
Memandang langit tenggara, Arvine Dowson duduk berselonjor kaki di atas lantai beranda. Memar di wajahnya sudah tak seberapa, matanya mampu terpicing walau hanya setengah. Dan bibir itu, meski masih kaku tapi dipaksakan untuk sesekali bicara.
Dua pahanya tertutup rambut, bukan hanya oleh bulu halus di kulitnya, tapi juga oleh rambut Clarissa Mae yang sepertinya sedang melata. Rebah ingin dimanja oleh langit juga jemari kekasihnya.
Liontin disentuhnya, diputar lalu dibalik kemudian di lekatkan di dada berbulu tipis itu. Jemarinya lincah tanpa cemburu, walau sesungguhnya ingin dianggap setara. Tapi tak mungkin ! Dia hanya cangkang. Bukan istana, apalagi singgasana.
"Cinta ini akan seperti cinta mamaku, bebal dan tak tahu diri. Tapi sesempurna langit itu."
Suaranya lirih tanpa tekanan, berpijak dari keihlasan untuk mengasihi tanpa pamrih. Meski hanya berbalas sentuhan lembut di alisnya, bibir Clarissa Mae mulai bercerita.
"Cinta yang tersisih tapi mampu menembus angkuhnya dunia, melangitkan sosok Jacob Ma ke puncak cakrawala." ada binar bangga di matanya , saat bibirnya memanggil nama papanya. Kemudian mata itu bersirobok, lalu bertaut mesra dengan mata Arvine Dowson. Bersenggama, lalu terpejam malu.
"Jangan memandangku seperti itu. Nanti aku lupa, merasa diri sebagai singgasana, kala semua tahu bahwa aku adalah debu tempat kakimu berpijak."
Dua tangan itu memeluk, merekati pinggang seerat wajahnya yang kemudian menelungkup mendekap perut kekasihnya. Menolak untuk dipandang, memilih untuk hanyut dalam perasaannya sendiri.
"Jacob Ma hanya seorang pemulung, Vin ! Memulung rongsokan mobil dari tempat sampah bengkel-bengkel di pinggiran Jakarta. Memperbaiki sebisanya lalu menjualnya lagi dengan harga ala kadarnya. Itu berlangsung terus sampai aku terlahir. Papa memberiku nama Clarissa, mengambil istilah dari bahasa Portugis yang bermakna 'sangat terang' seperti bintang atau matahari. Mereka berharap bahwa aku terlahir sebagai penerang suramnya masa depan rumahtangga mereka, rumah tangga keluarga Ma."
__ADS_1
"Aku ingin melihat cahaya itu, boleh ?" suaranya tegar dan dalam, menggema hingga ke jantung Clarissa Mae. Hampir saja membuat muka itu tersibak, terlentang, tapi ....
"Aku malu ... Hihihihihik !" kembali memiringkan muka.
Mendesah kemudian jemari kekarnya menelusup ke pangkal rambut Clarissa Mae. Meremasnya sejenak lalu menyibakkan yang terburai di pelipis hingga telinga. Terpancarlah warna itu, merah jambu, pipi yang merona karena malu.
"Cara mama merawatku, kerja keras mama menjaga rumah kami, tangis mama kala aku sakit, tawa mama saat aku mulai belajar bicara lalu berjalan, dan segala bentuk pengabdian mama, tak sedetikpun dilewatkan oleh papa. Itu menguatkannya ! Memberinya semangat untuk lebih gigih dan berani menerima cobaan. Menebalkan tekadnya untuk berspekulasi, merintih dalam pelukan mama saat gagal, tersenyum menyejukkan mama saat berhasil .... papa membalas cinta mama dengan caranya sendiri. Cara yang kemudian menaikkan namanya di dunia otomotif, terkenal hingga ke luar negeri."
Wajahnya kemudian tersibak, menengadah, menatap liontin di dada Arvine Dowson. "Cinta mama memang tak seindah liontin ini." kemudian bibirnya tersenyum. "Tapi aku bersyukur, karena masih bisa mengingat kebesaran cinta itu walau tanpa monumen seindah ini." telunjuknya bergetar hebat saat ujungnya menyentuh liontin.
Seperti tak ingin membiarkannya larut dalam derita, tangan Arvine Dowson menggenggamnya lalu menautkan jemari mereka, rapat dan hangat.
Tanpa melonggarkan tautan jemarinya, Clarissa Mae berusaha duduk. Memutar punggungnya untuk bersandar di dada lelakinya. Membiarkan lengan itu memeluk lehernya.
"Ga tahu, Vin ! Mama terlalu pintar memendam rasa. Tapi saat mata kami bertemu, aku tahu pasti bahwa mama tidak menderita. Dia bangga padaku, padahal aku bukan siapa-siapa."
Pelukan mereka kian erat, seperti ingin saling merekat dan tak akan lepas lagi
__ADS_1
"Mencium buku jemarimu saat berangkat kerja, dikecup keningku saat pulang kerja, memeluk saat kau letih ... Itu cara mamaku ! Cara yang kemudian membesarkan nama papaku. Akan kucontoh cara itu, untuk kebesaran namamu." lalu mulai meneteskan airmata.
"Cinta yang kutawarkan kepadamu memang tak seindah cintanya, kasih yang kupersembahkan untukmu takkan senyaman kasihnya. Karena debu ini takkan seindah singgasana. Shasa adalah singgasana mu ! tempatmu untuk hidup berbahagia." nama itu menggetarkan bibirnya, mengucurkan air dari matanya.
"Aku hanya debu, Vin ! Serpihan tanah saat kakimu menjejak, yang tulus untuk kau pijak demi mengantarmu ke singgasana. Lalu akan pergi bersama badai, agar kemegahanmu tak pernah ternoda."
Pingsan ? Arvine Dowson bahkan tak sanggup bernafas.
"Malam ini, aku akan pergi. Hasrat kotor dan keinginan mesum debu ini hanya akan menodai kebesaranmu. Kelak, bila kau lelah dengan singgasanamu, jangan bermain di padang rumput, menjejaklah di tanah berdebu. Karena bisa saja, salah satu debu itu adalah aku."
Mati ? Jantung Arvine Dowson bahkan berhenti berdetak.
"Bila ada debu liar yang terbang melayang lalu hinggap di kulitmu, itu pastilah aku yang tak tahan lagi merindu. Tolong jangan diusap apalagi dibasuh ! Buka saja jendela istanamu, aku akan pergi bersama angin."
"Tetaplah di sini ! Kamu bukan debu."
"Vin ! Saat ini aku hanya cangkang rapuh, kapan saja bisa hancur menjadi debu. Aku tak ingin menjadi penghalang langkahmu, menjadi titik lemahmu dalam setiap peperanganmu. Bila kamu kalah--yang menurutku itu tak mungkin--segeralah kembali padaku, semoga aku masih utuh, belum hancur menjadi debu."
__ADS_1
Kemudian langkah itu terlihat pasti. tegas menjauh meninggalkan sosok yang hanya sanggup menatap langit. Mendesis atau menjerit, berdiam atau meronta, semua sama saja ! Langkah Clarissa Mae tak akan berarah surut.
Goodbye cinta ! Cangkang ini takkan pernah menjadi debu jika bukan karena injakan kakimu. maka berhati-hatilah dalam melangkah !