
Stasiun kereta api mulai sesak. Lalu lalang penumpang mulai terlihat di hampir semua sudutnya. Sementara bangku yang berjejer di ruang tunggu telah sepenuhnya terisi, baik oleh calon penumpang maupun barang bawaannya.
Arvine Dowson tampak duduk berbaur dengan calon penumpang lain, di sela antara dua kakinya tergeletak tas jinjing sederhana, menanti tibanya kereta api yang akan membawanya kembali ke Jakarta. Tersirat harap di matanya, bila esok ia tiba di Jakarta, ia akan memperbaiki segalanya, memulai hubungannya dengan Clarissa Mae dari awal lagi.
Rissa, aku harap kita bisa kembali bersama lagi.
Akankah semua bisa utuh lagi ? Sementara gelas yang sudah pecah menyisakan retak di mana-mana. Ditambah sabda para penyair : "Mereka yang telah pergi mungkin bisa kembali, tapi takkan pernah sama lagi." sedikit menepis kepercayaan dirinya.
Rasa ku mungkin tak sempurna, telah banyak ternoda oleh penghianatan. Tapi setidaknya aku akan mencoba untuk menawarkannya padamu dengan banyak discount.
Seperti tibanya kereta api sore itu, meski terlambat, tapi pada akhirnya rasa itu datang juga.
Melangkah pasti, Arvine Dowson memasuki gerbong ke-2 dari 9 rangkaian kereta. Kelas Eksekutiv nomer kursi 12 A. Mata cekungnya menyapu urutan nomer yang tertera di atas jendela, mulai dari nomer kursi 1 sampai 12. Dan 12 A ia temukan, tapi telah terisi oleh seorang lelaki parobaya bertubuh tegap dengan model rambut cepak ala tentara aktif, sementara 12 B masih kosong.
Setelah meletakkan tas jinjingnya ke dalam rak bagasi, Arvine Dowson duduk di kursi nomer 12 B.
"Apakah nomer seat Anda 12 A ?" suara lelaki itu berat dan tegas, semakin memperkuat sangka dalam hati Arvine Dowson bahwa dia adalah seorang tentara aktif. Belum lagi bila ditambah dengan sorot matanya yang tajam penuh wibawa, pastilah dia seorang tentara dengan pangkat yang tinggi.
"Benar ! Tapi saya tidak keberatan bila Bapak menempatinya." balas Arvine Dowson saat kedua mata lelaki itu mengguyurnya dengan tatapan menelanjangi.
"Kenapa ?" tanya lelaki itu sembari memperbaiki posisi duduknya, sedikit merebahkan sandaran pinggangnya, "apakah karena saya seorang tentara ? Membuat Anda hawatir ?"
"Bukan karena saya hawatir ! Tapi lebih tepatnya, Bapak sudah selayaknya duduk di dekat jendela, agar bisa melihat apakah bangsa ini lebih baik bila diamati dalam kecepatan tinggi."
Ucapan yang keluar dari mulut Arvine Dowson itu sontak menarik perhatian sang lelaki. Jiwa patriotisnya sedang diusik. Membuatnya kembali mengambil posisi duduk tegak. "Ha ha ha ha ... Sepertinya saya pernah melihat wajah Anda !" tawanya mengundang semua mata.
"Saya Arvine Dowson, vlogger tanggung." tanpa malu-malu, dia menyodorkan tangan. Berharap diterima sebagai sebuah niat baik.
Alih-alih menerima uluran jabat tangan, lelaki itu malah menatap mata Arvine Dowson dengan hunjaman rasa heran. Dia bahkan menata wajahnya agar lurus 'face to face' dengan wajah Arvine Dowson. Sebelum akhirnya menghempaskan tawa yang luar biasa mengganggu ketertiban umum.
"Saya Kendrick Williamson ! Panggil saja Erick !" ujarnya di akhir tawa. Menyambut jabat tangan Arvine Dowson lalu mengakhirinya dengan adu kepalan.
