The Last Cliff

The Last Cliff
Chapter 28


__ADS_3

Dada Shanique Miller terguncang, terlihat seperti menggelepar dengan leher tersengal. Dari tenggorokannya terdengar : "GRGGHHHH" disertai lonjakan punggungnya berkali-kali. gambar denyut jantungnya di cardiograf terlihat melejit lalu menukik tak beraturan, dan bunyi "thiiiit ... thit ... thiiiiiiiiiiiiiiit" memiriskan mata batin ketiga mahasiswinya, bahkan mengagetkan Arvine Dowson yang sontak terjaga dari tidurnya.


"HANI !!"


Teriakan Arvine Dowson itu makin membuat panik Fatimah Mahmud, gadis itu langsung memeluk tubuh Shanique Miller yang sepertinya enggan berdiam, bahkan ketika dekapan dada Arvine Dowson menyusul membekap kepalanya, tubuh Shanique Miller tetap kejang. Menyisakan kelu di hati Farah Isuke, menjadikan gadis peranakan Jepang itu seperti patung, berdiri tegak dan tak tahu harus berbuat apa. Cindi Latuconsina menutup muka dengan kedua lututnya, menolak untuk menjadi saksi betapa buruk goresan takdir atas diri mentornya itu.


Dibalik tubuh kejang dan menggelepar nya, sesungguhnya otak Sanique Miller seperti sedang mendidih kala ingatannya kembali ke lembaran masa kecilnya, meski tak utuh dan hanya berupa kelebatan yang terpisah-pisah.


"Jangan ngebut, John ! Ini jalanan kampung." pelan suara Suzana, mengingatkan suaminya agar lebih berhati-hati dalam mengendarai mobil mereka.


Johny Miller melirik wajah Suzana, melihat ada bulir kehawatiran diantara helaan nafas istrinya itu.


"Johny, aku merasa ada yang akan menimpa kita. Sesuatu yang buruk !" lanjut Suzana Miller. Tangan lentiknya tegas meremas rambut Shanique kecil yang tengah duduk dalam pangkuannya.


"Sudahlah, Ma ! Jangan terlalu percaya tahayul. Kita sedang mengejar jadwal penerbangan, kalau sampai telat habislah karier--"


"JOHNY, AWAAASSSS !" Teriak Suzana kala matanya melihat sebuah bak truk terbuka tiba-tiba muncul dari dalam sebuah gang kecil.


Tak sempat lagi kakinya untuk menginjak pedal rem, tangan Johny Miller segera membuang stir, membantingnya ke arah kanan. Sempat terdengar suara "chrriiiiiit ...." dari selip keempat roda mobilnya, Johny Miller mampu menghindari tabrakan dengan truk.


"OH ... MY GOOOOOOD !!!!" Sambung Suzana, saat mobil mereka tak mampu lagi menghindari sebuah sepeda onthel tua yang sedang susah payah dikayuh pengendaranya, seorang lelaki sedang memboceng bocah sebaya Shanique Miller.


Pengemudi onthel itu pun terjengkang, kepalanya menghempas aspal jalanan, lalu darah pun mengenangi kue-kue dagangannya. Bocah yang diboncengnya tertambat di kap depan. Mata bocah itu menukik menghunjam tajam ke arah mata Shanique kecil, solah sedang bercerita tentang lara hidupnya, sebelum akhirnya tubuh bocah itu merosot ke sisi kanan mobil lalu menggelinding berguling di atas aspal.


"VINNIIIIIIE!" Teriak Shanique Miller, menyemburkan selang yang menempel di mulutnya disertai gumpalan muntah darah.


Farah Isuke segera meloncat ke sisi dinding, ditekannya tombol bell untuk memanggil paramedis.

__ADS_1


"Berhenti, John ! Lihat mereka !!" desah Suzana.


"Mereka kenapa, Ma ?" lirih suara Shanique kecil, bungkil matanya menyapu jalanan di arah belakang. Mendapati si bocah tengah terlentang tak berdaya.


"Gapapa Sha ! Sini peluk Mama." suara Suzana tergetar, bahkan lengannya menggigil kala merengkuh kepala Sanique kecil.


Mobil mereka pun terhenti. Dari spion sisi kanannya, Johny Miller melirik, lalu menghela nafas dalam-dalam. Kemudian menjejak pedal gasnya lebih dalam lagi. Meninggalkan darah yang tertumpah olehnya dengan kecepatan penuh. Kabur dari sebuah dosa yang mungkin menempa karma.


Tak ada yang lebih penting dari karir politik seorang Johny Miller, tidak kemanusiaan, juga tidak keadilan.


Perdebatan panjang antara mama dan papanya sepanjang sisa perjalanan mereka tentang prioritas dan tanggung jawab menjadi musik di telinga Shanique kecil saat hatinya sedang berhimne lagu tentang iba dan kasih sayang.


