The Last Cliff

The Last Cliff
Chapter 29


__ADS_3

Senyum tipis menghiasi bibir Shanique Miller, matanya yang terpejam tak lagi mengalirkan air. Morphin dosis rendah telah membuat saraf di dalam otaknya lebih stabil, meski belum sepenuhnya tenang.


Entah mengapa tangan Shanique Miller tiba-tiba menepuk-nepuk alas tidurnya, lalau jemarinya meraba-raba seolah sedang mencari sesuatu. Saat Fatimah Mahmud menggenggam jemari itu, Shanique Miller balik meremasnya, tapi hanya untuk sesaat. Selanjutnya jemari itu kembali ke sprei, lalu menelusur ke semua arah seolah ingin menggenggam yang lain.


Fatimah Mahmud melirik ke arah Arvine Dowson, mendapati lelaki sedang mengusap sesuatu di balik kaca mata hitamnya, "Bang !" bisik gadis itu.


"Apa ?" balas Arvine Dowson.


"Ini !"


"Kenapa ?"


"Nyariin Abang !"


"Ada aja, Lo !" suara Arvine Dowson terkesan kesal.


Mata Cindi Latuconsina langsung melotot, dengan gahar menatap ke arah Arvine Dowson sebelum mulutnya mulai menghakimi, "owh ... jadi cuman segitu doang pengorbanan, Lo ? Ingat ya, semua ini gegara lo, Bang ! Semua syair yang sudah Lo ucapkan di telinganya dan semua sentuhan juga dekapan yang telah lo goreskan di kulitnya telah membuat bu Shasa percaya bahwa Lo masih mencintainya ! Jadi, jangan pernah bekerja setengah hati, terutama di saat kritis seperti--"


"Vin ...." suara Shanique Miller menghentikan omelan Cindi Latuconsina, membuat dara berkulit coklat itu terdiam menahan geram.


Arvine Dowson mendekat, "Han ... Aku di sini." bisiknya dengan suara lembut.


Telapak tangan yang sebelumnya menelisik di atas sprei, perlahan mulai menengadah lalu terangkat. Mencari sesuatu untuk digenggam. Dan baru kembali rebah setelah jemari Arvine Dowson merajutnya mesra.


Menghela, lalu menghembus dengan sangat perlahan, Arvine Dowson menyadari bahwa babak baru dalam drama kehidupannya telah dimulai, babak yang menuntunnya untuk selalu 'kalah', sesuatu yang tak pernah ada dalam kamus hidupnya.


Kedua sudut bibir Shanique Miller ditarik makin membentang, sebaris gigi-gigi kecil sedikit mengintip di balik tipis bibirnya. Sebuah senyum tersungging cantik laksana peri, kala memori panjang tentang masa kecilnya tertanam dalam ingatannya :


" ... ilmu trigonometri adalah persolan mencari nilai sisi miring dan sisi tegak sebuah bangun yang bersudut siku-siku. Jadi, persoalan utamanya adalah pencarian nilai sumbu y dan r saja. Karena sumbu x bisa diukur, begitupun dengan sudut sinus/cosinus-nya !" jelas Arvine Dowson remaja.


Shanique Miller remaja menatapnya, mengikuti setiap gerakan di bibir teman sekolahnya itu tanpa berkedip. Terkembang rasa kagum yang mungkin bermuara cinta, walau dia tahu bahwa rasa itu berhulu sesal.


"Hani ?"


Panggilan Arvine Dowson remaja tak mampu mengusik lamunannya, dia terlampau asik merasai desir bahagia dari dalam perutnya, seperti ada selaksa kupu-kupu sedang terbang dan menari di dalamnya, menggelitikinya, menanamkan rasa yang belum pernah dirasainya . "Apakah ini cinta ?" bisik dalam nadinya.


"Han ...?" ulang Arvine Dowson remaja.


Sebuah senggolan ke bahunya oleh Adinda Larasati mengagetinya, membuyarkan lamunannya.


" ... e ... iya, Vin !" gugupnya, lalu semakin gugup saat pupil matanya melebar karena tangan Arvine Dowson telah menyentuh rambut yang menempel di pipinya.


"Iya apa ?" kejar Arvine Dowson remaja, menyertakan senyum di ujung ucapannya, yang membuat pupil mata Shanique Miller remaja semakin melebar.


"Cinta !?" jawabnya kikuk.


"Xixixixixi ...." tawa Adinda Larasati terdengar. Begitupun dengan 4 orang di sekelilingnya. Mereka sudah lama mengetahui kalau sesungguhnya Shanique Miller remaja menaruh hati pada sosok Arvine Dowson remaja. Hanya saja, cowo itu tak pernah merasakannya.


"Ada Apa Dengan Cinta ! Film itu bagus ... Kita harus menontonnya." alih Shanique Miller remaja di tengah kegugupannya.


