The Last Cliff

The Last Cliff
Chapter 38


__ADS_3

Lutut Arvine Dowson dua-duanya membiru. Rasa ngilu membuatnya hanya bisa memicing sambil mencebik bibir. Makian dan sumpah serapah telah bertebaran di langit, semua mengudara untuk Edward Rodmeyer.


Mendadak matanya nanar, menatap ambulance yang datang tiba-tiba, tanpa sirine tapi langsung melindas taman, berhenti hanya dalam dua jengkal dari ujung kaki Arvine Dowson.


Dua lelaki turun dari pintu belakang, satu membawa defibrilator portabel dan lainnya menurunkan tandu. Mereka bergerak sangat gesit. Dan seragam ungu-ungu yang mereka kenakan, memberi kepastian pada Arvine Dowson bahwa mereka adalah staff medis dari rumah sakit swasta.


Dua orang yang turun dari pintu depan ambulan justru membuat Arvine Dowson kebingungan. Mereka bertampang kriminal lengkap dengan tatto di lengan hingga dada.


Dua tangan kasar meregam kerah bajunya, dua tangan lain mengangkat ujung kaki jins basahnya.


"Auww ...." erang Arvine Dowson, lutut memar yang tak bisa dia gerakkan itu ditarik lalu diangkat secara membabi-buta. Meninggalkan ngilu hingga ke ujung rambutnya. Kemudian seperti melempar kotak rokok, dua lelaki bertampang kriminal itu melempar tubuh Arvine Dowson ke atas semak. Pembatas antara taman dan tepian kolam renang.


"Brugh." lalu tubuh Arvine Dowson hanya mampu sedikit berguling. Lututnya telah benar-benar lumpuh, membuatnya hanya bisa pasrah saat tubuh Shanique Miller ditandu ke dalam mobil ambulan. Pandangannya makin miris karena rasa sesalnya. Arvine Dowson bahkan tak mampu mengucapkan selamat jalan pada mayat kekasihnya untuk yang tetakhir kalinya.


Dia menyerah kalah kepada sesuatu yang tak pernah dia akui keberadaannya, merebahkan diri, lalu pingsan di atas semak berduri.


***


"Eddy, ayo turun !"


Ajakan yang disertai senyum simpul di ujung kalimat itu membuat Edward Rodmeyer tak kuasa menolak. Pemilik senyum itu perlahan mulai mengganggu keningnya. Apalagi bila dibumbui dengan semua cerita yang keluar dari bibir Faizah.


"Ehmm ... gimana, ya ?" ada sedikit ragu dalam benak Edward Rodmeyer, kantor Clarissa Mae dianggapnya terlalu sepele, sesuatu yang kurang pas untuk menerima kemegahan sosoknya. "Edward Rodmeyer berkunjung ke kantor antah-berantah ? Well ... demi Sean !" dia membulatkan tekat untuk turun dengan resiko menjadi ajang tontonan mata manusia kelas teri.


Seperti paham pada apa yang tersimpan di dalam benak Edward Rodmeyer, Clarissa Mae memutuskan untuk mengalah.


"Yasudah ! Kamu di mobil aja. Tapi tunggu sebentar, aku mau nitip berkas untuk RSC."


Ada nafas bernuansa lega di dada Edward Rodmeyer, dia tidak harus turun dari mobilnya. Mirip perasaan seekor keong yang enggan keluar dari cangkangnya.


Dia pun akhirnya memilih melihat pinggul kerempeng Clarissa Mae dari arah belakang. Menyaksikan dua kaki kurus perempuan itu bergegas menembus pintu. Pemandangan yang sontak membuat matanya miris, "lelaki tak berguna !" keluhnya pada diri sendiri.


Entah kenapa tiba-tiba saja Edward Rodmeyer memutuskan untuk keluar dari dalam mobil. Dan tentu saja kemudian menjadi bahan tontonan hampir seluruh karyawan Clarissa Mae. Meski mata mereka menatap penuh decak kagum ke arahnya, tetap saja hal itu terasa merendahkan martabatnya, mata mereka adalah mata yang hanya pantas untuk melihat tukang siomay.

__ADS_1


Sopir pribadinya pun terkejut dengan keputusan bos nya itu. Melihat Edward Rodmeyer sebagai sosok halu yang bersandar di ujung kap depan mobilnya.


"Mana proposalnya, Mbak ?"


Clarissa Mae yang tiba-tiba saja berada di hadapannya itu membuat Poetri Maharani terbelalak. Menatap mata bosnya sejenak lalu memandang ke arah luar.


"Bareng siapa tuh, Bu ?"


"Teman."


"Teman apa 'teman' ?"


"Ngawur kamu, Ran ! Lihat baik-baik, itu yang namanya Edward Rodmeyer. Calon penguasa 'The Rodmeyer's'."


"Wow ... ganteng sih !" mata Poetri Maharani sejenak terpaku pada sosok lelaki gagah yang tengah bersandar diri di depan mobil, "Tapi ngeri !" sambungnya seraya bergidik.


"Mana ?"


"Apanya yang mana, Bu ?"


"Iya, Bu !" senyum menggoda terpancar dari wajah Poetri Maharani, jauh di dalam hatinya sedang bersyukur bisa melihat wajah Clarissa Mae kembali segar. "Ini !" tangannya menyodorkan dokumen sesuai permintaan, tapi matanya menatap lekat ke arah bungkil mata bosnya.


"Apaan sih, Mbak ?" balas Clarissa Mae. Senyum simpul segera disimpannya kembali. Menggantinya dengan kerlingan nakal, membuat Poetri Maharani semakin kelabakan karena kepo.


