata Clarissa Mae masih saja tak bisa lepas dari wajah Arvine Dowson ? Pandangannya masih saja terpaku pada luka gores di pelipis lelaki itu ? Bukankah tak semestinya rasa rindu di hati nya itu menuntut untuk dijamu ? Mungkin ihlas yang dijanjikan belum dipurnakan, masih terganjal dendam untuk bertahan.
"Bu ! Maaf, Ibu kenal sama bang Vinnie ?"
Ucapan Fatimah Mahmud mengagetinya, lalu sembarangan mulut Clarissa Mae meracau : "iya ! Dia itu ... Ehm ...."
"?" Fatima Mahmud menanti jawaban Clarissa Mae yang makin kelabakan.
"Seorang Vloger ternama, semua orang mengenalnya. Ya, kan ?" alihnya.
"Oh ... Saya sempat mengira kalau Ibu ini mengenal bang Vinnie secara pribadi."
"Kenapa begitu ?"
"Soalnya cara ibu ... ?"
"Clarissa Mae !"
"Saya Fatimah." lanjut Fatimah Mahmud sambil mencium tangam Clarissa Mae.
"Senang berkenalan denganmu." balas Clarissa Mae atas kesopanan Fatimah Mahmud.
"Terimakasih, Bu Clarissa ! Kalau tidak ada Ibu, mungkin sudah meledak jantung saya."
"Sudahlah, jangan dibawa ke hati ! Eddy memang pembawaannya begitu, maklum orang kaya." jawab Clarissa Mae, "sudah berapa lama Vinnie di sini ?"
"Seminggu."
"Seminggu !? Itu berarti Vinnie belum balik ke Jakarta sejak dari Lombok. OMG ! Aku telah salah menilai." lanjut Clarissa Mae dalam hati.
Kenyataan bahwa dirinya telah salah sangka terhadap Arvine Dowson membuatnya terdiam, keputusannya untuk menolak semua panggilan telephon dari kekasihnya itu adalah kekanakan, lalu hatinya mulai diliputi kecemasan. "Bagaimana caraku menjawab pertanyaan Vinnie saat dia terbangun nanti ? Aaaah ! Childish banget sih lo, Rissa." kesah dalam hatinya. Membuatnya tak betah lagi berada dalam kamar, dia memilih menyusul Edward Rodmeyer untuk kembali ke kantornya, walau rindu di hatinya masih seluas samudera.
__ADS_1