
Langkah kakinya masih berderap, ayunan lengannya juga masih mantap, sama sekali tak menggambarkan usianya yang sudah berkepala enam. Jack Rodmeyer, sedang berjalan bersama dua orang ajudan. Meniti karpet merah dengan dagu datar tanpa ekspresi, menuju sebuah pintu di gedung pusat strategi militer.
Letnan Jenderal Kendrick Williamson, nama itu tertempel di daun pintu. Sudah terbuka, seperti sedang menunggu kedatangan tamu istimewa. Bahkan jenderal bintang tiga itu sudah berdiri di belakang pintu, menampakkan sosoknya yang tinggi tegap khas tubuh seorang tentara Angkatan Darat.
"Lapor jenderal, tamu sudah diantar."
"Terimaksih, silahkan kembali ke pos masing-masing !"
Suara itu berat dan tegas, sesuai dengan baret merah yang sedang disandangnya. Jenderal tertinggi pada satuan elit Korps Pasukan Khusus.
"Siap, laksanakan !"
Dua ajudan itu pergi dengan langkah tegap.
"Selamat datang di kantor sederhana ini, Jack ! Semoga kamu betah berlama-lama di sini."
"Erick Williamson ! Tak kusangka, bisa tua juga kamu. Hah ... hah ... hah ... wajah mu tak bisa lagi mempesona perempuan manapun."
"Bicara soal perempuan, bagaimana kabar Karen ku, Jack !?" matanya nakal saat menyebut nama Karen, ada keinginan untuk memancing lawan bicaranya agar mengingat kembali persoalan lama mereka.
"Karen mu sudah tiada ! Sudah menjadi Karen ku sepenuhnya."
Jack Rodmeyer duduk di kursi kebesaran Kendrick Williamson, seolah sedang menikmati rasa menjadi dewanya para tentara. Bahkan tongkat sakral seorang jenderal di angkatnya, lalu diketuk-ketukkannya di ujung meja. Tak perduli wajah pemiliknya sudah mulai kecut.
"Jack !"
"Apa, Rick ? Ini cuma tongkat kayu biasa ! Kalau patah, tinggal bikin lagi yang baru." timpal Jack Rodmeyer, dia bahkan melempar tongkat komando itu ke atas meja. Menggelindingkannya seolah itu adalah mainan cucunya.
"Kamu gila, Jack !"
Wajah Kendrick Williamson semakin kecut, ada gurat ketegangan di sana.
"Kamu lebih gila, Rick ! Kamu memainkan nyawaku seperti jangkrik yang bisa kau adu kapan saja."
__ADS_1
Kali itu wajah Jack Rodmeyer menjadi lebih tegas. Kemarahan berhasil disimpannya secara cerdik di ujung senyum sumirnya.
"Aku bahkan belum memainkannya, Jack ! Dan lihatlah wajahmu itu ... hahahaha ! Mirip wajah lelaki yang meninju mukaku saat Karen ku culik dulu."
"Dari dulu sampai sekarang, kamu tetap menjadi orang yang kurang kerjaan. Usil dan paling senang mengganggu tidur orang lain hanya karena ingin menang. Kenapa tak kamu terima saja kekalahanmu, Rick ? Lalu melanjutkan hidupmu sebagai peringkat kedua."
"Tidak, Jack ! Kali ini aku akan menang. Dan kamu harus merasakan hidup sebagai seorang pecundang. Aku memegang queen, dan kamu hanya kebagian bidak ! Hahahahaha ... Kali ini aku pasti menang."
Tawa itu terdengar hingga ke ruang sebelah, tawa yang sarat emosi itu mengganggu ruang staff administrasi. Kemudian mendengung seperti lebah membuat sarang.
"Akan ku ikuti permainanmu, asal kamu bisa memastikan bahwa mereka aman !"
"Mereka !?" gaya memicing itu membuat Jack Rodmeyer kian jengah. Kemudian mengancam : "dengar, Rick ! Permainanmu ini bisa saja menyeret kita berdua ke neraka. Jadi jangan main-main dengan ucapanku." semua orang tahu makna kalimat Jack Rodmeyer itu. Dia telah marah. Apa yang akan terjadi bila Tuhan sedang marah ? Kendrick Williamson tahu jawabnya. Karena itu dia segera menelpon seseorang.
"Jonas ! Say hello to uncle Jack, Son !"
Kemudian Kendrick Williamson menyerahkan teleponnya kepada Jack Rodmeyer.
"Halo, Jonas !"
Mata Jack Rodmeyer segera fokus pada backround video call itu. Di belakang Jonas Williamson tampak bukit bersalju, dua orang sedang bermain boneka salju di sana, mereka bercanda lalu tertawa bersama, sebagaimana layaknya sepasang ibu dan anak yang sedang berbahagia. Shanique Miller adalah sang ibu dan Sean Rodmeyer sebagai anaknya.