Wow ... Sang jenderal dari kesatuan elit korps Pasukan khusus ! Apa hubungan mu dengan si bandel Jonas ?
__ADS_1
"Senang berkenalan dengan Anda, Pak Jenderal !" seru Arvine Dowson sesaat setelah lepas dari kesima. "Saya pernah mengenal satu lagi Williamson selain Jendral, namanya Jonas ! Apakah masih kerabat Anda ?"
"Dia anak saya ! Ha ha ha ha ... ternyata negeri ini tak seluas yang saya duga. Atau mungkin karena negeri ini tak banyak memiliki lelaki hebat ?"
Lelaki hebat ? Aku bahkan harus berada di 'ketiak' Clarissa Mae untuk menghidupi diriku sendiri.
"Lelaki Williamson memang hebat. Tapi tidak dengan Dowson ! Ha ha ha ha ...." sebuah pengakuan jujur tentang dirinya sendiri keluar dari mulut Arvine Dowson. Dia memang sempat merasa sebagai lelaki hebat beberapa hari sebelumnya, tapi ambruknya kinerja manajemen keartisannya telah mengikis status itu dari pikirannya sendiri.
"Anak muda, kehebatan seorang lelaki bukan diukur dari pencapaiannya, tapi lebih pada keberaniannya untuk mempertahankan idealismenya. Berpikir dan bertindak sesuai idealisme, pencapaian adalah 'efek samping' yang masih bergantung pada banyak faktor lain, seperi keberuntungan misalnya."
Obrolan mereka sejenak terhenti karena goncangan kecil saat kereta api mulai berjalan meninggalkan stasiun.
"Sialnya, kebanyakan kaum perempuan gagal dalam memahami cara untuk mengukur kehebatan lelaki. Mereka menilai berdasar pencapaian kita." lanjut Kendrick Williamson sambil menghela nafas besarnya, "akibatnya, perempuan memilih untuk 'bersama' lelaki kaya meski sejatinya pilihan mereka adalah lelaki kerdil yang memperkaya diri dengan cara-cara yang merusak bangsa ini !" wajahnya berubah miris.
"Dengan pertimbangan lain, misalnya kesejahteraan anak-anak mereka. Menurut saya, itu hal yang wajar." dalih Arvine Dowson.
"Kesejahteraan keluarga menjadi alasan semakin banyaknya jumlah koruptor di negeri ini. Lelaki picik yang menomor satukan cinta kepada perempuan dan anak-anak nya dibandingkan dengan cinta nya pada negeri pertiwi ini, juga bisa dianggap wajar. Mengingat hidup mereka adalah pilihan ! Sedangkan hidup lelaki hebat adalah rangkaian kewajiban." Suara Kendrick Williamson terdengar sinis.
Dan Arvine Dowson menerimanya sebagai sebuah satire saat membalasnya dengan ucapan : "Ha ha ha ha ... Membenturkan feminisme dengan nilai patriotisme ?"
"Lalu dimana harkat sebuah pernikahan, Tuan Jenderal ? Bukankah sepasang suami istri harusnya terikat oleh sebuah perasaan cinta."
"Ha ha ha ha ...." kembali Kendrick Williamson terbahak.
Beberapa penumpang lain mulai tampak terganggu, bahkan sebagian mulai berdecak resah. Sebelum akhirnya semua harus menahan geram di hati saja karena beberapa ajudan sang jenderal berdiri dan menatap mata mereka dengan tatapan angker.
"Anak muda !" suara Kendrick Williamson mulai lirih, tapi tetap berat dan tegas." menurutmu, apa motifasi pernikahan yang ideal bagi seorang lelaki ?"
"Cinta !?" sergah Arvine Dowson. Mencoba peruntungannya di hadapan sang Jenderal yang sedang ingin bermain filsafat.
"Maka pernikahan akan menjadi sebuah ajang perbudakan cinta !" ucapan Kendrick Williamson ditekan di akhir, memberi kesan seolah ia sedang gerah pada jawaban Arvine Dowson. "Seorang lelaki sejati menikah untuk membentuk lingkaran 'kekuasaan'-nya, seperti singa yang yang akan berkuasa atas kawanannya."