Kepo itu lalu berkembang biak menjadi penasaran saat Clarissa Mae membelakanginya, kemudian berjalan menghampiri Edward Rodmeyer. Dibacanya langkah Clarissa Mae, bahkan gemulai tangan bosnya itu diselidikinya, mencari bukti kehawatirannya. 'Lelaki berpenampilan menawan dan perempuan rapuh adalah mula dari sebuah eksploitasi.' itu dicamkannya dalam hati.


"Jangan menunduk, Bu ! Jangan lepaskan pandanganmu dari mata lelaki itu." bisik Poetri Maharani pada dirinya sendiri. "Iya, Bu ! Tetap begitu ! Jangan tersenyum. Tetaplah menjadi kulkas di hadapannya." lanjutnya semakin bersemangat.


"Nah ! Itu baru bu Clarissa ku ... Hihihihi ...." Poetri Maharani mengakhiri monolognya, ada rasa lega di dalam dadanya. Bosnya tidak jatuh cinta kepada Edward Rodmeyer, pesona lelaki itu hambar !


"Bu Clarissa memang hebaaat ! Hahahaha."


Pelukan mencegat langkah Clarissa Mae di tengah pintu. Menyambutnya dengan hangat. "Ibu harus tetap seperti tadi ! Jangan pernah jatuh cinta kepada orang seperti dia." lanjut Poetri Maharani sambil terus saja memeluk tubuh bosnya.

__ADS_1


Kemudian di hadapan mata para karyawan laki-laki, Clarissa Mae membalas pelukan Poetri Maharani. Merasa ada yang ganjil dengan pelukan mereka, mata para lelaki itu segera berpaling dengan desir miris.


"Kalau aku menerima cintanya, gimana ?" tanya Clarissa Mae saat mereka melepas pelukan.


"Ga mungkin !" cibir Poetri Maharani.


"Kami dalam masa perjodohan, Ran !"


Poetri Marani bungkam, pengakuan Clarissa Mae itu mengingatkannya kembali ke masa lalu. Rumah tangganya memang berasal dari proses perjodohan, dia paham betul betapa berat masa masa awal pernikahannya. Dia dan suaminya dipersatukan oleh niat baik, tanpa sedikitpun melibatkan rasa cinta.


"Semua terserah Ibu. Karena Ibu lah yang menjalani semuanya. Ibu juga boleh melihat keluarga saya sebagai bahan pertimbangan, karena kami juga melalui proses perjodohan."


Clarissa Mae melempar tatapannya ke wajah Poetri Maharani, mengamati perubahan garis wajah perempuan yang menemaninya berjalan menuju ruangannya itu dengan lebih teliti. Mendapati wajah asistennya itu stabil dan sorot matanya yang bebas, Clarissa Mae menyimpulkan bahwa Poetri Maharani adalah contoh wanita yang berbahagia dalam menjalani hidup berumah tangga.


Sejenak obrolan mereka terjeda, Clarissa Mae berusaha merapikan kembali meja kerjanya. Tentu segera dibantu oleh Poetri Maharani.


"Menurut pengelihatanku, kamu bahagia kok, Ran ! Anak-anakmu juga sehat, suamimu juga baik-baik saja." ucap Clarissa Mae saat tangannya meraih bendel terakhir yang terserak di atas mejanya.


"Mungkin semua mata akan melihatku seperti itu. Karena memang ku buat begitu. Kita akan terlihat seperti apa yang ingin kita tunjukkan, karena orang lain hanya bisa melihat topeng yang sedang kita pakai. Mereka takkan bisa melihat kedalaman hati seorang perempuan. Ingat loh, Bu ! Hati kita ini ibarat air, bisa berubah dalam segala bentuk dan rupa, bahkan bisa menguap lalu hilang bersama panas nya sinar kebencian."


Mendengar penjelasan itu, dada Clarissa Mae menjadi sedikit sesak. Di matanya, hati Edward Rodmeyer sedang terluka, sama seperti dirinya. Apa salahnya mencoba untuk menjalani perjodohan itu sedikit lebih dalam. Mungkin bisa sedikit saling meringankan.


"Saya akan jujur kepada Ibu tentang apa yang saya rasakan." lanjut Poetri Maharani. Dia menutup pintu ruangan, kemudian berdiri menatap kaca jendela.


"Setelah semua kekecewaan yang mendera hati saya secara bertubi-tubi, akhirnya saya memutuskan untuk menyerah ! Tak lagi berharap untuk berhagia dengan perasaan saya sendiri. Saya menyelipkan kebahagiaan saya pada kebahagiaan orang lain."


Clarissa Mae mendekat, lalu memegang pundak Poetri Maharani.


"Saya menyelipkannya ke dalam hati anak-anak saya, Bu ! Saya akan bahagia bila mereka bahagia. Itulah saya, Bu."


Jemari Clarissa Mae mengusap air yang mulai menetes dari mata asistennya itu. Dia memang sedang belajar untuk melepas semua keinginannya, melepas secuil ego yang masih sering menguasai hatinya. Dari airmata Poetri Maharani, Clarissa Mae mulai menata jantungnya. Agar luka karena panah cupid bisa segera sembuh, agar Vinnie-nya tak lagi memenuhi nafasnya.


"Bu Clarissa bisa saja melihat saya sebagai pembanding, tapi percayalah, Bu ! Butuh lebih dari ihlas untuk menjalani semua ini."

__ADS_1


Kemudian Poetri Maharani tersenyum. Hanya dia saja yang tahu makna senyum itu.


__ADS_2