
Kediaman keluarga Rodmeyer menjadi ramai, beberapa kerabat keluarga itu perlahan mulai berdatangan dan mengisi beberapa kamar yang sebelumnya dibiarkan kosong. Wajah-wajah asing segera mengisi lensa mata Clarissa Mae, seperti biasa kemudian mulai membawa rasa tak nyaman.
Merasa asing di dalam keramaian membuat Clarissa Mae memilih untuk membuat 'benteng'. Pagi itu, di sudut kiri balkon, ia berusaha sembunyi. Duduk menyendiri di ujung sebuah sofa antik, berharap agar tak ada mata yang menyorotnya.
Ketika pintu utama terbentang secara tiba-tiba, matanya langsung mengerucut, menatap rombongan beberapa orang yang muncul dari balik pintu. Orang-orang itu tak asing di matanya. 'The godfather'--Jack Rodmeyer beserta keluarga besarnya telah kembali dari acara 'meminang'.
Steve Rodmeyer memasuki rumah dengan mata berbinar, hanya ada kebahagiaan di dalam benak anak muda itu. Entah kenapa dia memilih untuk langsung melangkahkan kakinya menuju kamar Clarissa Mae.
Yang masuk terakhir adalah Edward Rodmeyer. Lelaki itu berjalan sedikit di belakang adiknya, tampak tak ada bekas luka di lehernya. Mungkin berhasil disamarkan dengan plester dan bedak sesuai warna kulitnya.
"Dimana Clarissa ?"
Berbisik, Edward Rodmeyer menahan langkah adiknya dengan berdiri mematung. Membuat mereka nyaris bertubrukan.
"Ga tahu, ga ada di kamar !"
"Cari !"
Mungkin karena terbiasa main perintah, Edward Rodmeyer lupa bahwa di rumah itu dia bukan siapa-siapa. Dan saat perintahnya diabaikan oleh sang adik, ia geram dan mencekal lengan Steve Rodmeyer. Itu memancing ketegangan di antara mereka.
Clarissa Mae menyaksikan itu semua dengan mata yang kian tajam, lalu sengaja bersin. Menarik perhatian Edward dan Steve Rodmeyer ke arahnya, tepat sebelum Karen Rodmeyer menyadari adanya ketegangan di antara kedua anak lelakinya.
Selanjutnya bisa ditebak, Steve Rodmeyer berjalan menghampiri Clarissa Mae lebih cepat dari kakaknya. Menaiki tangga dengan sedikit berlari. Juga lebih trengginas saat berjalan menyisir balkon.
"Terimakasih, Mbak." Steve Rodmeyer langsung duduk di sebelah Clarissa Mae, kemudian kepalanya ia sandarkan menempel di lengan perempuan itu. Bahagianya ia tunjukkan dengan sedikit bermanja. "Besok malam kami bertunangan. Acaranya diadakan di sini."
"Selamat ya, Steve. Semoga semuanya berjalan lancar." balasnya saat menyentuh ujung kepala anak muda itu, Clarissa Mae kemudian terganggu oleh tarikan tangan Edward Rodmeyer pada pundaknya.
__ADS_1
Mata Steve Rodmeyer menatap miris saat menyaksikan sang kakak menarik paksa pundak Clarissa Mae, membawanya sesegera mungkin untuk meninggalkan Sofa itu, bahkan hampir terjatuh. Kasar dan jauh dari kesan manusiawi.
Ketika sampai di sudut, di antara pilar dinding. Tubuh kurus Clarissa Mae dihempas bersandar ke tembok. "Besok malam akan ada dua pertunangan sekaligus. Steve akan melamar pacarnya, dan aku akan melamar mu. Jangan ada kekacauan ! Atau adikmu akan aku jebloskan ke penjara. Faham ?" Edward Rodmeyer menghunjam jantung Clarissa Mae dengan dua 'pisau', mengancam adiknya dan memaksanya untuk menikah.
"Seperti yang sudah Anda yakini, saya hanya boneka. Lakukan saja apa yang Anda mau, saya akan memenuhi kontrak yang telah tertandatangani." sinis, Clarissa Mae berserah diri. Dia tak mampu berbuat apa-apa lagi selain menuruti semua kemauan Edward Rodmeyer.
Kemudian terdiam kelu saat Edward Rodmeyer menanamkan kecupan kasar di bibirnya, Clarissa Mae sekali lagi harus menerima sebuah penghinaan yang sengaja dipertontonkan di depan mata Steve Rodmeyer. Sebuah 'unjuk kekuasaan' yang bahkan membuat darah anak muda itu mendidih, bersiap untuk menghajar kakanya sendiri.
"Kon wes keblinger, Mas ! Anj*ng, sampeyan !!"
