
Tujuh orang langsung bergerak mengepung, menyuarakan ancaman, menebar teror, seolah mereka lah penguasa sejati hutan belantara Rinjani hanya karena mereka pegang senapan juga parang.
Raquella Mae, setangguh apapun dia, tetap saja seorang perempuan yang paling mudah digertak, nyalinya menyurut seiring kian lekatnya genggaman jemarinya ke T-shirt Arvine Dowson.
Billy-The Trouble-Williams memicingkan matanya, menganggap ketujuh anak muda yang mengepungnya itu tak lebih dari remahan roti yang kapan saja bisa dia pijak-pijak. Kakinya kokoh memasang kuda-kuda, siap bertarung.
Nickolaus Welas, si anak Papua, perlahan berdiri dengan mata mulai memerah. Tampak beberapa kali dia mengangkat hidung, menahan agar jengkel di benaknya tak berubah menjadi amarah, karena bila dia sudah marah maka tak ada kata mundur dalam kamusnya. Dalam setiap pertarungannya hanya ada satu arah yaitu maju walau mungkin di hadapannya tengah berdiri malaikat kematian.
"Tahan, Nicko !" Seru Arvine Dowson, dia sadar bahwa saat itu Nickolaus Welas mulai kesulitan menahan amarah. "Biar gw yang bicara !"
"Kenapa kami tak boleh menolong perempuan ini ?" Ucap Arvine Dowson. Nada bicaranya masih stabil tanpa asupan emosi atau amarah. Dia bermaksud bernegosiasi.
"Karena dia berpotensi menjadi penghambat misi kami." Jawab suara yang tiba-tiba terdengar dari balik tebing. Sosok seorang lelaki kumal kemudian muncul dengan kaki terpincang dan dada terbalut perban.
"Putu ? Kaukah itu ?"
Arvine Dowson seolah tak percaya pada pandangan nya. Berkali-kali matanya mengerjap berat, seperti ingin memperoleh gambar wajah lelaki itu lebih jelas dan pasti.
"Yoai, Vinnie ! Ini gw ... Heran lo gw masih hidup ? Ha ha ha ha." Balas lelaki kumal itu seraya tersenyum lebar.
Sosok yang dipanggilnya Putu adalah sahabat lamanya, I Putu Sudharma, seorang pendaki handal yang dulu sempat beberapa kali menjadi partnernya. Arvine Dowson kehilangan kontak dengan I Putu Sudharma saat misi Jaya Wijaya. Dia terpaksa melarikan diri dari sergapan OPM (Organisasi Papua Merdeka) dan harus merelakan sahabatnya itu menjadi korban penculikan yang kemudian tak pernah diketemukan lagi. Dia menganggap I Putu Sudharma telah tewas di tangan OPM.
Pelukan dua sahabat lama pun terasa sangat mengharukan, seolah menambah rona biru di langit Rinjani, membisukan semua.
"Namanya Ida Ayu Widarti, kami memanggilnya Ayu, satu-satunya cewe di tim kami--tim Dewata." jelas I Putu Sudharma sesaat setelah melepas pelukan haru. "Saat awal pendakian, Ayu baik-baik saja, kita semua kompak. Tapi setelah check point di post 4, dia mulai halusinatif ! Yang pada akhirnya dia membuang radio kami dan terus menerus melakukan percobaan bunuh diri. Bahkan sempat melukai aku dengan pisau nya."
"Manusia bermasalah." keluh Arvine Dowson. "Biar gw coba menyelesaikannya, karena mengikat dan membiarkannya kelaparan terasa kurang manusiawi."
"Silahkan ! Tim ini juga sudah tak mungkin bisa bekerjasama. Mereka semua terlalu egois untuk bisa bertahan hidup di hutan ini." I Putu Sudharma mengamini.
__ADS_1
"Tim Dewata aku ambil alih ! Ketua tim lama, Putu, sedang terluka dan dipastikan akan gagal mengemban amanh nya ! Kalian semua beralih Tim, menjadi tim Eureka ! Dan kalian mulai saat ini hanya memiliki satu nama, yaitu Kadet ! Faham ?" ucap Arvine Dowson kepada 7 pemuda yang mulai surut kepungan nya.
"Faham, Pak !" jawab mereka.
Dengan langkah pasti, dia mulai mendekati Ida Ayu Widarti, membawa serta gulungan tali gantung di tangan nya, kemudian mengikatkan tali itu di kaki kanan nya. Arvine Dowson melirik ke arah Nickolaus Welas, mengamati air muka sahabatnya itu. Dia menemukan kenyataan bahwa Nickolaus Welas menaruh simpati lebih pada nasib Ida Ayu Widarti.
