
Pov : Arvine Dowson.
Umpama bumi berhenti berotasi dan berevolusi, maka berakhirlah musim dan berhentilah waktu. Saat itu terjadi, aku hanya ingin melihat wajah Rissa, duduk di sisinya, tanpa bicara atau melakukan apa-apa. Hanya duduk berdua, menemaninya memandang langit kesukaannya, langit tenggara.
Dulu sempat aku bertanya, "kenapa langit tenggara ?" Rissa menggeleng pelan, sepertinya enggan bercerita. Lalu saat kuputuskan untuk berdiri, dia meraih tanganku.
"Vin, jangan pergi ! Temani aku sampai langit itu hilang."
Sampai detik ini, bila hatiku sedang rindu, seperti saat ini, aku memandang langit tenggara, menghadirkan Rissa kembali di sampingku. Mendengar helaan nafasnya, mencium aroma parfumnya, dan menikmati getaran rasa yang sedang berkecamuk di dalam hatiku sendiri.
Rissa ... Angkat dong ! Aku kangen.
Seperti biasa, Rissa membuatku kecewa. Direjectnya terus semua panggilanku. Aku males chat ! Aku mau mendengar suaranya.
"Tin ... tiiin ...." suara klakson dari sebuah mobil mewah minta jalan.
Aku tahu Hani sedang berada di dalamnya, tapi membayangkan tampang songong pacarnya itu membuatku males membuka gerbang. Lagian, rahangku masih nyeri akibat ulah bodyguardnya.
Tabrak saja gerbangnya, biar besi pagar itu menusuk jantungmu, dasar songong !
"Tiiiiin .. tin ... tiiiiiiiin."
Sampai mamp*s juga ga bakalan kubuka gerbangnya, songong ! Kecuali kamu mau nyungsep di dalam selokan itu, lalu nungging menjilati t*e cacing di dalamnya.
Fatimah menghela nafas berat saat berlalu di sampingku, sepertinya dia sedang kesal melihat ulahku. Biar saja dia kesal padaku, toh tingkat kekesalnya ga ada seujung jari bila dibandingkan dengan kekesalanku sebentar lagi.
Ga usah dilihat, Vin ! Itu cuma lebay ala drama korea.
Sepertinya ada suara burung di atas pohon, aneh juga sih. Kok masih ada burung mencuit di kota ini, Kuputar badan ku lalu berdiri, mencari sumber cuitan itu. Melongok ke kanan-kiri, tapi tak ada seekor burungpun di pohon itu.
"Don't touch, me !"
Nah lo ! Ngapain Hani marah-marah ? Jangan-jangan ...? Helleh ... Drakor, Bro ! Cuekin aja.
"Kamu jahat !"
Mampoooos lo, Songong !
"Kaaak Shasa ?"
__ADS_1
"Kalian juga jahat ! Semua jahat ... hiks ... hiks ... hiks."
Waduuuh ... Gawat ini mah !
Saat aku menoleh, Hani sedang menangis di atas kursi roda. Matanya telah sembab, rambut pendeknya juga acak-acakan. Menunduk memandangi kedua belah kakinya. Sementara kedua tangannya sibuk menepis tangan si songong agar tak menyentuh kepalanya.
"Aku bisa sendiri ! Aku ga butuh kamu ! Aku ga butuh kalian ... Pergiiiiii ! Hua ... hua ... hua."
Belum pernah aku melihat Hani seperti itu, suara tangisnya membuat bulu roma ku berdiri, tangis bercampur amarah itu melambungkan isi kepalaku ke masa lalu, masa saat papanya menggampar pipiku. Saat itu dia juga menangis seperti sekarang, tapi aku tak melihatnya, karena nanarnya pandanganku akibat gamparan tangan pak Johny.
Aku pun mendekat, menyelinap diantara badan Farah dan Cindi yang tertegun menunduk. Si songong merendahkanku dengan tatapan sinisnya, serasa ingin kupijak-pijak mukanya. Sementara tangannya terus saja mencoba untuk menyentuh rambut pirang di ujung kepala Hani, membuat darahku rasanya mendidih.
Aku merangsek masuk, menempatkan badanku di antara kursi roda dan badan si songong. Menjadikan badanku sebagai pembatas bagi keinginan si songong atas diri Hani ku.
"Bugh !"
Rasakan siku ku !
"Maaf, Bro ... kelepasan, handle kursinya licin." sengaja ku lepaskan tanganku dari handle kursi roda lalu menghempaskan siku kiriku mendarat tepat di ulu hati si songong, tanpa melihat ke arahnya.
Sekali lagi, ah ! Buat bayar hutang yang tempo hari.
Siku kananku mendarat tepat di hidung mancung si songong saat aku berpura-pura memutar badan. Membuat badan gede tapi lembek si songong itu limbung lalu tersungkur.
"Maaf, Bos ! Ga sengaja, habis bos tadi nunduk sih ... jadi kena deh."
Empat orang bertubuh gendut segera keluar dari mobil, rahang mereka menegang, sorot mata mereka sarat emosi. Mereka bergerak mendekati aku, seperti ingin menjadikan aku sejenis peyek, gepeng dan krispi.