"Sudah lah, Steve ! ... Jangan ... diributkan ...." suara Clarissa Mae serak, bahkan terbata-bata.
"Sampeyan juga, Mbak !? Lawan kenapa !"
Dengan tubuh bergetar, "Ada banyak persoalan yang tak selesai dengan permusuhan." Clarissa Mae memeluk dada Steve Rodmeyer, membawanya menjauh dari kakaknya yang menyeringai seperti serigala kegirangan.
Wajah kusut dan mata sayu tersaji di wajah Arvine Dowson. Beruntungnya, semua mata sedang tertuju pada sedan sporty mewah yang barusan diparkirnya. Terlihat mentereng di deretan mobil-mobil buatan jepang, meski bukan miliknya sendiri, tapi siapa yang tahu ?
Dia bergegas memasuki kantor, berharap untuk segera mendapat informasi perihal dimana Clarissa Mae berada, tentu dari mulut Poetri Maharani. Sekretaris yang telah berani membohonginya.
"Tolong bicara lah yang jujur tentang keberadaan Clarissa Mae. Ini masalah serius !" itu yang ia ucapkan saat berdiri di depan meja Poetri Maharani. Bahkan tubuh letih setelah berkendara belasan jam tanpa henti ia abaikan. Arvine Dowson sedang sungguh-sungguh berharap untuk mendapat jawaban itu secepatnya.
"Maaf, Pak ! Itu wilayah privasi saya dengan bu Clarissa, mengingat kami sekarang sudah tidak lagi berstatus atasan dan bawahan, kami hanya berteman. Bila Bapak memaksa, maka setidaknya beri waktu kepada saya untuk berkonfirmasi pada bu Clarissa."
"Anda betul ! Konspirasi dua orang teman untuk menjebak orang ke-tiga mungkin hal yang wajar di pikiran Anda. Kebohongan memang hanya terasa perih bagi si penerima, dan bagi pelaku semua terasa wajar-wajar saja." sarkas Arvine Dowson.
"Maafkan saya, Pak--"
__ADS_1
"Maaf !? Untuk apa ya, Mbak ?"
"Untuk kebohongan kami--"
"Lupakan saja, Anda memang lebih pantas berteman dengan Rissa dibanding dengan saya." Arvine Dowson mengakhiri usahanya dengan kegagalan. Poetri Mahatani menolak memberi tahu di mana Clarissa Mae berada saat itu. "Akan ada cara lain." pungkasnya kala memasuki ruang kerjanya.
Ketika sudah merasa aman, Poetri Maharani menggapai telephone genggamnya. Tampak mengutak-atiknya beberapa saat lalu menyimpannya kembali.
Tumpukan dokumen memenuhi meja kerja Arvine Dowson. Menyambutnya dengan membabi-buta. Tak perduli sang lelaki sedang letih atau bugar, semua dokumen itu menuntut untuk dipelajari lalu ditandangani. Meski terkadang harus bercampur dengan sumpah serapah.
Belum genap seperempat dokumen-dokumen itu ia 'jamah', mata Arvine Dowson sudah tak sanggup. Tipa barisnya sudah membias bayangan, dan tiap hurufnya sudah menyatu.
Kopi ! Aku butuh kopi ku ...
"Mbak ! Bisa pesankan kopi ?" ucap Arvine Dowson, hanya kepalanya yang nongol di balik pintu.
Poetri Maharani mungkin akan lebih suka berada seruang dengan bosnya itu, ya untuk menghindari teriakan yang seperti baru saja ia dengar. Tapi apa boleh buat, Raquella Mae telah mengusirnya. Dan teriakan seperti itu akan menjadi pengganggu waktu kerjanya.
"Kopi saja, Pak !?" Wajah Poetri Maharani sedikit asam.
"Ya ! Yang paling pahit, dan suruh Rissa yang antar !"
Menganggap sebagai lelucon, Poetri Maharani berlalu tanpa salam sambil mencebikkan bibirnya, kakinya lincah menuju pantri.
Arvine Dowson kembali duduk di belakang mejanya. Matanya nyaris tak sanggup terbuka, bahkan tak jarang kelopak itu berkedut tak karuan, tapi hanya mata sebelah kiri. Mungkin sedang ada orang yang menggunjing keburukannya. Tiba-tiba telephone selularnya bergetar, lalu terdengar nada panggil.
Terimakasih, Riss ! Akhirnya kamu menghubungi aku lagi. Di saat aku butuh mendengar suaramu.
__ADS_1
Tanpa salam atau say hello, " kamu di mana, Riss ? Kita harus bicara, aku tahu kamu pasti keberatan atas permintaan maaf ku. Tapi besok adalah hari ulang tahunmu, dan aku berharap untuk tetap bisa bersama denganmu. Ya setidaknya sampai lusa--"