"Kok !?" Arvine Dowson remaja tertegun.


"Itu Film jadul kali, Sha !" ujar Adinda Larasati seraya melanjutkan cekikikannya.

__ADS_1


"Iya ... Tapi masih bagus. Ayo kita nonton ! Aku yang traktir ... gimana, gaez ?" lanjut Shanique Miller remaja, sambil menyembunyikan wajah merahnya dari pandangan Arvine Dowson remaja di balik sehelai kertas.


"Aseeek ... Berangkat cui !" seru Adinda Larasati, mengakhiri sesi belajar kelompok mereka.


Masih dengan muka bengong, Arvine Dowson remaja duduk di boncengan sepeda motor Alvaro Subagja remaja--sahabat Shanique Miller remaja sejak dari playgrup hingga SMP. Mereka berangkat nonton dengan kendaraan berbeda. Arvine Dowson remaja bersama Alvaro Subagja remaja, dan yang cewe-cewe bisa nebeng dalam mobil Shanique Miller. Diantar oleh sopir pribadi keluarga Miller.


"Tembak aja, Sha !" saran Adinda Larasati remaja sesaat setelah mereka di dalam mobil.


"Hallow ... Gw cewe gitu loh !"


"So what ?? Emansipasi, Sha ! Udah zamannya."


"Ogah ah ! Malu gw."


"Serah lo deh, Sha ! Terus aja halu dan malu-maluin kek yang tadi."


" ya ampun, Din ! Jantung gw mo copot tadi tu."


"Dan perut gw mules nahan tawa. Lo kelewatan, Sha ! Bener-bener deh."


"Hmm ...."


Shanique Miller remaja merebahkan punggungnya ke sandaran jok mobilnya. Memejamkan matanya lalu berseru lirih.


"Kapan, ya ? Dia berani nembak gw."


"Sampai rambut lo beruban juga ga bakalan dia nembak lo, Sha ! Secara dia kan minder sama lo."


"Padahal dia butuh gw banget."


"Matanya menyiratkan penderitaan, dan hanya gw yang bisa mengisinya dengan kebahagiaan."


"Mode halu : ON !!!" bisik Adinda Larasati remaja di telinga teman sebelahnya.


"Oh, Vinnie ku ... Di pundakku kau bisa rehatkan letihmu. Di senyumku kau bisa redakan laramu. Di nafasku kau bisa hela nafasmu. Di hatiku kau bisa puaskan dahaga kasihmu. Di cintaku kau bisa temukan arti hidupmu. Dan hanya dengan takdirku kau bisa lengkapi takdirmu."


"UHUKSSSS !" ledek Adinda Larasati, lalu dilanjut dengan : " gw terenyuh ... awokawokawok ...."


"Biarin ! Akan gw tunggu. Vinnie pasti datang untuk rinduku."


Semua itu mengalir begitu saja ke dalam telinga sopir mereka.


***


Di ujung pantai, di bawah naungan pucuk kelapa. Shanique Miller remaja sedang duduk memandang senja--sesuatu yang dibencinya, karena setelahnya, malam akan hadir untuk menakutinya.


"Han ! Aku sayang kamu."


Jantungnya hampir pecah, karena memompa darah di saat nadi nya sedang tersumbat harap. Penantian panjang nya berakhir sudah, saat sebaris kalimat yang terucap dari balik pohon kelapa itu membuatnya tertegun haru, diamnya menandai mula dari sebuah romansa.


"Hmm ... Maaf telah membuatmu tersinggung ... Aku tak bermaksud menghinamu dengan menyetarakan diriku .. pada ketinggian status sosialmu." suara itu terdengar terbata-bata.


"Duduklah di sini, Vin !" jawab Shanique Miller remaja. Saat matanya menemukan wajah gugup Arvine Dowson remaja, "Temani aku memandangi senja itu." bisiknya pelan dengan mata berkaca-kaca.

__ADS_1


Mereka duduk tanpa bentang jarak antara, bersisihan bahu setara bahu, kepala setara kepala, lalu saat mata yang setara mata itu bertaut, Shanique Miller remaja tersentak. Seperti ada petir yang menyambar sekujur tubuhnya, mengalirkan kembali kegetiran yang pernah ia rasakan saat matanya bersirobok dengan mata seorang bocah yang ditabrak papanya 6 tahun lalu.


"Oh Tuhan ! Ternyata dia adalah Vinnie ku." keluhnya dalam hati.


"Vin ! Peluk aku dan jangan pernah kau lepas lagi ... Selamanya." mohon Shanique Miller remaja, yang disambut pelukan hangat penuh kasih oleh orang yang dicintainya segenap rasa.