"Bila Anda muslim, maka Anda akan faham bahwa pernikahan rasul yang sebanyak 13 kali itu juga memiliki 13 nilai filsafat berbeda. Pernikahan pertama beliau adalah untuk membentuk 'lingkar' dakwah pada kaum Arab Qurays. Lalu pernikahan selanjutnya terjadi setelah istri pertamanya wafat. Beliau menikah lagi dengan perempuan lain juga untuk membentuk 'lingkar' dakwah pada kaum Muhajirin. Lalu menikah lagi dengan perempuan di 'lingkar' kaum Anshor, kemudian menikahi perempuan di 'lingkar' kaum yahudi, kemudian budak Arab, kemudian budak Afrika. Dan seterusnya."
__ADS_1
"Hanya ada satu pernikahan beliau yang bermotif murni cinta ! Yaitu ketika nenikahi Aisyah--" nasehat Kendrick Williamson tersela oleh getar dan suara benda yang terletak di dalam kantung jaket tebalnya. Dia pun merogoh kantung itu untuk mengambil smartphone-nya.
"Tapi sayangnya, filsafat poligaminya rasul itu gagal dicerna oleh para pemuka agama, yang kemudian malah membenturkannya ke ranah Syariah kelas teri yang makin membenamkan kebodohan umatnya ke titik nadir." pungkas Kendrick Williamson kepada Arvine Dowson yang membiarkan mulutnya ternganga.
"Halo, Syah ! Ada apa ?" ujar Kendrick Williamson pada smartphone yang tertempel di pipi tuanya.
"Rick, mampir ke pesantren yuk ! Besok pagi kami ada acara besanan." jawab perempuan di ujung sambungan telephone.
"Kamu mau dapat menantu, Syah ?"
"Alhamdulillah ... Iya, Rick ! Dan tebak siapa calon besan ku ?"
"Langsung kasih tahu saja lah, Syah ! Otak kita sudah tak sehebat masa remaja kita dulu."
"Hellleh ... Si Erick akhirnya mengaku tua ! Xixixixixixi ... Calon besanku adalah ... K A R E N I N A R O S I E !!! alias Karen Rodmeyer ! Mantanmu."
"Sudah jadi bini si Jack, Syah ! Sobat karib ku juga." ujar Kendrick Williamson di ujung kagetnya. Dua perempuan yang dulu sangat dekat dengan dirinya akan menjalin hubungan kekeluargaan.
"Itulah makanya aku undang kamu ke pesantren, Rick !! Sekalian reuni kecil-kecilan ... Kan kamu sedang di Surabaya, mampir yuk ...."
"Aku malah sedang di Kertosono ini. Masih di dalam kereta api."
"Sumpah lo, Rick !? Turun di stasiun ! Entar biar ku jemput sendiri !!"
"Aisyah !! Aku ini jenderal ... Jangan kamu perintah !"
"Halah diam kamu, Rick ! Jenderal itu cuma bajumu !! Kamu tetap saja Kendrick sobat lama ku. Kalau kamu ga mau mampir, besok aku bilangin rahasiamu ke Karen ! Berani ?"
"Syah ... syah ! Jangan bilang ke Karen, aku turun nih !! Di stasiun."
"Nah ... Kan gitu, he he he he ... Makasih, Rick !"
"Sama-sama, Aisyah."
__ADS_1
Kendrick Williamson segera beranjak dari kursinya, meninggalkan Arvine Dowson yang masih terpaku menatap kepergiannya menuju pintu gerbong kereta api.
"Jadikan perempuanmu sebagai pusat 'lingkaran' kekuatanmu, dan bersiaplah untuk menjadi garuda !" pesan terakhir oleh Kendrick Williamson terdengar samar di telinga Arvine Dowson, karena pesan itu disampaikan dari balik jendela dan saat kereta api mulai beranjak meninggalkan stasiun.