
Airmata Clarissa Mae nyaris menetes, matanya tertaut terlalu lama pada nama keluarga itu. 'KELUARGA MILLER' yang ia baca sebagai 'SHANIQUE MILLER', nama perempuan yang memakan jantungnya.
Mobil pun berlalu pelan, memasuki pelataran. Memejam sesaat lalu mengeringkan airmatanya dengan tisu, dan ketika kembali terbuka, mata Clarissa Mae tak sama lagi.
Siluet Arvine Dowson menjadi vivid, selebihnya terlihat vintage. Apalagi saat lelaki itu kemudian berdiri, meninggalkan bangku ayunan lalu melangkah dengan gagahnya menghampiri mobil yang ia tumpangi, sorot mata rindu Clarissa Mae tak berhenti mengekori.
"Steve, tolong jangan singgung keberadaanku di dalam mobil ini. Arvine Dowson adalah orang yang ingin kuhindari saat ini !" suara Clarissa Mae bergetar serak, nyaris tak keluar.
"Mbak Rissa ga mau keluar dari mobil, kenapa ?"
"Aku ga mau ketemu dia !" singkat dan bernada ogah-ogahan. Tapi matanya tetap terpaut pada langkah lebar sosok lelaki yang hampir sampai di depan garasi itu.
Karen Rodmeyer melihat wajah Clarissa Mae dengan tatapan penuh tanya. Apalagi saat pada akhirnya Clarissa Mae memilih menunduk untuk bersembunyi di belakang bangku, wanita tua itu sempat berdecak kesal.
Mobil pun terhenti sempurna. Fatimah Mahmud menyambut, berdiri dibawah atap beranda, sedikit di belakang Arvine Dowson. Tampilan gadis belia itu terlihat elegan meski hanya berbalut dress super kedodoran dan hijab krem kecoklatan.
Clarissa Mae mengintip, hanya untuk mengagumi sosok Arvine Dowson yang selalu terlihat sempurna di matanya. Lelaki itu semakin mirip Jacob Ma, sosok ayah yang selalu dirinduinya.
Steve Rodmeyer turun pertama, melambaikan tangannya sesaat setelah keluar dari mobil. Menebar senyumnya ke arah beranda, kemudian berjalan memutar untuk membukakan pintu bagi mamanya.
"Tolong jangan membahas tentang aku di sana. Please, Steve ! Ma !?"
Ibu dan anak itu hanya tersenyum. Tak menimpali ucapan Clrissa Mae. Tapi kepala mereka hampir meledak karena besarnya ukuran tanda tanya di dalamnya. Hanya perlu waktu yang tepat untuk meledakkan sebuah interogasi.
Mata Fatimah Mahmud langsung membola, bulat sempurna sambil membuka mulut saat matanya melihat siapa perempuan yang sedang menemani langkah kekasihnya. Beringsut sedikit kemudian hilang di punggung Arvine Dowson.
Melangkah sekali ke arah depan, Arvine Dowson lalu tersenyum ragu. Ada kesan terkejut yang harus segera disamarkan. Tapi pada akhirnya lelaki itu tertawa lepas kala kemejanya ditarik dari arah punggung. Oleh siapa lagi kalau bukan Fatimah Mahmud.
__ADS_1
Dari balik gelapnya kaca mobil, Clarissa Mae tersenyum, hatinya sedang bergumam :
Selalu saja begitu ... Siapapun perempuan yang berada di dekatnya akan berlindung di dadanya. Tak terkecuali aku ! Bahkan lebih anarkhis kerena ingin memilikinya sendiri.
Beruntungnya pemilik rumah ini ! Vinnie masih saja mengharapkannya walau dia sudah 'berpulang'. Tak sesial aku.
Entah kenapa, tiba-tiba Arvine Dowson melangkah lebih trengginas, menjabat tangan Steve Rodmeyer lalu beradu kepalan tangan, tentu saja meninggalkan Fatimah Mahmud berdiri sendirian.
Dia menunduk, kemudian meremas geram dress panjangnya di bagian pinggang, Fatimah Mahmud terlihat seperti ingin mengoyak kain itu dengan jemarinya. Mungkin untuk sekedar mengusir rasa gugup dari dalam batinnya.
Bukannya berhenti di situ, Arvine Dowson melangkah lebih jauh, dia membungkuk kepada Karen Rodmeyer lalu meneruskan langkahnya mendekati mobil dimana Clarissa Mae sedang berada. Lalu berhenti sangat dekat ! Bahkan kemudian dia memutar badan, dengan tangan terkepang ke belakang, dia bersandar, merekatkan tangannya ke kaca mobil sebagai penopang sebagian berat badannya.