"Lepas ikatannya, Nick !" perintah Arvine Dowson begitu jelas, dia sangat yakin akan mampu menaklukkan problem yang mendera Ida Ayu Widarti. Tanpa ragu, Nickolaus Welas melepas tali terakhir yang melilit kaki gadis itu.
Tanpa jeda, Nickolaus Welas memberi isyarat kepada Raquella Mae untuk menyalakan kamera agar bisa merekam aksi Arvine Dowson. Nickolaus Welas seperti memiliki firasat bahwa akan ada super drama sebentar lagi.
Jemari Raquella Mae segera beraksi, menyalakan kamera kemudian mengatur fokus dan saturasinya. Merekam semua aksi lelaki pujaan hatinya itu.
Sambil membantu Ida Ayu Widarti berdiri tegak, Arvine Dowson berseru : "Lo boleh lakukan apa saja yang Lo mau, ini hidup Lo, Lo bebas !" kepada Ida Ayu Widarti.
Seperti setengah ragu, Ida Ayu Widarti melempar seulas senyum. Kemudian bibirnya mulai nyinyir : " lebih baik gw mati sekarang, sebelum mata gw melihat hancurnya hidup mama karena perselingkuhan papa."
"Lakukan ! Bunuh diri sana ! Gw tau lo cuma menggertak !" balas Arvine Dowson.
Dengan langkah cepat, gadis itu bergerak ke tepi jurang, tanpa pikir panjang dia langsung melompat ke dalam tebing yang dasarnya berupa kabut.
Entah dorongan apa yang membuat Ida Ayu Widarti melakukan itu, dia memilih mengakhiri hidupnya dengan melompat masuk ke dalam jurang. Apakah karena dunianya sangat menakutkan sehingga dia memilih menutup usia nya di angka yang belum seberapa itu ? Tapi yang lebih mengerikan adalah keputusan Arvine Dowson.
"Jangkar gw, Bill !" teriaknya saat semua mata tercekam kengerian. Bagaimana tak ngeri, Arvine Dowson memutuskan untuk mengikuti Ida Ayu Widarti, melompat masuk ke dalam Jurang di waktu yang nyaris bersamaan. Dia melompat tanpa berpikir, semua seperti reflek, keputusannya tanpa didasari logika.
"Vinnie ! NO !" histeris Raquella Mae, tak pernah terbayang sebelumnya dia akan merekam momen sesangar itu, tapi dia sadar bila dirinya adalah seorang kameramen ! Yang tak boleh memperturutkan emosinya. Entah dari langit mana dia mendapatkan kekuatan, lutut gemetar nya itu masih juga mampu bertahan untuk kemudian merekam aksi spontan Billy Williams melompat dan menancapkan jangkar pada ujung tali di celah antara dua cadas.
Dengan cerdas, moncong kamera itu pun kemudian beralih pada cepatnya tali terurai, sangat cepat ... Secepat jatuhnya tubuh Arvine Dowson mengejar tubuh pingsan Ida Ayu Widarti, mereka melayang di ruang antara hidup dan mati pada jeda antara kepahlawanan dan kekonyolan. Tak lama ....
Tali itu menegang sangat kuat, membunyikan dengung bak dawai yang dipetik oleh dewa rama, seiring jeritan rajawali di dasar ngarai. Menegakkan bulu roma 7 kadet sok jago itu, yang kemudian sadar bahwa mereka bukan siapa-siapa, tak lebih dari tulang berbalut daging hina bila dibanding aksi Arvine Dowson. Mereka pun tersentak luar biasa kaget kala mendengar Nickolaus Welas memekik sangat lantang : "EURRRREKAAAAAAA ...."
__ADS_1
Lelaki kribo itu melepaskan adrenalin di kepalanya, saat dia yakin bahwa dengung dan kencangnya tali itu meregang adalah pertanda bahwa Arvine Dowson sudah berhasil menyelamatkan Ida Ayu Widarti ! Dan mereka sedang bergelantungan di balik kabut, berjuang semampunya untuk tetap bertahan hidup, tanpa sedetikpun mulut nya mengemis kasih dari Tuhannya ... "Takdir adalah apa yang kita upayakan dengan tangan dan kaki kita sendiri ! Tuhan hanya mengamini !!" itulah kalimat yang sering diucapkan oleh Arvine Dowson pada tiap akhir sesi Vlog-nya.