"Vin ... Tolong ! hiks ... hiks ... hiks." Hani menatapku dengan kedua tangan menengadah, aku tahu maksudnya. Hani menengadah untuk ku gendong, selalu saja seperti itu. Sampai kapanpun ga pernah ku lupa gaya manjanya, dia tetap Hani ku.
Dalam sekali rengkuh, tubuh Hani sudah berada di dalam buaianku, untuk sekali lagi menghadirkan getaran yang dulu pernah bergelora, membuatku lupa bahwa ada ancaman untukku dari empat lelaki bertubuh melar dan berwajah cubi, mirip kudanil.
"Pssst ... tahan, masih banyak waktu !" sebut si songong, menghentikan langkah empat kudanil itu.
"Masuuuk !" rajuk Hani, dia tak pernah tahu pada apa yang telah kuperbuat atas diri pacarnya. Seandainya dia melihat darah yang mengucur dari hidung pacarnya itu, past Hani akan marah. Seperti dulu saat aku nonjok mukanya Hansen, cowok yang ngaku-ngaku sebagai pacarnya Hani.
"Urusan kita belum selesai, C*k ! Tunggu pembalasanku !!" suara si songong terdengar sengau. Seperti hidungnya sedang tersumbat oleh daun 'suruh'
Saat aku akan menengok, "sudah ah ! Biarin aja, Eddy memang biasa marah-marah." suara Hani melarangku, lalu tangannya mengarahkan muka ku untuk kembali lurus ke depan, menuju pintu rumah.
__ADS_1
Eddy ! Nama itu yang sudah merebut hatimu, apalagi huh ? Menciummu ? Membelaimu ? Memelukmu ? Atau jangan-jangan sudah ?
Ah ! Ta* lah semua. Pusing kepalaku mikirin perempuan !! Ga Rissa, ga Hani, semua sama aja, bisanya cuma bikin suntuk aja.
"Vin ?"
Aku ga perduli panggilan Hani, membayangkan bibirnya yang mungkin saja pernah dicium oleh si songong, kulitnya yang pernah dibelai, rambutnya yang pernah dielus, atau tangannya yang pernah digenggam, membuat badanku meriang.
"Vinnie !"
Aku tak pernah 'mencium' Rissa, tak pernah memeluk Rissa, tak pernah menodai kesucian kulit Rissa dengan hasratku. Aku bahkan selalu menjaga martabat Rissa setinggi martabat para wanita suci. Itu semua kuniatkan agar Tuhan menjaga kesucian Hani, dari lelaki lain yang mungkin menciumnya, memeluknya, menodai kulitnya dengan nafsu, agar martabat Hani bisa setinggi para perempuan suci. Aku memahami dosa sebagai 'kausatif kausa'.
"VINNIE !!!"
Tapi apa yang sekarang kudapat ? Hani sudah punya pacar. Dia ganteng (meski songong) dan kaya raya, manusia yang bisa dianggap sebagai lelaki sempurna oleh seluruh kaum hawa. Hmmm ... sia-sia usahaku selama ini. Kesucianku terbalas noda yang ditorehkan oleh takdir. Kejam dan tak tahu balasbud--
"Bhrugggh."
Tanganku menubruk tembok, rupanya aku salah jalur. Bukan pintu yang kutuju, tapi dinding yang kutubruk.
Hani hanya tersenyum tipis menyaksikan akibat dari kacaunya pikiranku, dia tak lagi merengek dalam gendonganku, hanya irish birunya yang lekat menyisir tiap jengkal ruang di mata ku. Mungkin akan ditemuinya setitik kecil bara di sana, bara kecemburuanku.
"Vin !" bisik Hani sesaat setelah kurebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. "Aku tahu kamu cemburu pada Eddy."
Hmmm ...nama itu sudah melekat di lidahnya, mengalir dari hatinya.
"Lihatlah sekelilingmu ! Lihat baik-baik lalu simpulkanlah dengan otak jeniusmu itu. Apakah ada lelaki lain yang pernah singgah di hatiku ?"
OMG ! Aku salah. Yang tertempel di dinding kamar Hani adalah gambar tentang aku, seluruhnya. Lengkap dari saat aku mengawali karierku sebagai Yout*ber. Bahkan ada beberapa foto lama kami berdua saat masih berseragam putih-biru, dan yang paling spesial adalah bingkai foto bentuk kupu-kupu yang kubuatkan untuk Hani sebagai hadiah ulang tahunnya. Di bingkai itu telah tertanam foto editan, aku sedang mengecup kening Hani dalam siluet senja.
Aku tahu sekarang, Tuhan telah menjaga kesucian Hani, seperti usahaku untuk menjaga kesucian Rissa. Thank You Lord
Maaf, Han ! Aku telah salah sangka.
"Cup !" sebuah kecupan kudaratkan dengan lembut di kening Hani. Dia memejamkan matanya, saat ku lihat sudut mata itu, ada bulir bening mengalir tipis, tapi kemudian menebal, lalu mulai terdengar isak dari dalam lehernya.
"Vinnie ...." entah sudah berapa kali bibir Hani menyebut namaku, tapi kali itu terdengar berbeda. Ada amarah dalam isaknya, "tolong ambil kembali liontin kita dari tangan Edward Rodmeyer. Dia merampasnya."
Bajing*n ! Bangs*t !!
__ADS_1