Hari hari selanjutnya menjelma surga, mereka saling mengisi, saling melengkapi. Shanique Miller remaja mencukupi segala kebutuhan sekolah Arvine Dowson remaja, begiupun sebaliknya, Arvine Dowson remaja memberi kasih sayang yang tak pernah Shanique Miller dapatkan dari kedua orang tua nya.


***


"Bye, Vinnie !" diakhiri dengan sebuah senyum di penghujung sebuah romansa oleh bibir Shanique Miller remaja saat dia turun dari boncengan vespa buluk yang dikendarai kekasihnya.


Tak perduli pada keberadaan papa dan mamanya yang sedang bercengkerama bersama seorang lelaki yang mereka anggap 'guru spiritual' di beranda rumahnya, Shanique Miller remaja melangkah santai memasuki pintu utama rumah orang tuanya.


"Kenapa kamu biarkan peliharaanmu di mulut seekor macan ? Atau sengaja akan kau jadikan tumbal ?" suara lelaki itu menarik perhatian Shanique Miller remaja, lalu mengendap di balik pintu, dia menguping pembicaraan mereka.


"Maksudnya apa ya, Mbah ?"


"John ! Pacar anakmu itu membawa karma buruk dalam hidup kalian, terutama untuk anak gadismu."


"Kenapa bisa begitu, Mbah ?"


"Entahlah ! Tapi mata batin saya melihat bahwa kamu berhutang nyawa pada pacar anakmu itu. Mungkin kamu pernah membunuh orang terdekatnya ?"


"Papa ! Penjual kue itu, Pa ! Vinnie mungkin anaknya." suara Suzana Miller langsung disertai tangis.


"Mohon bantuannya, Mbah ! Bagaimana caranya supaya saya bisa terbebas dari karma itu ?" suara Johny Miller pun terdengar seperti orang sedang ketakutan.


"Tidak ada manusia yang bisa terbebas dari karmanya, John ! Yang bisa dilakukan adalah menjauhkan pembawa bala atas karma itu."


"Maksudnya, maaf ya, Mbah ! Anak itu harus dibunuh juga. Begitu ?'


"Tidak akan sanggup kamu membunuhnya, Johny ! Karena dia adalah pembawa bala dari Sang Hyang Widiwata Ha ha ha ha." suara tawa guru spirirual itu menggema cukup lama. "Menjauhlah dari pacar anakmu itu !" pungkasnya.


"Whaaats !!!" jerit dalam batin Shanique Miller remaja. Tak sempat bergeser dari tempatnya nguping, dia segera mendengar pekik memanggil namanya.


"SHASA !!! KITA BERANGKAT SEKARANG JUGA." bentak Johny Miller. Mau atau tidak, Shanique Miller remaja harus pergi jauh dari kehidupan Arvine Dowson.


Tanpa kuasa sedikitpun, Shanique Miller remaja harus patuh dalam pelukan mama-papanya, walau dia menjerit pilu diujung romansanya, di awal eleginya :


"VINNIE ... VINNIE ... VINNIE !!" teriakan terakhir oleh Shanique Miller itu mengakhiri nafasnya. Paru-paru nya berhenti. Detak jantungnyapun berhenti. Urat nadinya kosong.


"Thiiiiiiiit ...." Suara dari dalam cardiograf, dilayarnya tergambar garis lurus mendatar.


Jerita tangis mengudara dari bibir Farah Isuke. Cindi Latuconsina pun tak kalah pilu dengan lolongannya. Fatimah Mahmud seperti pasrah pada takdir, tangisnya lirih saat jemarinya menekan bell untuk memanggil dokter.


Mereka tak bisa menerima pilihan mentornya itu untuk menyerah, setelah bertarung melawan laranya selama seminggu. Kenapa harus menyerah ? Dia masih dibutuhkan oleh banyak manusia lain, yang berharap untuk menjadi sehebat dirinya.


"DAN KAU ! JANGAN HANYA MEMATUNG SEPERTI IBLIS !! KECELAKAAN ITU TERJADI KARENA DIA INGIN MENCARIMU ... " maki Cindi Latuconsina sambil melayangkan pukulannya ke dada Arvine Dowson.


Tanpa sepatah-katapun, Arvine Dowson merengkuh tubuh Cindi Latuconsina, mendekapnya sangat erat. Membiarkan dara Ambon manise itu tersedu pilu di dalam pelukannya. Disusul Farah Isuke, lalu Fatimah Mahmud, mereka bertiga larut dalam pelukan Arvine Dowson, meraung lalu merintih ... Rasakan lara di atas lara.


Dokter dan paramedis telah melakukan segalanya, kejut jantung pun tak sanggup lagi menolong Shanique Miller untuk bertahan hidup di dunia ini, dia telah memilih untuk 'berpulang' daripada menjalani hidup tanpa Vinnie-nya.

__ADS_1


"Nama : Shanique Miller, sebab kematian : gagal jantung, waktu kematian : 10:--


__ADS_2