"Nicko, bantuin gw !" Teriak Raquella Mae, dia tak sanggup mengangkat kamera dan tripod nya bersamaan.
Tanpa menjawab sepatahpun, Nickolaus Welas bergegas secepatnya menyambar tripod yang berdiri ditinggalkan oleh Raquella Mae. Dia berlari mengejar, Raquella Mae telah berada di posisinya, mengambil video di sisi kiri tebing dimana terdapat batu sedikit menjorok ke depan sebagai pijakannya untuk mengatur kamera.
Setelah memasang tripod untuk kamera Raquella Mae, Nickolaus Welas merogoh tas ransel gunungnya untuk mengeluarkan sebuah benda elektronik kecil lalu memasang nya di kamera.
"Apaan itu ?", Raquella Mae terkejut karena kameranya goyang akibat hentakan tangan Nickolaus Welas.
"IWM ! Infrared Wireless microphone !" (Mikropon nirkabel infra merah) seru Nickolaus Welas. "Kita akan dapat audio meski jaraknya ratusan meter. Tinggal atur range infra merah nya."
"Sipdah !" seru Raquella Mae seraya mengatur range IWM nya.
"Tetap fokus ke tali ! Dari dalam kabut itu sebentar lagi akan muncul Vinnie." Pesan Nickolaus Welas sebelum berlalu.
Kakinya gemetar, tangannya sibuk tak tentu, saat bibir Raquella Mae meracu tak karuan. Segala maki dan caci, sumpah serapah bahkan umpatan terkasar nya pun meluncur tanpa rem. Dia sedang kalut menanti sebuah visual tentang Arvine Dowson di kamera nya.
Mempertanyakan kelayakan Ida Ayu Widarti untuk diselamatkan, hanya untuk seorang gadis manja yang baru saja dikenalnya, tapi Arvine Dowson rela mengadu nyawa. "Hanya orang gila yang melakukan kekonyolan seperti ini" Bisik dalam hatinya. "VINNIE TOLLOOOOL !" teriaknya, tepat saat airmatanya mulai menetes. Raquella Mae sedang kalut oleh rasa takutnya sendiri, takut kehilangan lelaki terhebat dalam kehidupannya.
Tak ada yang menjawab teriakannya, hanya gema yang seperti menggelegar di langit, mengiris batin Raquella Mae makin dalam, membenamkan keihlasan perempuan itu ke titik nadir, tapi dia menolak untuk menyerah, meski hanya setipis sembilu batinnya masih berharap di ujung tali itu, tali yang tertutup halimun itu, akan muncul sosok idaman nya.
"Kepada Rajawali penguasa lembah ini, Teriaklah ! Panggil nama agung nya ! Gapai nyawanya dengan cakarmu ! Hadirkan dia di sini, agar tegak kisi-kisi langit cintaku. Aku akan membayar mu wahai pengusa angkasa ! Tak hanya dengan airmata ... Juga dengan nyawaku." sebuah janji dari mulut Raquella Mae yang terekam jelas sebagai audio dalam videonya, tak mungkin pernah bisa dihapus lagi.
Seekor rajawali jantan tiba-tiba menukik dari langit, menjeritkan cuit menggelegar, menggema diantara bukit-buit, memekakkan telinga dedaunan agar mereka menjadi saksi bahwa dia terpanggil atas nama cinta seorang dara untuk sang pujangga.
Rajawali jantan itu menukik lurus ke bawah, lalu hilang dibekap halimun, membawa secercah kerling di mata Raquella Mae kala bibirnya berkata : "Akan kuperjuangkan cinta ku, meski dia milik kakak ku--Clarissa." Kemudian perlahan keringlah airmata nya, terhapus lah tangisnya.
Kala seekor rajawali betina hinggap di atas tali itu, Raquella Mae mengerti bahwa dirinya tidak sendiri. Menenangkan hatinya meski masih berbalut hawatir.
__ADS_1
Kala rajawali jantan mulai tampak mengepak, terbang meliuk menembus kabut, kemudian menari mengitari betina nya, saat itu lah mata Raquella Mae menangkap sesosok bayangan lelaki sedang meniti tali, terikat sosok perempuan muda yang erat menempel di punggungnya.
Sebuah audio segera diterima kameranya, suara Arvine Dowson sedang bersenandung, sebuah rapsodi tentang rindu dan kegilaan.