Di balik kaca hitam mobil itu, tangan Clarissa Mae tergetar luar biasa. Terjulur perlahan, lalu menapak pelan di kaca, tepat di bayangan tangan Arvine Dowson. Seperti mencoba merasakan hangatnya telapak tangan itu, Clarissa Mae mulai meleleh, airmatanya mengucur tanpa jeda, mengalir tanpa henti ke blazer biru tuanya.
Bahkan dalam jarak sedekat ini ... Aku hanya mampu memilih ! Tak sanggup untuk memiliki.
Ada keinginan di hatinya untuk menempelkan pipi, hidung, kening atau bahkan bibirnya ke kaca itu, dengan harapan akan tumbuh rasa 'dimiliki'. Tapi itu hanya sebatas keinginan, sebatas mimpi yang terlintas dalam hati karena rindu luar biasa.
Selama berpacaran, tangan lelaki itu tak pernah menyentuhnya lebih dari sekedar menjabat tangan dan belaian di rambutnya. Dekat tapi dingin ! Seperti saat itu, tersekat sehelai kaca.
Seperti biasanya, lelaki itu kemudian menghilang ditelan pagar. Meninggalkan embun berbentuk telapak tangan di kaca untuk makin tertumpahnya airmata. Lalu semua menjadi gelap gulita, mata Clarissa Mae terpejam walau tak sempurna.
"Memilih menangis di saat orangnya begitu dekat. Menghindar di saat hati ingin menyambut ... hmmm ... perempuan dan hatinya, sulit dipahami !"
"Steve !?" Clarissa Mae terperangah. Tak terdengar pintu di buka tapi tiba-tiba saja Steve Rodmeyer telah duduk di belakang kemudi sambil menggumam.
"Ke depan, Mbak." ajak Steve Rodmeyer, tersenyum seolah tak perduli pada Clarissa Mae yang sedang kesulitan untuk bernafas, hidungnya tersumbat walau tak sedang pilek.
__ADS_1
Melihat ke arah Karen Rodmeyer, Clarissa Mae mengerti kenapa Steve Rodmeyer memintanya untuk pindah ke kursi depan.
Fatimah Mahmud tertegun sejenak, melihat Clarissa Mae yang keluar dari pintu belakang. Dua kali mereka bertemu, dan dua kali pula dia menyaksikan Clarissa Mae seperti menghindari Arvine Dowson. Kali itu bermata sembab.
Seperti menolak untuk terlihat oleh dunia, Clarissa Mae duduk meringkuk, bersembunyi di bawah bayangan kursinya. Menyimpan sedihnya dari tatapan mata Karen Rodmeyer dan Fatimah Mahmud yang sedang duduk tak jauh di belakangnya.
"Dia akan kembali ke Jakarta, Mbak ! Ga perlu lagi menghindar." tiba-tiba saja mulut Steve Rodmeyer bergumam pelan.
Clarissa Mae memutar bola matanya. Menolak untuk berbicara pada anak muda itu. Dia tak ingin berbagi dengan siapapun saat itu. Dia benar-benar ingin 'sendiri'. Walau di hatinya sedang berkecamuk ribuan pertanyaan, tapi semua harus ditahannya, menunggu waktu yang tepat.
Sedikit menahan nafas, Steve Rodmeyer mulai menjalankan mobilnya. Dia tak habis pikir melihat perubahan mood Clarissa Mae. Satu hal yang ia simpulkan, Arvine Dowson adalah sosok yang berharga dalam hidup Clarissa Mae, entah berkonotasi negatif atau positif.
"Hallo, Jack !" suara Karen Rodmeyer menarik perhatian semua orang. "Tebak ! aku lagi sama siapa ?" rupanya dia sedang ber-video call ria dengan suaminya. Kamera smartphone-nya menyorot dirinya yang sedang memeluk pundak Fatimah Mahmud.
"Siapa tuh, Ren ?" suara Jack Rodmeyer terdengar dengan jelas. Rupanya sengaja diloudspeaker.
"Tebak saja dulu !"
"Anaknya Faizah ?"
"Enak aja ! Ini anakku !! Calon mantu kita, Jack !" berlagak memberengut, memanyunkan bibirnya."pacarnya Steve." Karen Rodmeyer memberi kejutan pada suaminya. Tapi efeknya mengejutkan semua orang. Bahkan mampu menghadirkan kembali senyum di bibir Clarissa Mae.
"Itu keputusan besar, Ren ! Harus menunggu stempel dari kepala rumah tangga. Jadi harus nunggu persetujuan ku."
"Nggak bisa, Jack ! Ingat dulu siapa yang memutuskan masalah Eddy dan si rambut jagung ? Kamu sudah salah memilih menantu. Sekarang giliranku yang mengambil keputusan !"
"Ga bisa seperti itu, Ren !"
__ADS_1
"Bisa, Jack ! Dan aku sudah menemukan calon mantu kita. Kamu buruan pulang ... Kita harus bersiap ngunduh mantu secepatnya !"