Sejenak tubuh Shanique Miller terdiam, nafasnya kembali berirama, kumpalan darah yang tersembur dari mulutnya mulai mencair, meleleh membasahi leher dan dadanya. Otak di dalam kepalanya sedang berehat, tak lagi bergejolak.


Arvine Dowson kemudian mengecup alis matanya, "aku di sini sayang. Hanya untukmu." dengan dada bergetar tak karuan.


Dokter tak jua datang, bahkan ketika otak Shanique Miller kembali bergelembung.


"Ga tau." jawab Adinda Larasati.


"Sudah mati, kata papaku. Seminggu yang lalu." sambung Alvaro Subagja.


Shanique Miller kecil menatap mata Alvaro Subagja, "Kenapa mati ?" lanjutnya dengan perasaan sedih.


"Ketabrak mobil. Pas kita sedang libur panjang."


"Terus yang jualan kue di kantin sekolah kita, siapa ?"

__ADS_1


Alvaro Subagja melihat seorang bocah lelaki kecil sedang mengayuh sepeda onthel, "itu, dia ! Ayo ikutan gangguin dia !"


Shanique Miller kecil mengikuti manik mata Alvaro Subagja, lalu melihat bocah yang sama, kepala bocah itu sedang dibebat perban, sedang membonceng dagangannya menuju tempat mereka, mungkin akan ke kantin sekolah mereka.


"Woy gembel ! Berhenti !!" teriak beberapa bocah kelas 5.


Bocah itu tak menghentikan kayuhan sepedanya, menganggap makian itu sebagai angin lalu.


Tapi sebuah lemparan balok kayu menerpa roda depan sepedanya, sontak menghentikannya lalu terjatuh. Box plastik tempatnya menyimpan kue-kue dagangannya pun tergelimpang, menyerakkan isinya ke tanah kotor.


Ketika bocah itu memungut dan memasukkan kembali kue-kuenya e dalam box, sebuah tendangan menghantam punggungnya, membuatnya tersungkur sekali lagi.


Seperti sudah sampai di batas kesabarannya, bocah itu kemudian berdiri tegak. Lalu balik memukul anak yang menendangnya, sebuah pukulan telak yang langsung menjungkalkan lawannya. Kemudian menjadi awal dari aksi tak terpuji, sebuah pengeroyakan oleh hampir seluruh anak di sekolah itu kepada seorang bocah penjual kue.


"VINNNNIE !" Teriak Shanique Miller, kali itu jeritnya terdengar seperti melolong, menyertakan airmata. Tubuhnya kembali terguncang hebat, kaki tempat tidurnya pun berderit.


Arvine Dowson terus saja mendekap kepala Shanique Miller, tanpa pernah sedetikpun melepas kacamata hitamnya. Bahkan ketika seorang dokter perempuan memintanya untuk bergeser, dia tak bergeming. Hanya dengus nafasnya yang menjawab, sebuah dengus amarah.


Dokter perempuan itu pun memilih untuk mengalah, menyuntikkan morphin di selang infus kemudian berdiam diri.


Setelah morphin itu bekerja, otak Shanique Miller tak lagi mendidih, gurat wajah tegangnya mengendur, lalu berganti senyum.


Bernafas lega, Arvine Dowson melepas dekapannya. Membiarkan sekelumit wajah Shanique Miller menebar senyum, seindah yang dulu, secantik dalam ingatannya, " aku di sini, Sayang ! Untuk cinta kita." bisiknya di telinga gadisnya.


"Ini semua adalah proses terakhir yang dibutuhkan oleh seorang pasien untuk bangkit dari koma. Inilah Fase pengembalian semua memori ke dalam ingatannya, semoga nona Shasa berhasil melaluinya." ujar dokter itu penuh harap, perlahan dia mendekati Arvine Dowson, lalu berbisik : "Hidup nona Shasa hanya tentang mu, Tuan Dowson ! Berhati-hatilah dengan ucapanmu, dia bisa mendengar semuanya dan pasti meyakininya. Maka jangan pernah berkata-kata, bila itu hanya gombal semata ! Meski itu untuk sebuah kebajikan.'


Dia yang telah membisikkan beribu syair tentang cinta dan kerinduan, dia juga yang sudah memberikan berlaksa harapan dalam tiap dekapan, dia baru tersadar bahwa apa yang telah dilakukannya selama Shanique Miller koma akan menjeratnya, mengikat mereka berdua dalam ikatan cinta yang seharusnya sebatas sejarah. Arvine Dowson tercekat rasa, antara sesal dan pengharapan.

__ADS_1


Bayang-bayang tentang tangis Clarissa Mae mulai menjelma di kepala lelaki itu. Bila kelak Shanique Miller benar-benar tak sanggup hidup tanpanya, lalu apa yang akan terjadi pada Clarissa Mae ?


"Rissa ... Maafkan aku." bisik dalam relung batin Arvine Dowson, relung yang seharusnya hanya dibangun untuk dihuni oleh Clarissa Mae dan anak-anak mereka.


__ADS_2