The Last Cliff

The Last Cliff
Chapter 16


__ADS_3

Clarissa tetap menunduk, bahkan saat tubuhnya terkesiap kaget oleh suara pistol diletuskan, dia memilih tetap merunduk, menolak untuk melihat bagaimana Raquella menembak kepalanya sendiri, lalu tumbang oleh sebuah peluru yang menembus pelipisnya.


Perlahan airmatanya menetes seiring lelehan darah Raquella, kepala sang adik rebah tepat di pangkuannya, memerahkan gaun pengantinnya dengan darah, memupus bahagianya dengan nestapa.


"OH ... MY ... GOD !!" teriak Arvine Dowson terdengar diantara jerit histeris para tamu. Kemudian dia mendekati Clarissa. Saat tangannya hendak meraih tubuh limbung Raquella ....


"Don't ever touch my angel." lirih suara Clarissa, nadanya terdengar seram, seperti suara dari dalam kubur.


Lalu ....


"Adek bobok ... Oh, Adek bobok ... Kalau tidak bobok digigit nyamuk ! Adek bobok ... Oh, Adek bobok ... Kalau tidak bobok digigit nyamuk !"


Senandung Clarissa kala jemarinya menari, membelai rambut adiknya sepenuh kasih, sama persis seperti yang dulu selalu dia lakukan untuk mengantar adiknya agar tertidur.


"Adek bobok ya ! Kak Clarissa akan selalu menjagamu ...." ujarnya disela senandungnya, kemudian kembali bersenandung : " Adek bobok ... Oh, Adek bobo ...." semakin lama suaranya semakin serak. Bibirnya pun mulai bergetar menggigil. Airmatanya kian tak terbendung.


Tak ada luka yang lebih perih dibanding lukanya saat itu. Di mata nya, Raquella yang sedang dibelainya adalah Raquella berumur 6 tahun yang sedang gelisah menjelang tidur, gelisah karena merindukan papa dan mama nya.


Kala darah segar meleleh membasahi pipi kiri adiknya, tudung Clarissa menjadi pengeringnya, disekanya selembut mungkin lalu dikecup dengan berlaksa kasih. "Tidurlah, Dek ! Di langit, papa dan mama sedang tersenyum melihat kita ... Tidur yang nyenyak." bisik Clarissa.


Akhirnya, ketika Raquella benar-benar terlelap dalam 'tidur panjang'-nya, jemari Clarissa mengusap wajah Raquella untuk menutup mata sang adik. Clarissa harus menerima kematian adiknya dalam pangkuannya.


Saat bibirnya berhenti bersenandung, Clarissa membenamkan rasa bersalahnya hanya pada dirinya sendiri. "Tuhan ! Izinkan aku menukarnya, nyawaku untuk nyawanya, hidupku untuk hidupnya, dan bahagiaku untuk bahagianya, semua ini karena kesalahan ku ... Pa, Ma, maafkan aku yang tak mampu melindunginya." rintih dalam hatinya.


Bila kesabaran harusnya tak berbatas, lalu dimana lagi Clarissa harus menyimpan kesedihannya ? Sementara hatinya sudah tak muat lagi. Di otaknya ? Tidak mungkin ! Otak itu sudah terlampau lelah oleh urusan perusahaannya. Segigih apapun Clarissa mencoba untuk bertahan, pada akhirnya dia harus menerima keterbatasan. Hati dan otaknya mampat, logika dan emosinya tumpang tindih ! Meninggalkan rasa nyeri di kepalanya, nyeri yang luar biasa.


Dijambaknya rambutya sendiri untuk mengusir nyeri itu, tapi percuma, nyeri di kepalanya semakin menjadi. Lalu ditamparnya mukanya sendiri sekali, tapi sia-sia. Dua kali, juga sia-sia. Lalu entah berapa kali dia menampar mukanya sendiri dengan sekuat tenaga.


Saat sebuah tamparan tepat mengenai hidungnya, Clarissa meringis.


"Aduh !"


Matanya terbelalak, terhenyak lalu bangun mendadak, kala menyadari bahwa dirinya tengah berada di atas kasur.

__ADS_1


"Huft ! Ternyata hanya mimpi." gerutunya seorang diri. Keringat dingin masih membasahi punggung dan lehernya meski suhu di AC nya tertera 7°C.


Mimpi yang terasa sangat nyata, layaknya sebuah delusi yang kemudian tertancap abadi dalam ingatannya. Ya ... delusi tentang sesal yang membuat Clarissa tak sanggup memejam kembali, memaksanya menyibakkan selimut penutup lingerie transparan warna tosca yang melekat di tubuh kurusnya. Lalu, sedikit di atas renda bagian bawah lingeri itu diangkatnya agak tinggi untuk mengusap airmatanya yang tak jua mau berhenti.


Jam dinding menunjuk angka 03:03, saat makna sebuah mimpi tak sebatas bunga tidur.


Dengan mata yang masih sembab, dengan jari yang masih menggigil, Clarissa berganti pakaian lalu melaju ke Rasuna, mencari Raquella di aparteman milik mereka.


 


\*


 


Mendung yang menggelayut di atas langit Jakarta pada bulan September terlihat seperti ganjil, apalagi saat perlahan mulai menjelma menjadi rintik hujan, mungkin ada yang salah pada langit sore itu, atau pada hembusan angin, seperti salah tingkahnya jantung Clarissa saat hanya mampu duduk di dalam mobilnya sambil menatap bingung ke arah Raquella.