Jack Rodmeyer tersenyum puas. Dua bidaknya aman, saat bidak terlemahnya sedang berkutat dengan kedunguan. Edward Rodmeyer adalah bidak terlemah yang dimiliki oleh Jack Rodmeyer, posisinya di belakang queen musuh.
***
"Clarissa mana, Ma ?"
Sederhana dan polos, pertanyaan itu dibiarkan saja oleh Mamanya. Tak dijawab, didengarpun tidak. Karen Rodmeyer memilih meneruskan membaca series novel karangan Mira Akira. Judulnya Pemeran Pembantu.
Mengisahkan tentang cronicle seorang raja muda dari kerajaan Bintang bernama Aldebaran Pleiades dan permaisuri kecilnya--Adhara Canis.
Dalam novel itu ada tokoh yang paling menyebalkan benak Karen Rodmeyer, bernama Sargas, tokoh antagonis versinya sendiri.
__ADS_1
"Ma ! Lihat Clarissa, ga ?" ulang Edward Rodmeyer dengan wajah kesal dan mata meredup. Kemudian ikut duduk di samping mamanya.
"Apa sih, Sargas !!"
"Sargas !? Siapa tuh sargas ?"
"Kamu tuh Sargas !!"
Suara itu kesal dan sarat akan emosi terpendam. Bahkan saking emosinya, Karen Rodemeyer langsung berdiri kemudian beranjak meninggalkan sofanya. Membiarkan anak sulungnya itu memutar bola mata.
"Ngapain sih, Ma ? Badmud melulu dari tadi." sambung Edward Rodmeyer sebelum mamanya terlalu jauh.
Memutar badan, kemudian berkacak sebelah pinggang. "Pagi-pagi buta, papamu pamit pergi ke Jakarta. Siangan dikit, giliran Faizah yang minggat ke rumahnya. Kemudian Clarissa menyusul pamit. Trus aku di rumah ini sama siapa ? Huh ! Sama kelakuan Sargasmu itu ?"
Belum sempat menarik nafas, Edward Rodmeyer menerima serangan gelombang kedua.
"Sudah mama bilang ! Kamu itu harus segera menikah lagi, carikan mamamu ini teman curhat, teman pergi arisan, atau apalah ! Yang penting bisa menemani hari tuaku ini. Ga perlu yang cantik atau bisa memuaskanmu di ranjang ! Cari yang bisa menjadi ibu bagi Sean dan teman bagi aku. Paham ga sih, Lo ? Sargaaaas !!"
Kemudian gelombang serangan ketiga menghabisi Edward Rodmeyer.
"Dari sejak semula, aku sudah ga sreg saat kamu membawa pulang Helena, tapi papamu selalu saja membelamu, merestui pernikahan kalian. Giliran ketahuan belangnya, kamu ceraikan si rambut jagung itu. Sekarang kelakuannya membuat malu keluarga ! Hampir tiap hari menjadi gunjingan media, mereka menempatkan kita sebagai terdakwa. Memandang aku sebagai mertua yang gagal mendidik menantu, padahal memang pembawaan bayinya, sifat buruk itu sudah terbawa sejak Helena lahir."
Serangan gelombang ke-empat datang saat Edward Rodmeyer mulai angkat kaki.
"Papamu itu dulu miskin saat kami bertemu, meskipun sebenarnya dia anak orang kaya. Tapi karena dia minggat dari mendiang kakek-nenekmu, makanya kami bertemu dalam keadaan nol ! Makan di kos-kosan aja cuma lauk jelantah bekas menggoreng ikan asin. Tapi papamu sukses memikat hatiku yang notabene adalah artis papan tengah. Pesona dan kejujuran serta kelembutan hati papamu itu mampu meluluhkan cinta mamamu ini ! Terus kemana perginya sifat papamu, Huh ? Kamu itu keturunannya, tapi sifatmu itu kok malah mirip Sargas ! Petentang-petenteng sok kegantengan, tebar pesona kesana-kemari, tapi hasilnya apa ? Shasa menolak kamu, trus Clarissa juga ogah jadi bini kamu. Terus harus sampai kapan ? Mamamu ini menunggu dapat menantu yang bener."
Bahkan ketika Edward Rodmeyer sudah hilang dari pandangannya. Karen Rodmeyer belum puas, kemudian beralih mengomeli Handphone-nya.
"Mira Akira ini juga ! Bikin novel kok tokohnya nyebelin buangeeet. Menginspirasi Eddy untuk berbuat unfaedah ! Kalau nanti sampai ketemu, tak pithes hidungmu, Mir--"
Waaah alamat ancur-ancuran ini kalau galaunya Karen Rodmeyer terus gw tulis. Bisa terjadi perang antar emak-emak !
Untuk yang tersungging dalam episode ini, muup ! Niatnya ng-endorse, bukan nge-horse. Piss.
__ADS_1