Sisi kanan jantungnya berdetak kencang mengikuti irama hati bahagianya saat menemukan adiknya sedang duduk santai bercengkeramah bersama teman-temannya. Dari ekspresi wajah dan semua tingkahnya tergambar jelas bahwa Raquella sedang sangat berbahagia, mekar seperti bunga di musim semi. Dalam hidupnya, Clarissa tak berharap sesuatu yang lebih hebat daripada melihat semua itu, dia terlanjur memegang janji dari mendiang kedua orang tua mereka untuk menjaga dan membahagiakan Raquella.


Clarissa tak mampu berbuat apa-apa lagi selain melihat tingkah adiknya dari dalam mobil yang terparkir tepat di depan gerbang rumah Arvine Dowson.


"Bahagiamu adalah bahagiaku, Dek ! Aku ihlas melepas Vinnie untuk mu, walau mungkin kita akan sedikit saling menjauh." gumam Clarissa dalam hati yang mulai menitikkan darah, tersayat sembilu penghianatan.


Entah ingin menikmati luka hatinya, atau ingin turut berbahagia bersama sang adik, Clarissa sengaja menekan tombol merah bertulis 'engine stop' di setir mobilnya, mematikan mesin mobil itu tanpa alasan pasti. Pandangan matanya menerobos sela-sela besi pagar rumah itu, memperhatikan kemeja kedodoran yang sedang membalut tubuh Raquella.


"Di balik kemeja itu, Dia tak mengenakan dalaman apapun ! Mereka pasti sudah melakukan 'semuanya'." yakinnya dalam hati.


"Tapi masa iya ? Vinnie bukan tipe lelaki seperti itu ! Dia mahluk beragama ! Dia tak pernah berbuat macam-macam kepadaku." ragunya lagi.


"Atau mimpiku memang benar terjadi ? Vinnie mencintai Raquella dan hanya menyayangiku sebatas calon kakak iparnya ?"


"Ah ! Masa iya aku sebodoh itu ? Aku tahu sorot mata Vinnie saat mata kami bertaut. Dan itu adalah sorot mata cinta yang lengkap dengan gairah dan birahi, hanya saja Vinnie bisa menahan dirinya untuk tetap membiarkan aku sesuci embun."


Dan masih banyak lagi dialog dalam benak Clarissa. Membuat kepalanya kian lelah lalu mulai pusing, tak sadar akhirnya dia menyandarkan kepalanya di atas stir, kemudian matanya memejam pelan, lau kian sayu seiring angannya yang menyeruak masuk ke masa kecilnya, masa di saat dia harus mendorong ayunan buaian bayi bila mamanya sedang sibuk memasak, semua dilakukannya agar sang adik bisa merasa nyaman di sisinya.

__ADS_1


'TEEET ... TRETEEET !!' Suara klakson motor menyentaknya, membuat Clarissa tergagap, gopoh melihat ke belakang melalui kaca spion dalam mobilnya.


Ternyata motor trail milik Raquella sedang dikendarai oleh seorang pemuda gondrong tengah berdiri sambil membunyikan klaksonnya. Dalam dugaan Clarissa, pemuda itu adalah salah satu kawan Raquella.


Clarissa keluar dari dalam mobil, turun lalu berjalan menghampiri pemuda gondrong itu.


"Maaf, bisa minta tolong untuk mendorong ? Mobil saya mogok." ujar Clarissa.


"Owh ... Iya, Bu !"


Pemuda itu lalu turun dan membantu Clarissa mendorong mobilnya. Mereka mendorong bersisihan.


"Ini rumahnya sang Pujangga, kan ?" awal Clarissa.


"Iyap !" jawab sang pemuda.


"Cewe di dalam itu bininya, ya ?"


"Belum, Bu ! Barusan jadian ... Masih pacar gitu lah."


"Kok sudah tinggal serumah ? Sekamar lagi ! Gitu kok dalam Vlog-nya sok suci banget."


"Yaelah, Bu ! Kek ga tau anak milenial aja ! Asal cocok dekaap ... Ha ha ha ha."


"Stooop !" seru Clarissa saat mobilnya sudah di posisi cukup minggir dan tidak lagi menghalangi motor trail itu bila akan memasuki gerbang. "Terimakasih ya ... Ini !" lanjutnya sambil menyodorkan beberapa lembar uang pecahan seratus ribuan kepada sang pemuda.


"Ngga usah, Bu !" Balas pemuda itu, tapi tangannya menjulur menerima pemberian Clarissa, "hehehehe ... Maksih ya, Bu !" tambahnya sambil bergegas menuju motornya.


Sesuai dugaan Clarissa, pemuda itu menaiki motornya memasuki gerbang, menuju rumah Arvine Dowson.


Tak lama setelah motor trail itu memasuki gerbang, Clarissa menghidupkan mesin mobilnya lalu melaju gamang membaur dengan ribuan mobil lain tanpa tujuan yang pasti. Hanya sekedar mengikuti kata hatinya yang sedang terluka karena Anak panah cupid yang dicabutnya secara paksa.


Kala awan menyapanya lewat titik hujan, dan kala langit membelainya lewat angin, Clarissa menjawabnya dengan teriakan lantang : "BANGS*T KALIAAAAN !"

__ADS_1


__ADS_2